Kesan Nonton Film Marvel Thunderbolts (2025): Tim Antihero yang Kacau, Emosional, dan Diam-Diam Jadi Salah Satu Film MCU Paling Menarik

img 20260822 wa0000
Kesan Nonton Film Marvel Thunderbolts (2025): Tim Antihero yang Kacau, Emosional, dan Diam-Diam Jadi Salah Satu Film MCU Paling Menarik. Foto: AI/jambiserucom

JAMBI, Jambiseru.com – Kesan nonton film Marvel Thunderbolts (2025)* kali ini cukup menarik karena film ini menawarkan sesuatu yang sedikit berbeda dari formula superhero Marvel yang selama ini kita kenal. Kalau biasanya penonton disuguhi pahlawan dengan reputasi besar, kostum ikonik, dan misi menyelamatkan dunia, film ini justru mengumpulkan sekumpulan karakter yang sebagian besar punya masalah masing-masing.

Ada Yelena Belova, Bucky Barnes, Red Guardian, Ghost, Taskmaster, John Walker, dan kemudian Robert Reynolds atau Sentry. Mereka bukan kelompok yang terlihat cocok untuk menjadi sebuah tim. Mereka memiliki kepribadian berbeda, masa lalu yang rumit, serta kepentingan masing-masing.

Justru ketidakcocokan itulah yang menjadi daya tarik terbesar Thunderbolts.

Film ini dirilis di bioskop pada 2 Mei 2025 dengan durasi sekitar 2 jam 6 menit. Film tersebut disutradarai Jake Schreier dan menampilkan Florence Pugh, Sebastian Stan, David Harbour, Wyatt Russell, Hannah John-Kamen, Julia Louis-Dreyfus, Olga Kurylenko, serta Lewis Pullman.

Marvel sendiri menggambarkan kelompok tersebut sebagai tim antihero yang tidak biasa. Mereka terseret ke dalam jebakan yang dibuat Valentina Allegra de Fontaine dan harus menjalankan sebuah misi berbahaya yang pada akhirnya memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu masing-masing.

Buat saya, premis ini terasa lebih manusiawi dibanding sekadar cerita tentang siapa yang paling kuat.

Bukan Avengers, Tapi Justru Itu Menarik

Salah satu hal yang langsung terasa ketika menonton Thunderbolts adalah film ini tidak berusaha menjadikan kelompok tersebut sebagai Avengers versi baru sejak menit pertama.

Mereka bahkan tidak terlihat seperti calon pahlawan.

Ada karakter yang punya sejarah sebagai pembunuh, ada yang memiliki masalah dengan identitasnya, ada yang masih membawa luka masa lalu, dan ada pula yang jelas-jelas lebih nyaman bekerja sendiri.

Yelena Belova menjadi salah satu pusat cerita. Karakter yang diperankan Florence Pugh ini sudah dikenal sejak Black Widow, tetapi di Thunderbolts sisi emosionalnya mendapatkan ruang lebih besar.

Yelena bukan sekadar perempuan yang jago bertarung. Ia terlihat seperti seseorang yang sedang mencari alasan untuk terus melangkah.
Di sinilah film mulai terasa berbeda.

Aksi tetap ada, tetapi karakter tidak sekadar dipakai sebagai mesin untuk menghasilkan adegan perkelahian.

Cerita yang Sederhana tetapi Punya Emosi

Secara garis besar, cerita Thunderbolts sebenarnya tidak terlalu rumit.

Sekelompok karakter yang berada dalam situasi sulit dikumpulkan oleh Valentina Allegra de Fontaine. Mereka kemudian menemukan bahwa misi yang diberikan kepada mereka ternyata jauh lebih berbahaya dari perkiraan.

Masalah menjadi semakin besar ketika mereka berhadapan dengan Robert Reynolds atau Sentry.
Yang menarik, film tidak hanya menjadikan Sentry sebagai sosok dengan kekuatan besar. Konflik yang muncul juga berhubungan dengan sisi gelap karakter tersebut.

Di titik ini, film mulai membawa penonton ke wilayah yang lebih emosional.

