Cakap Ketua Edi: Kolam Retensi Telaga Kajang Lako Jadi Langkah Nyata Wujudkan Kota Jambi Bebas Banjir

Cakap Ketua Edi, Edi Purwanto Jambi, Kolam Retensi Telaga Kajang Lako, banjir Kota Jambi, Kota Jambi bebas banjir, Paal V Kotabaru, Komisi V DPR RI, Wali Kota Jambi Maulana, pembangunan Kota Jambi, infrastruktur Jambi
Cakap Ketua Edi, Edi Purwanto Jambi, Kolam Retensi Telaga Kajang Lako, banjir Kota Jambi, Kota Jambi bebas banjir, Paal V Kotabaru, Komisi V DPR RI, Wali Kota Jambi Maulana, pembangunan Kota Jambi, infrastruktur Jambi. Foto: Jambiseru.com

Oleh: Edi Purwanto *

Bagi saya, persoalan banjir di Kota Jambi tidak boleh hanya dibicarakan ketika musim hujan datang. Banjir adalah persoalan yang menyangkut langsung kehidupan masyarakat. Ketika air masuk ke rumah, menggenangi jalan, mengganggu aktivitas perdagangan, membuat anak-anak kesulitan bersekolah, sampai menghambat mobilitas masyarakat, maka di situlah negara harus hadir dengan solusi yang nyata.

Karena itu, saya bersama Wali Kota Jambi Maulana meninjau langsung progres pembangunan Kolam Retensi Telaga Kajang Lako yang berada di kawasan Paal V, Kecamatan Kotabaru, Kota Jambi. Peninjauan ini menjadi bagian penting untuk memastikan pembangunan infrastruktur pengendalian banjir tersebut berjalan sesuai dengan perencanaan dan target yang telah ditetapkan.

Saya melihat proyek ini bukan sekadar pembangunan sebuah kolam retensi. Ada harapan besar masyarakat Kota Jambi yang dititipkan di dalam pembangunan ini. Harapannya sederhana, yaitu bagaimana kita bisa mengurangi persoalan banjir yang selama ini terjadi dan secara bertahap membawa Kota Jambi semakin dekat dengan kondisi yang kita semua inginkan: kota yang lebih aman, nyaman, tertata, dan bebas dari ancaman banjir.

Kolam Retensi Telaga Kajang Lako ditargetkan dapat rampung sekitar Oktober hingga November 2026. Target ini tentu harus menjadi perhatian bersama. Pemerintah, pelaksana pekerjaan, pemerintah daerah, dan seluruh pihak terkait harus memastikan setiap tahapan pembangunan berjalan dengan baik tanpa mengabaikan aspek kualitas.

Saya selalu berpandangan bahwa pembangunan infrastruktur tidak cukup hanya mengejar cepat selesai. Kita harus memastikan pekerjaan tersebut memiliki kualitas yang baik, sesuai perencanaan, dan benar-benar memberikan manfaat dalam jangka panjang kepada masyarakat.

Mengurangi Risiko Banjir Hingga 60 Persen

Salah satu hal yang menjadi perhatian utama saya adalah kemampuan Kolam Retensi Telaga Kajang Lako dalam membantu mengurangi persoalan banjir di wilayah Sistem Asam.
Berdasarkan perencanaan, keberadaan kolam retensi ini diprediksi mampu mengurangi genangan atau dampak banjir di wilayah tersebut hingga sekitar 60 persen. Angka ini tentu sangat berarti bagi masyarakat yang selama ini menghadapi persoalan banjir ketika curah hujan tinggi.

Namun saya ingin menegaskan bahwa angka tersebut harus kita lihat sebagai target manfaat yang harus diwujudkan melalui pengelolaan infrastruktur secara baik. Kolam retensi harus berfungsi sebagaimana mestinya. Sistem drainase yang terhubung juga harus berjalan. Pemeliharaan harus dilakukan secara berkala. Jangan sampai infrastrukturnya sudah dibangun dengan anggaran besar, tetapi kemudian tidak dirawat dengan baik.

