Kesan Nonton Film The Exorcist: Believer (2023), Horor Eksorsisme yang Mencekam tapi Kontroversial

kesan nonton film the exorcist believer (2023), horor eksorsisme yang mencekam tapi kontroversial
Kesan Nonton Film The Exorcist: Believer (2023), Horor Eksorsisme yang Mencekam tapi Kontroversial. Foto: AI/jambiserucom

FILM, Jambiseru.com – Kalau bicara soal kesan nonton film The Exorcist: Believer (2023), horor eksorsisme yang mencekam tapi kontroversial, jujur saja ini bukan sekadar film horor biasa. Ada ekspektasi besar yang ikut menghantui sejak awal, apalagi karena film ini membawa nama besar warisan dari The Exorcist. Jadi saat duduk dan mulai menonton, rasanya seperti sedang menunggu apakah film ini akan berhasil menghidupkan kembali teror klasik… atau justru tenggelam di bayang-bayangnya sendiri. Dan ya, dari awal saja atmosfernya sudah terasa gelap, pelan, dan agak berat.

Cerita dimulai dengan dua remaja perempuan, Angela dan Katherine, yang tiba-tiba menghilang di hutan. Saat mereka kembali, ada sesuatu yang terasa… tidak beres. Bukan cuma perubahan perilaku, tapi juga aura yang benar-benar membuat bulu kuduk berdiri. Film ini mencoba membangun ketegangan secara perlahan, bukan langsung menabrak penonton dengan jumpscare. Di satu sisi ini terasa lebih “dewasa”, tapi di sisi lain, bagi sebagian penonton, ritme ini bisa terasa terlalu lambat.

Yang menarik, film ini tidak hanya berfokus pada horor, tapi juga hubungan keluarga, kehilangan, dan keyakinan. Karakter Victor Fielding sebagai ayah Angela menjadi pusat emosi dalam cerita. Ia bukan sosok religius, tapi dipaksa menghadapi sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Di sinilah konflik batin terasa cukup kuat, meskipun tidak selalu dieksekusi dengan sempurna.

Masuk ke bagian horor, adegan kerasukan dalam film ini sebenarnya cukup disturbing. Ekspresi wajah, suara, dan bahasa tubuh para karakter yang kerasukan benar-benar dibuat tidak nyaman untuk ditonton. Ada momen di mana penonton dibuat benar-benar merasa tegang, terutama saat adegan eksorsisme mulai dilakukan. Namun… ada juga bagian yang terasa seperti mencoba meniru formula lama tanpa memberi sesuatu yang benar-benar baru.

Di tengah perjalanan cerita, review The Exorcist: Believer yang penuh pro dan kontra ini mulai terasa jelas arah dan kelemahannya. Film ini seperti berdiri di dua dunia: ingin menghormati film klasiknya, tapi juga ingin menjadi sesuatu yang modern. Sayangnya, hasilnya tidak selalu seimbang. Beberapa adegan terasa kuat secara emosional, tapi ada juga yang terasa datar dan kurang menggigit.

Kemunculan karakter lama yang diperankan oleh Ellen Burstyn sebenarnya menjadi daya tarik tersendiri. Ia membawa nostalgia, tapi jujur saja, porsinya terasa kurang maksimal. Padahal, kehadirannya bisa menjadi jembatan kuat antara film lama dan yang baru. Ini salah satu hal yang cukup disayangkan, karena potensinya besar tapi tidak dimanfaatkan sepenuhnya.

Dari segi visual, film ini punya tone gelap yang konsisten. Pencahayaan redup, warna dingin, dan suasana yang suram membuat penonton terus merasa tidak nyaman. Musik latarnya juga cukup membantu membangun ketegangan, meskipun tidak terlalu ikonik. Tidak ada momen yang benar-benar “menempel” di kepala seperti film klasiknya.

Kalau bicara soal kekurangan, yang paling terasa adalah kurangnya kejutan. Banyak adegan yang terasa bisa ditebak, terutama bagi penonton yang sudah sering menonton film eksorsisme. Ini membuat efek horornya jadi sedikit berkurang, karena rasa takutnya tidak lagi datang dari ketidaktahuan, tapi dari ekspektasi yang sudah terbentuk sebelumnya.

Meski begitu, bukan berarti film ini gagal total. Ada beberapa momen yang cukup kuat secara emosional dan visual. Film ini tetap punya daya tarik, terutama bagi penonton yang menyukai horor dengan pendekatan serius dan tidak terlalu bergantung pada jumpscare murahan. Hanya saja, untuk ukuran film dengan nama besar seperti ini, ekspektasinya memang sulit untuk dipenuhi.

Di bagian akhir, film mencoba memberikan klimaks yang intens dan emosional. Ada keputusan besar yang harus diambil, dan di sinilah konflik mencapai puncaknya. Namun lagi-lagi, eksekusinya terasa sedikit terburu-buru, seolah film ingin segera menyelesaikan semuanya tanpa memberi ruang cukup untuk penonton mencerna.

Pada akhirnya, ulasan film horor The Exorcist: Believer ini terasa seperti perjalanan yang campur aduk—menegangkan, emosional, tapi juga sedikit mengecewakan. Film ini tidak buruk, tapi juga tidak cukup kuat untuk benar-benar dikenang sebagai penerus yang layak dari legenda horor sebelumnya.

Daftar Aktor dan Peran

– Leslie Odom Jr. sebagai Victor Fielding
– Lidya Jewett sebagai Angela Fielding
– Olivia O’Neill sebagai Katherine
– Ann Dowd sebagai Ann Brooks
– Ellen Burstyn sebagai Chris MacNeil

Produser

– Jason Blum
– David Robinson
– James G. Robinson

Sutradara

– David Gordon Green
– Perusahaan Produksi
– Blumhouse Productions
– Morgan Creek Entertainment

Tahun Rilis Teater
2023

Platform Streaming / Situs Penayangan
– Amazon Prime Video
– Apple TV
– Google TV

Kalau kamu suka horor eksorsisme, film ini tetap layak dicoba. Tapi kalau kamu berharap sesuatu yang benar-benar segar dan revolusioner, mungkin review The Exorcist: Believer (2023), horor eksorsisme yang mencekam tapi kontroversial ini akan terasa setengah matang di beberapa bagian.(gie/berbagai sumber)

Pos terkait