Kesan Nonton Film China Bleeding Steel (2017): Jackie Chan, Cyborg, dan Aksi Futuristik yang Penuh Ledakan

Kesan Nonton Film China Bleeding Steel (2017): Jackie Chan, Cyborg, dan Aksi Futuristik yang Penuh Ledakan
Kesan Nonton Film China Bleeding Steel (2017): Jackie Chan, Cyborg, dan Aksi Futuristik yang Penuh Ledakan.Foto: Istimewa

JAMBI, Jambiseru.com – Ada beberapa film Jackie Chan yang dikenang karena komedinya. Ada yang dikenang karena adegan laganya yang luar biasa. Dan ada pula film yang mencoba membawa Jackie Chan ke wilayah yang jarang ia jelajahi. Bleeding Steel termasuk kategori terakhir.

Ketika pertama kali menonton film ini, saya langsung menyadari bahwa ini bukan film Jackie Chan yang biasa.

Tidak ada polisi Hong Kong yang lucu.
Tidak ada pencuri yang konyol.
Tidak ada pertarungan jalanan sederhana yang menjadi ciri khas banyak film klasiknya.

Sebaliknya, film ini menghadirkan dunia futuristik yang dipenuhi teknologi canggih, eksperimen ilmiah, manusia hasil modifikasi, dan ancaman yang nyaris seperti karakter dalam film superhero.

Jackie Chan dalam Dunia Fiksi Ilmiah

Dalam film ini, Jackie Chan memerankan Lin Dong, seorang agen khusus yang terlibat dalam operasi berbahaya untuk melindungi seorang ilmuwan dan teknologi revolusioner yang dapat mengubah masa depan manusia.

Namun di balik tugas tersebut, terdapat kisah yang jauh lebih personal.

Lin Dong juga seorang ayah yang berusaha melindungi putrinya.

Dan seperti banyak karakter Jackie Chan lainnya, motivasi utamanya bukanlah kekuasaan atau ketenaran.
Melainkan keluarga.

Saya cukup menyukai keputusan film untuk memberikan fondasi emosional seperti ini.
Karena tanpa hubungan ayah dan anak tersebut, film bisa saja berubah menjadi sekadar tontonan aksi biasa.

Perpaduan Terminator dan Film Jackie Chan

Saat menonton, saya beberapa kali merasa bahwa Bleeding Steel seperti campuran antara film Jackie Chan klasik dengan film fiksi ilmiah ala Hollywood.

Ada elemen yang mengingatkan saya pada film cyborg.
Ada unsur konspirasi ilmiah.
Ada teknologi masa depan.

Ada manusia yang hampir tidak bisa dihentikan.
Namun di saat yang sama, kita tetap melihat ciri khas Jackie Chan dalam berbagai adegan aksinya.

Perpaduan ini memang tidak selalu sempurna.
Tetapi cukup menarik karena memberikan sesuatu yang berbeda dari film-film Jackie Chan sebelumnya.

Adegan Aksi yang Menjadi Daya Tarik Utama

Kalau ada satu alasan utama untuk menonton Bleeding Steel, jawabannya adalah aksi.
Film ini hampir tidak pernah berhenti bergerak.
Kejar-kejaran.

Baku tembak.
Ledakan.
Pertarungan tangan kosong.
Semuanya hadir dalam jumlah besar.

Salah satu hal yang paling mengesankan adalah bagaimana Jackie Chan tetap mampu melakukan banyak adegan fisik yang menuntut meskipun usianya sudah tidak muda lagi.

Memang sebagian adegan dibantu teknologi modern dan efek visual.

Namun karisma Jackie Chan tetap terasa kuat.

Visual Futuristik yang Ambisius

Saya harus mengakui bahwa film ini memiliki ambisi visual yang cukup besar.

Kota masa depan.
Laboratorium canggih.
Persenjataan modern.
Karakter cyborg.

Semuanya dibuat untuk menciptakan dunia yang lebih besar daripada film aksi biasa.

Ada beberapa bagian yang terlihat sangat bagus.
Ada pula beberapa adegan efek visual yang terasa kurang meyakinkan jika dibandingkan dengan blockbuster Hollywood.

Namun secara keseluruhan, saya menghargai keberanian film ini untuk mencoba sesuatu yang besar.

Penjahat yang Terlihat Menyeramkan

Salah satu elemen yang cukup menarik adalah karakter antagonisnya.

Musuh utama dalam film ini bukan sekadar kriminal biasa.

Ia adalah hasil eksperimen yang membuatnya memiliki kemampuan luar biasa.

Akibatnya, setiap pertemuan dengan sang penjahat terasa lebih berbahaya dibanding film aksi konvensional.

Penonton tidak pernah benar-benar yakin bagaimana cara menghentikannya.

Dan ketidakpastian itu membantu menjaga ketegangan cerita.

Cerita yang Kadang Terlalu Rumit

Jika ada kelemahan terbesar film ini, menurut saya ada pada alurnya.
Film memiliki begitu banyak ide.
Teknologi biologis.
Eksperimen manusia.

Konspirasi organisasi rahasia.
Hubungan keluarga.
Identitas tersembunyi.
Dan berbagai misteri lainnya.

Kadang-kadang semua elemen tersebut terasa terlalu banyak untuk satu film.

Akibatnya beberapa bagian cerita menjadi agak membingungkan.

Saya merasa film ini akan lebih kuat jika sedikit lebih sederhana dalam menyampaikan konfliknya.

Jackie Chan Tetap Menjadi Alasan Utama

Meskipun cerita memiliki beberapa kelemahan, Jackie Chan tetap menjadi alasan utama mengapa film ini layak ditonton.

Ia membawa kehangatan yang khas.
Ia membawa humor ringan di tengah ketegangan.

Dan yang terpenting, ia membawa sisi manusia yang membuat penonton peduli terhadap karakternya.

Tanpa Jackie Chan, Bleeding Steel mungkin hanya akan menjadi film aksi fiksi ilmiah biasa.
Dengan Jackie Chan, film ini memiliki identitas yang lebih kuat.

Perpaduan Emosi dan Spektakel

Yang cukup mengejutkan bagi saya adalah bagaimana film ini tetap berusaha menyisipkan emosi di tengah semua ledakan dan aksi.
Hubungan antara Lin Dong dan putrinya menjadi inti cerita.

Pada akhirnya, film ini bukan tentang teknologi.
Bukan tentang cyborg.
Bukan tentang eksperimen ilmiah.
Melainkan tentang seorang ayah yang ingin melindungi anaknya.

Tema tersebut mungkin sederhana, tetapi berhasil memberikan hati bagi film ini.

Bleeding Steel adalah film yang mencoba menggabungkan aksi khas Jackie Chan dengan dunia fiksi ilmiah modern.
Hasilnya memang tidak sempurna.
Kadang ceritanya terlalu rumit.

Kadang efek visualnya tidak selalu konsisten.
Namun film ini tetap berhasil menghadirkan hiburan yang menyenangkan.

Yang paling saya sukai adalah keberanian Jackie Chan untuk terus mencoba hal-hal baru meskipun sudah menjadi legenda film aksi selama puluhan tahun.

Ia tidak hanya mengulang formula lama.
Ia berusaha bereksperimen dengan genre yang berbeda.

Bagi penggemar Jackie Chan, Bleeding Steel menawarkan kesempatan melihat sang legenda beraksi dalam dunia futuristik yang penuh ledakan dan teknologi canggih.

Dan meskipun film ini mungkin bukan karya terbaiknya, saya tetap menikmati perjalanan yang ditawarkannya dari awal hingga akhir. (gie/berbagai sumber)

Pos terkait