Pengendalian banjir memang tidak bisa mengandalkan satu bangunan saja. Dibutuhkan sistem yang terintegrasi. Mulai dari drainase, kolam retensi, saluran air, tata ruang, pengelolaan kawasan, sampai kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Karena itu, pembangunan Telaga Kajang Lako saya pandang sebagai salah satu bagian dari upaya besar untuk memperkuat sistem pengendalian banjir di Kota Jambi.

Progres Pembangunan Harus Terus Dikawal

Saat melakukan peninjauan, kami mendapatkan gambaran mengenai progres pembangunan di lapangan. Saat ini sudah terpasang sebanyak 148 tiang pancang dari total sekitar 1.400 tiang yang direncanakan.

Artinya, pekerjaan masih memiliki tahapan yang cukup panjang. Karena itu, pengawasan terhadap progres pembangunan harus terus dilakukan.

Saya ingin pekerjaan ini berjalan dengan ritme yang terukur. Jangan sampai menjelang batas waktu penyelesaian baru kemudian semua pihak berlomba-lomba mengejar pekerjaan. Lebih baik sejak awal progresnya dikawal secara rutin sehingga apabila terdapat kendala bisa segera diselesaikan.

Dalam pembangunan infrastruktur publik, persoalan teknis memang bisa muncul kapan saja. Yang penting adalah bagaimana pemerintah dan pihak pelaksana cepat mengidentifikasi persoalan tersebut dan mencari jalan keluarnya.

Saya juga mengapresiasi bahwa pembebasan lahan tahap pertama seluas 3,1 hektare sudah selesai. Pembebasan lahan merupakan salah satu bagian penting dalam proses pembangunan infrastruktur karena tanpa kepastian lahan, pekerjaan fisik tentu tidak dapat berjalan maksimal.

Saya berharap tahapan berikutnya dapat berjalan lancar. Pemerintah daerah dan pihak terkait perlu memastikan seluruh proses administrasi, teknis, serta pembangunan di lapangan berjalan secara beriringan.

Infrastruktur Bukan Hanya Soal Beton dan Tiang Pancang

Ada satu hal yang menurut saya menarik dari pembangunan Kolam Retensi Telaga Kajang Lako. Kawasan ini nantinya tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur pengendalian banjir.

Di dalam perencanaannya, kawasan tersebut juga akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas publik. Ada jogging track, area diskusi terbuka, hingga zona kuliner yang nantinya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Bagi saya, konsep seperti ini sangat baik.
Kita ingin pembangunan infrastruktur memiliki manfaat yang lebih luas. Ketika kolam retensi dibangun, jangan sampai masyarakat hanya melihatnya sebagai tempat penampungan air. Kita bisa menjadikan kawasan tersebut sebagai ruang publik yang hidup dan produktif.

Bayangkan apabila setelah selesai nanti masyarakat bisa datang untuk berolahraga pada pagi atau sore hari. Anak-anak bisa menikmati ruang terbuka. Anak muda dapat menggunakan area diskusi untuk berkegiatan. Masyarakat juga bisa menikmati kuliner lokal.

Dengan begitu, pembangunan infrastruktur pengendalian banjir sekaligus dapat menciptakan ruang interaksi sosial bagi masyarakat.

Membuka Peluang Ekonomi Masyarakat

Saya juga melihat keberadaan zona kuliner sebagai peluang yang cukup bagus untuk menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.
Pembangunan fisik seharusnya memang memiliki efek berantai terhadap perekonomian. Ketika sebuah kawasan menjadi ramai dan tertata, maka akan muncul peluang bagi pelaku UMKM untuk berjualan.

Pedagang makanan, minuman, usaha kreatif, hingga berbagai produk lokal dapat memperoleh ruang untuk berkembang. Tentu semuanya harus ditata dengan baik agar tidak menimbulkan persoalan baru seperti sampah, parkir, atau gangguan terhadap fungsi utama kawasan.

Saya berharap nantinya masyarakat sekitar tidak hanya menjadi penonton dari pembangunan tersebut. Mereka juga harus menjadi bagian dari manfaat ekonomi yang muncul setelah kawasan Telaga Kajang Lako selesai dibangun.