Bagi saya, Thunderbolts bekerja cukup baik ketika berhenti menjadi film superhero dan berubah menjadi cerita tentang sekumpulan orang yang sama-sama merasa tidak memiliki tempat.

Mereka berbeda, tetapi mempunyai satu kesamaan: semuanya sedang mencari cara untuk menghadapi dirinya sendiri.

Florence Pugh Jadi Salah Satu Kekuatan Terbesar

Kalau harus memilih aktor yang paling menonjol, saya akan menyebut Florence Pugh sebagai salah satu yang paling kuat.

Sebagai Yelena Belova, Pugh mampu membuat karakter ini terlihat tangguh sekaligus rapuh.
Ia bisa terlihat sangat meyakinkan ketika berada dalam adegan aksi, tetapi ekspresi dan gesturnya juga mampu menunjukkan sisi emosional Yelena.

Hal tersebut bukan sekadar pendapat pribadi. Sejumlah kritik terhadap film juga menempatkan Pugh sebagai salah satu penampilan paling menonjol. Rotten Tomatoes mencatat konsensus kritikus yang menyebut Pugh sebagai standout dan menilai film ini berhasil menyegarkan kembali formula petualangan MCU.

Artikel rangkuman reaksi awal Rotten Tomatoes juga mencatat banyak kritikus memuji penampilan Pugh, khususnya karena ia memberikan bobot emosional yang kuat kepada Yelena.

Menurut saya, itulah yang membuat Yelena mudah menjadi karakter favorit dalam film.

Sebastian Stan dan Bucky Barnes

Bucky Barnes yang diperankan Sebastian Stan juga menjadi bagian penting dari kelompok ini.
Bucky bukan karakter baru di MCU. Penonton sudah mengenalnya sejak era Captain America, sehingga kehadirannya memberikan semacam jembatan antara generasi lama dan cerita baru.
Menariknya, Bucky di sini tidak selalu tampil sebagai karakter yang paling banyak bicara.

Ia lebih terlihat seperti seseorang yang sudah melewati banyak hal dan sekarang harus menentukan ke mana hidupnya akan diarahkan.
Sebastian Stan berhasil membawa sisi serius tersebut tanpa membuat Bucky terasa terlalu berat.

Interaksinya dengan anggota tim lain juga cukup menarik karena Bucky sering menjadi semacam penyeimbang ketika situasi mulai kacau.

Red Guardian, Sumber Kekacauan Sekaligus Komedi

Kalau film mulai terasa terlalu serius, David Harbour sebagai Alexei Shostakov atau Red Guardian datang membawa energi berbeda.
Red Guardian memang salah satu karakter yang paling mudah mencuri perhatian.
Ia percaya diri, banyak bicara, dan terkadang terlalu bersemangat.

Namun, di balik tingkahnya yang lucu, ada hubungan emosional dengan Yelena yang membuat karakter ini tidak sekadar menjadi pelawak dalam kelompok.

David Harbour juga mendapat perhatian dari kritik karena kemampuan komedinya. Rotten Tomatoes mencatat sejumlah ulasan memuji timing komedi Harbour dalam film tersebut.
Bagi saya, kehadiran Red Guardian penting karena membuat dinamika tim menjadi lebih hidup.

Bayangkan kalau seluruh anggota kelompok berbicara dengan nada serius sepanjang film. Kemungkinan besar suasananya akan terasa terlalu berat.

Red Guardian membuat film memiliki ruang untuk bernapas.

John Walker Tidak Mudah Disukai, Tetapi Menarik

Wyatt Russell kembali sebagai John Walker atau U.S. Agent.

Karakter ini memang tidak dibuat agar penonton langsung menyukainya.

Ada kesan arogan dan keras kepala yang masih melekat pada Walker. Namun, justru karena itulah interaksinya dengan anggota tim lain menjadi menarik.

Walker bukan karakter sempurna.
Ia memiliki ego dan cara berpikir sendiri. Ketika dimasukkan ke dalam kelompok yang sudah penuh karakter sulit, benturan hampir tidak mungkin dihindari.

Bagi saya, dinamika semacam ini membuat Thunderbolts terasa lebih seperti film tentang sekelompok manusia dengan masalah masing-masing daripada sekadar film superhero.

