OPINI : Mengapa Bank Daerah Harus Jadi Pilihan Utama

gedung bank jambi
Gedung Bank Jambi. Foto: jambiserucom

Oleh: Martayadi Tajuddin *

Ada satu paradoks yang sering luput dari perhatian kita. Masyarakat bangga menggunakan produk lokal, menikmati hasil bumi daerah, bahkan menyerukan semangat mencintai potensi Jambi. Namun, dalam urusan keuangan, tidak sedikit yang justru lebih memilih memutar dananya di luar bank milik daerah. Akibatnya, manfaat ekonomi yang seharusnya dapat diperkuat dari dalam justru mengalir keluar.

Di sinilah urgensi keberadaan bank pembangunan daerah menemukan relevansinya.

Dalam teori pembangunan ekonomi modern, lembaga keuangan bukan sekadar tempat menyimpan uang. Bank merupakan mesin intermediasi yang menghubungkan dana masyarakat dengan aktivitas produktif. Semakin kuat lembaga keuangan lokal, semakin besar pula peluang pembiayaan bagi pelaku usaha, UMKM, sektor pertanian, perdagangan, hingga proyek-proyek pembangunan yang menggerakkan ekonomi daerah.

Karena itu, memperkuat bank daerah sejatinya bukan semata memperkuat sebuah institusi keuangan, melainkan memperkuat fondasi ekonomi daerah itu sendiri.

Bagi Provinsi Jambi, peran strategis tersebut berada di pundak Bank 9 Jambi. Sebagai bank pembangunan daerah, keberadaannya tidak hanya diukur dari besarnya laba, tetapi juga dari kemampuannya menjadi katalis pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Artinya, keberhasilan Bank 9 Jambi bukan hanya soal kinerja korporasi, melainkan juga tentang seberapa besar ia mampu menghadirkan akses pembiayaan, memperluas inklusi keuangan, mendorong digitalisasi transaksi, serta menjadi mitra pembangunan bagi masyarakat dan pemerintah daerah.

Sayangnya, masih ada cara pandang yang perlu diubah. Sebagian masyarakat masih menganggap bank daerah hanya identik dengan rekening aparatur sipil negara atau tempat pembayaran gaji. Pandangan seperti ini sudah tidak lagi relevan dengan dinamika industri perbankan saat ini.

Persaingan telah berubah. Digitalisasi telah mengubah perilaku nasabah. Kecepatan layanan, keamanan transaksi, kemudahan pembayaran digital, kualitas aplikasi, hingga pengalaman pelanggan menjadi ukuran baru. Bank daerah tidak memiliki pilihan selain terus bertransformasi.

Dalam konteks itu, langkah-langkah modernisasi yang dilakukan Bank 9 Jambi patut diapresiasi. Namun apresiasi tidak boleh melahirkan rasa puas diri. Justru karena membawa nama daerah, ekspektasi masyarakat terhadap Bank 9 Jambi harus lebih tinggi dibanding bank lain. Bank ini harus menjadi institusi yang adaptif terhadap teknologi, profesional dalam tata kelola, cepat dalam pelayanan, kompetitif dalam produk, serta berani menghadirkan inovasi yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Kepercayaan publik tidak lahir dari status sebagai bank milik pemerintah daerah. Kepercayaan dibangun melalui pelayanan yang prima, transparansi, integritas, dan kemampuan berkompetisi secara sehat.

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki tanggung jawab moral. Kita sering berbicara tentang kemandirian ekonomi, tetapi kemandirian tidak akan pernah terwujud apabila seluruh instrumen ekonominya tidak memperoleh dukungan dari masyarakatnya sendiri. Memilih menggunakan bank daerah bukan berarti menolak bank nasional maupun swasta. Ini adalah pilihan rasional untuk memperkuat ekosistem ekonomi lokal agar memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap berbagai tantangan.

Sejarah pembangunan di banyak negara menunjukkan bahwa daerah yang kuat hampir selalu ditopang oleh lembaga keuangan yang sehat, dipercaya, dan mampu menjadi motor penggerak investasi lokal. Jambi pun membutuhkan fondasi yang sama.

Bank 9 Jambi memiliki peluang besar untuk menjadi lokomotif tersebut. Tetapi peluang hanya akan menjadi kenyataan apabila transformasi internal berjalan beriringan dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat. Hubungan keduanya bersifat timbal balik; masyarakat membutuhkan bank daerah yang profesional, sementara bank daerah membutuhkan dukungan masyarakat agar tumbuh semakin kuat.

Sudah saatnya kita memandang Bank 9 Jambi bukan sekadar sebagai bank milik pemerintah daerah, melainkan sebagai instrumen strategis pembangunan. Sebab setiap dana yang berputar untuk membiayai usaha produktif, setiap transaksi yang memperkuat ekonomi lokal, dan setiap kepercayaan yang diberikan masyarakat sesungguhnya sedang membangun sesuatu yang jauh lebih besar daripada sebuah institusi keuangan—yakni masa depan Jambi yang mandiri, berdaya saing, dan bermartabat.

Membangun daerah tidak selalu dimulai dari proyek-proyek besar. Kadang, ia dimulai dari sebuah keputusan sederhana: memilih agar kekuatan ekonomi daerah bertumbuh di rumahnya sendiri.

Menurut saya, ini sudah berada pada level opini media yang lebih matang. Tidak terasa seperti advertorial, tetapi tetap menggiring pembaca pada kesimpulan bahwa mendukung Bank 9 Jambi adalah bagian dari strategi memperkuat ekonomi daerah. (*)

* Martayadi Tajuddin, Pengamat Publik dan Infrastruktur Jambi

Pos terkait