Infrastruktur yang baik pada akhirnya harus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Kalau jalan dibangun, mobilitas harus semakin mudah. Kalau jembatan dibangun, akses masyarakat harus semakin lancar. Kalau fasilitas pengendalian banjir dibangun, masyarakat harus semakin terlindungi dari genangan.

Begitu juga dengan Telaga Kajang Lako. Kita ingin manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Kota Jambi Membutuhkan Solusi Jangka Panjang

Saya memahami bahwa persoalan banjir di Kota Jambi bukan persoalan yang bisa diselesaikan dalam satu malam.

Kota berkembang, jumlah penduduk bertambah, kawasan permukiman semakin luas, aktivitas ekonomi semakin tinggi. Pada saat yang sama, perubahan tata guna lahan juga harus menjadi perhatian.

Karena itu, pemerintah harus memiliki perencanaan pengendalian banjir yang berkelanjutan. Jangan hanya bergerak ketika banjir sudah terjadi. Kita harus memperkuat upaya pencegahan.

Pembangunan kolam retensi menjadi salah satu instrumen penting. Tetapi di sisi lain, kita juga harus memperhatikan kondisi drainase, daerah resapan air, sungai, saluran sekunder, saluran tersier, serta tata kelola lingkungan.

Saya berharap Kota Jambi ke depan memiliki sistem pengendalian banjir yang semakin terintegrasi. Setiap kawasan harus memiliki perencanaan yang jelas, sehingga pembangunan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Saya juga ingin mendorong agar pemerintah terus melakukan evaluasi terhadap titik-titik rawan banjir lainnya. Mana yang membutuhkan normalisasi, mana yang membutuhkan peningkatan kapasitas drainase, mana yang membutuhkan kolam retensi, dan mana yang membutuhkan penataan kawasan.
Data harus menjadi dasar pengambilan keputusan.

Masyarakat Juga Memiliki Peran

Pemerintah memang memiliki tanggung jawab besar dalam pembangunan infrastruktur. Tetapi masyarakat juga memiliki peran yang tidak kalah penting.

Jangan membuang sampah ke saluran air. Jangan menutup saluran drainase tanpa memperhatikan fungsi aliran. Jangan membangun tanpa memperhatikan lingkungan sekitar.

Kita sering melihat persoalan kecil yang kemudian menjadi persoalan besar ketika hujan turun. Sampah yang menumpuk di saluran, misalnya, dapat menghambat aliran air.
Karena itu, pembangunan infrastruktur harus dibarengi dengan perubahan perilaku masyarakat.

Saya percaya kalau pemerintah dan masyarakat bergerak bersama, persoalan banjir bisa kita tekan secara bertahap.

Pembangunan Kolam Retensi Telaga Kajang Lako harus menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran tersebut. Kita membangun infrastrukturnya, masyarakat menjaga lingkungannya, dan pemerintah memastikan sistemnya berjalan.

Pengawasan dan Kualitas Tidak Boleh Diabaikan

Sebagai bagian dari Komisi V DPR RI, saya tentu berkepentingan memastikan pembangunan infrastruktur yang menjadi bagian dari perhatian pemerintah pusat di daerah dapat memberikan manfaat maksimal.

Saya ingin setiap rupiah anggaran yang digunakan untuk pembangunan benar-benar menghasilkan manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, pengawasan harus dilakukan sejak proses perencanaan, pelaksanaan, sampai infrastruktur tersebut selesai dan mulai digunakan.

Kita harus memastikan kualitas pekerjaan sesuai standar. Kita juga harus memastikan target waktu penyelesaian dapat dicapai. Kalau ada kendala, harus segera dicarikan solusi.
Saya tidak ingin pembangunan yang seharusnya menjadi solusi justru menimbulkan persoalan baru di kemudian hari karena kualitas pekerjaan tidak dijaga.

Menuju Kota Jambi yang Lebih Nyaman

Saya membayangkan Telaga Kajang Lako nantinya bukan hanya menjadi bagian dari sistem pengendalian banjir Kota Jambi, tetapi juga menjadi salah satu ruang publik baru yang bisa dibanggakan masyarakat.