Ghost dan Taskmaster

Hannah John-Kamen kembali memerankan Ava Starr atau Ghost, sementara Olga Kurylenko memainkan Antonia Dreykov atau Taskmaster. Keduanya menjadi bagian dari kelompok yang dikumpulkan dalam cerita.

Ghost memiliki kemampuan yang membuatnya berbeda dari anggota tim lain. Namun, karakter ini tidak hanya digunakan sebagai pelengkap adegan aksi.

Taskmaster juga membawa sejarah tersendiri dari Black Widow.

Menariknya, Thunderbolts memberikan kesempatan kepada karakter-karakter yang sebelumnya berada di pinggir cerita MCU untuk mendapatkan ruang yang lebih besar.
Itulah salah satu hal yang saya suka.

Marvel tidak selalu harus memperkenalkan karakter baru untuk membuat sebuah film terasa baru. Kadang karakter lama yang belum mendapatkan ruang cukup justru bisa menghasilkan cerita yang menarik.

Lewis Pullman sebagai Bob Reynolds atau Sentry

Salah satu karakter baru yang paling menarik adalah Bob Reynolds yang diperankan Lewis Pullman.

Kehadirannya membuat arah cerita berubah.
Bob bukan sekadar karakter yang memiliki kekuatan besar. Ada sisi misterius yang membuat penonton bertanya-tanya mengenai siapa sebenarnya dia dan apa yang akan terjadi ketika kekuatan tersebut muncul.

Lewis Pullman juga mendapatkan banyak pujian dari kritik.

Rotten Tomatoes mencatat sejumlah ulasan awal menempatkan Pullman sebagai salah satu penampil yang mencuri perhatian karena mampu memainkan karakter dengan sisi yang kompleks dan emosional.

Menurut saya, inilah salah satu keputusan casting yang cukup tepat.

Karakter seperti Bob membutuhkan aktor yang bisa memperlihatkan sisi lemah sekaligus sisi mengancam tanpa membuat perubahannya terasa terlalu tiba-tiba.

Julia Louis-Dreyfus sebagai Valentina

Julia Louis-Dreyfus kembali sebagai Valentina Allegra de Fontaine.
Karakter ini menarik karena ia bukan tipe villain yang turun langsung ke medan perang dan menghajar semua orang.

Valentina lebih banyak bermain melalui strategi, kekuasaan, dan manipulasi.
Ia memiliki posisi yang membuat karakter-karakter lain berada dalam situasi sulit.

Kehadirannya membuat penonton mempertanyakan apakah kelompok tersebut benar-benar bekerja untuk tujuan yang baik atau hanya dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu.
Ini menjadi salah satu elemen politik dan konspirasi yang cukup membantu cerita.

Aksi Thunderbolts Tidak Berlebihan

Kalau bicara adegan aksi, Thunderbolts menurut saya berada di posisi yang cukup seimbang.
Film ini memang memiliki pertarungan besar, tetapi tidak setiap menit diisi ledakan.
Ada ruang untuk dialog dan perkembangan karakter.

Beberapa kritik awal bahkan memuji koreografi dan adegan aksinya. Rotten Tomatoes mencatat sejumlah ulasan yang menyebut film ini memiliki rangkaian aksi kuat dan penggunaan efek visual yang efektif.

Hal tersebut menjadi nilai tambah.
Film superhero akan cepat melelahkan kalau setiap konflik selalu diselesaikan dengan ledakan yang lebih besar daripada adegan sebelumnya.

Thunderbolts lebih menarik ketika aksi digunakan untuk memperkuat karakter.

Humor yang Tidak Terlalu Mengganggu

Marvel sering mendapat kritik karena terlalu banyak memasukkan humor ke dalam film superhero.

Menurut saya, Thunderbolts relatif berhasil mengendalikan hal tersebut.

Humornya memang masih ada, terutama melalui Red Guardian. Namun, tidak semua adegan serius dipaksa menjadi bahan lelucon.
Beberapa reaksi awal juga menilai film ini memiliki humor yang cukup untuk memberikan jeda dari tema yang lebih gelap.

Buat saya, keseimbangan ini penting.
Ketika cerita sedang membahas persoalan serius, penonton diberi kesempatan untuk merasakan emosinya.