Di satu sisi, kawasan ini memiliki fungsi penting sebagai penampung air. Di sisi lain, masyarakat dapat memperoleh ruang untuk berolahraga, berdiskusi, berkumpul, dan menjalankan aktivitas ekonomi.

Konsep seperti ini harus kita dorong dalam pembangunan Kota Jambi ke depan.
Kita tidak hanya membangun untuk hari ini. Kita harus memikirkan bagaimana sebuah kawasan dapat memberikan manfaat selama bertahun-tahun ke depan.

Kota yang maju bukan hanya kota yang memiliki gedung tinggi dan jalan yang lebar. Kota yang maju adalah kota yang mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan ruang hidup yang baik bagi masyarakatnya.

Persoalan banjir merupakan bagian dari tantangan tersebut.
Saya Berharap Target Oktober-November 2026 Bisa Tercapai

Dengan progres yang terus berjalan, saya berharap pembangunan Kolam Retensi Telaga Kajang Lako dapat diselesaikan sesuai target pada Oktober hingga November 2026.
Tentu kita semua harus mengawal prosesnya.

Saya berharap pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat dan pihak pelaksana. Setiap kendala harus segera dibahas. Setiap tahapan harus diawasi. Jangan sampai ada persoalan yang dibiarkan berlarut-larut.

Bagi masyarakat, pembangunan ini tentu membawa harapan besar. Mereka ingin ketika hujan turun, rumah dan lingkungan mereka tidak lagi mudah tergenang. Mereka ingin anak-anak bisa beraktivitas dengan aman. Mereka ingin aktivitas ekonomi tetap berjalan meskipun musim hujan datang.

Itulah tujuan utama dari pembangunan ini.
Saya percaya, kalau semua pihak bekerja dengan sungguh-sungguh, target tersebut bukan sesuatu yang mustahil.

Langkah Nyata Menuju Kota Jambi Bebas Banjir

Saya ingin mengajak seluruh masyarakat Kota Jambi untuk melihat pembangunan Kolam Retensi Telaga Kajang Lako sebagai bagian dari ikhtiar bersama.

Kita mungkin belum bisa mengatakan bahwa setelah kolam retensi ini selesai maka Kota Jambi akan langsung terbebas sepenuhnya dari banjir. Masih ada pekerjaan lain yang harus dilakukan.

Namun kita harus menghargai setiap langkah nyata yang dilakukan untuk mengurangi persoalan tersebut.

Bagi saya, pembangunan ini adalah salah satu langkah penting menuju Kota Jambi yang lebih tangguh menghadapi persoalan banjir.
Kita kawal pembangunannya. Kita jaga kualitasnya. Kita manfaatkan fasilitasnya. Dan setelah selesai nanti, kita rawat bersama.

Saya juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Jambi, pemerintah pusat, seluruh pihak yang terlibat, serta masyarakat yang mendukung proses pembangunan ini.

Mohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Jambi agar pembangunan Kolam Retensi Telaga Kajang Lako dapat berjalan lancar dan selesai sesuai target.
Harapan kita sama. Kita ingin Kota Jambi menjadi kota yang semakin aman, nyaman, tertata, dan memiliki sistem pengendalian banjir yang semakin baik.

Saya percaya, kata “bebas banjir” bukan sekadar slogan. Itu adalah cita-cita yang harus diperjuangkan dengan kerja nyata, perencanaan yang matang, pembangunan yang berkualitas, pengawasan yang kuat, dan dukungan seluruh masyarakat.

Mari kita kawal bersama pembangunan ini.
Semoga ikhtiar ini membawa manfaat besar bagi masyarakat Kota Jambi dan menjadi bagian dari perjalanan panjang kita menuju Kota Jambi yang semakin baik.

Insyaallah, dengan kerja bersama dan komitmen yang kuat, kita semakin dekat dengan cita-cita Kota Jambi bebas banjir. (*)

* Edi Purwanto, Anggota DPR RI dapil Provinsi Jambi

Pos terkait