Ketika suasana terlalu berat, karakter seperti Red Guardian membantu mencairkannya.

Film Marvel yang Lebih Manusiawi

Inilah kesan terbesar saya setelah menonton Thunderbolts.

Film ini sebenarnya tidak terlalu sibuk membicarakan siapa yang paling kuat.
Yang lebih sering ditampilkan adalah bagaimana orang-orang dengan masa lalu buruk mencoba mencari tempat.

Mereka bukan kelompok sempurna.
Mereka bukan pahlawan ideal.
Mereka bahkan belum tentu saling menyukai.
Namun, perlahan mereka mulai menyadari bahwa mereka membutuhkan satu sama lain.
Konsep tersebut membuat judul Thunderbolts terasa menarik.

Kelompok ini tidak terbentuk karena semuanya memiliki tujuan yang sama sejak awal. Mereka terbentuk karena keadaan memaksa mereka bekerja sama.

Track Record Thunderbolts* Setelah Dirilis

Dari sisi penerimaan, Thunderbolts mempunyai track record yang cukup bagus.

Rotten Tomatoes mencatat film ini memperoleh 88 persen Tomatometer dari 383 ulasan kritikus dan 93 persen Popcornmeter dari lebih dari 10.000 rating terverifikasi pada data yang tersedia.

Angka tersebut menunjukkan bahwa film mendapatkan respons positif, terutama dibandingkan sejumlah proyek MCU yang sebelumnya memperoleh reaksi lebih beragam.
Film ini juga memiliki nilai penting dalam perjalanan MCU karena memperkenalkan kelompok karakter yang tidak biasa sebagai sebuah tim.

Menariknya, halaman resmi Marvel sekarang menampilkan film tersebut sebagai The New Avengers, sementara Thunderbolts merupakan judul yang dikenal ketika film dirilis.

Perubahan identitas tersebut membuat film ini semakin menarik untuk dilihat sebagai bagian dari perkembangan MCU.

Biografi Singkat Florence Pugh

Florence Pugh merupakan aktris Inggris yang dikenal melalui film-film seperti Lady Macbeth, Midsommar, Little Women, Black Widow, dan berbagai proyek besar lainnya.

Di MCU, ia memerankan Yelena Belova.
Karakter Yelena memberikan kesempatan kepada Pugh untuk menggabungkan kemampuan akting drama dengan adegan aksi.
Dalam Thunderbolts, kemampuan tersebut terasa semakin matang.

Ia tidak hanya tampil sebagai karakter yang kuat secara fisik, tetapi juga membawa beban emosional yang menjadi salah satu inti cerita.

Biografi Singkat Sebastian Stan

Sebastian Stan adalah aktor kelahiran Romania-Amerika yang paling dikenal oleh penonton global melalui perannya sebagai Bucky Barnes atau Winter Soldier di MCU.

Bucky menjadi salah satu karakter yang perjalanan ceritanya sangat panjang.
Dari seorang prajurit yang kehilangan kendali atas dirinya hingga menjadi karakter yang berusaha menentukan hidupnya sendiri, perjalanan Bucky memberikan latar emosional yang kuat.

Di Thunderbolts, pengalaman panjang tersebut menjadi modal penting bagi karakter Bucky.

Biografi Singkat David Harbour

David Harbour dikenal luas melalui Stranger Things dan berbagai film layar lebar.
Dalam MCU, ia memainkan Alexei Shostakov atau Red Guardian.

Karakter ini menjadi salah satu sumber humor utama dalam Thunderbolts.

David Harbour memiliki kemampuan komedi yang kuat, tetapi juga mampu membawa sisi emosional ketika cerita membutuhkan.

Biografi Singkat Lewis Pullman

Lewis Pullman adalah aktor Amerika yang juga dikenal melalui sejumlah film dan serial televisi.
Di Thunderbolts, ia memainkan Robert Reynolds atau Sentry.

Peran ini menjadi tantangan karena karakter tersebut membutuhkan kombinasi antara sisi manusiawi, ketidakpastian, dan kekuatan superhero.

Penampilannya menjadi salah satu hal yang banyak mendapat perhatian dari kritik film.

Kekurangan Thunderbolts

Walaupun saya cukup menikmati film ini, tentu ada beberapa kekurangan.
Pertama, film tetap terasa seperti bagian dari MCU.

Ada sejumlah koneksi dengan cerita yang lebih besar sehingga penonton yang tidak mengikuti film-film sebelumnya mungkin tidak mendapatkan pengalaman yang sama.
Kedua, beberapa bagian cerita terasa cukup formulaik.

Ada pola yang sebenarnya sudah sering digunakan dalam film superhero: karakter bermasalah dikumpulkan, konflik muncul, kemudian mereka perlahan menjadi sebuah keluarga.

Bedanya, Thunderbolts berhasil mengemas formula tersebut dengan karakter yang cukup kuat.

Ketiga, beberapa bagian awal terasa sedikit lambat.

Kritik terhadap pacing juga muncul dalam rangkuman ulasan Rotten Tomatoes, yang mencatat bahwa dua babak awal dinilai bisa lebih ketat sebelum film mendapatkan momentum lebih kuat pada bagian akhir.
Namun, menurut saya kekurangan tersebut tidak sampai membuat film kehilangan daya tarik.

Apakah Thunderbolts* Layak Ditonton?

Jawaban saya: layak, terutama bagi penggemar MCU yang menyukai cerita karakter.
Kalau Anda mencari film superhero yang hanya mengandalkan pertarungan besar dan ledakan, mungkin film ini bukan pilihan paling tepat.

Namun, kalau Anda menyukai cerita tentang karakter yang tidak sempurna, hubungan antartokoh, humor yang cukup, serta aksi yang tetap kuat, Thunderbolts cukup memuaskan.
Film ini juga menjadi kesempatan untuk melihat karakter-karakter yang sebelumnya hanya menjadi bagian pendukung mendapatkan panggung lebih besar.

Kesimpulan Kesan Nonton Film Thunderbolts

Setelah menonton Thunderbolts (2025)*, saya mendapatkan kesan bahwa Marvel sedang mencoba kembali ke formula sederhana: kumpulkan karakter menarik, berikan konflik yang jelas, kemudian biarkan hubungan mereka menjadi pusat cerita.

Hasilnya memang bukan film superhero yang sempurna.

Namun, Thunderbolts memiliki sesuatu yang sering terasa hilang dari sebagian film superhero modern, yaitu karakter yang terasa punya masalah dan hubungan yang cukup menarik untuk diikuti.

Florence Pugh menjadi salah satu pusat kekuatan film sebagai Yelena Belova. Sebastian Stan memberikan pengalaman panjang Bucky Barnes. David Harbour membuat Red Guardian menjadi sumber humor yang efektif. Wyatt Russell tetap menarik sebagai John Walker, sementara Lewis Pullman memberikan kejutan melalui Bob Reynolds.

Pada akhirnya, kekuatan Thunderbolts bukan semata-mata pada siapa yang paling kuat.
Kekuatan film ini justru terletak pada pertanyaan sederhana: apa yang terjadi ketika orang-orang yang merasa tidak punya tempat akhirnya menemukan kelompok yang bisa menerima mereka?

Itulah yang membuat film ini terasa lebih dekat dengan penonton.

Bagi saya, Thunderbolts bukan sekadar film tentang sekelompok antihero yang menjalankan misi berbahaya. Ini juga cerita tentang kesempatan kedua, penerimaan, kerja sama, dan bagaimana orang-orang yang berantakan bisa menghasilkan sesuatu yang berarti ketika mereka berhenti berjalan sendirian.

Dengan track record kritikus yang cukup positif dan respons penonton yang juga kuat, film ini pantas disebut sebagai salah satu tontonan MCU yang menarik dari periode tersebut.
Nilai pribadi: 8/10.

Bukan karena film ini sempurna, tetapi karena Thunderbolts berhasil membuat saya peduli kepada karakter-karakternya. Dan untuk sebuah film superhero, ketika penonton sudah mulai peduli kepada siapa yang ada di layar, setidaknya film tersebut sudah berhasil melakukan sesuatu yang penting.(gie/berbagai sumber)

Pos terkait