JAMBI, Jambiseru.com – Ada banyak film horor yang langsung menunjukkan taringnya sejak awal. Ada suara aneh, rumah berhantu, atau pembunuhan yang terjadi dalam beberapa menit pertama.
Audition melakukan hal yang berbeda.
Selama hampir satu jam pertama, film ini terasa seperti drama romantis yang tenang. Bahkan jika seseorang tidak diberi tahu bahwa ini adalah film horor, kemungkinan besar ia akan mengira sedang menonton kisah seorang duda yang mencoba membuka lembaran baru dalam hidupnya.
Dan justru di situlah letak kejeniusan film ini.
Audition tidak menakut-nakuti penonton dengan cara biasa. Ia membuat penonton merasa aman terlebih dahulu, lalu perlahan menarik karpet dari bawah kaki mereka.
Data Film
Judul: Audition (Ôdishon)
Tahun Rilis: 1999
Sutradara: Takashi Miike
Penulis Naskah: Daisuke Tengan
Berdasarkan Novel: Ryū Murakami
Genre: Horor Psikologis, Thriller, Drama
Durasi: 113 menit
Negara: Jepang
Tahun Rilis Festival: 1999 di Vancouver International Film Festival, sebelum dirilis luas pada tahun 2000. Film ini kemudian memenangkan FIPRESCI Prize di Rotterdam International Film Festival.
Daftar Aktor dan Peran Mereka
* Ryo Ishibashi sebagai Shigeharu Aoyama
* Eihi Shiina sebagai Asami Yamazaki
* Jun Kunimura sebagai Yasuhisa Yoshikawa
* Tetsu Sawaki sebagai Shigehiko Aoyama
* Miyuki Matsuda sebagai Ryoko Aoyama
Kisah Kesepian yang Terlihat Biasa
Shigeharu Aoyama adalah seorang pria yang kehilangan istrinya bertahun-tahun lalu. Putranya yang mulai beranjak dewasa menyarankan agar sang ayah mencari pasangan baru.
Karena kesulitan bertemu wanita, Aoyama dan sahabatnya yang bekerja di industri film membuat audisi palsu untuk sebuah proyek yang sebenarnya tidak pernah ada. Tujuannya sederhana: mencari calon istri. Di antara para peserta, Aoyama tertarik pada seorang perempuan muda bernama Asami Yamazaki. Namun seiring hubungan mereka berkembang, berbagai kejanggalan mulai muncul.
Premis ini sebenarnya sederhana.
Bahkan terdengar seperti komedi romantis yang aneh.
Namun Takashi Miike mengubahnya menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.
Teror yang Datang dari Dunia Nyata
Yang membuat Audition begitu mengganggu bukanlah hantu atau makhluk supernatural.
Terornya datang dari manusia.
Film ini memperlihatkan bagaimana kesepian, trauma, obsesi, dan manipulasi dapat berkembang menjadi sesuatu yang mengerikan. Saat menonton, saya merasa tidak sedang melihat monster.
Saya sedang melihat luka batin yang berubah bentuk menjadi mimpi buruk.
Dan itulah yang membuat film ini tetap terasa relevan bahkan puluhan tahun setelah dirilis.
───
Eihi Shiina yang Sulit Dilupakan
Jika ada satu alasan mengapa Audition masih dibicarakan hingga sekarang, salah satunya adalah penampilan luar biasa dari Eihi Shiina sebagai Asami.
Pada awal film, ia tampak rapuh, pendiam, dan nyaris seperti sosok ideal yang dibayangkan Aoyama.
Namun sedikit demi sedikit, lapisan demi lapisan karakternya mulai terbuka.
Saya jarang menemukan karakter horor yang bisa berubah begitu drastis tanpa kehilangan kredibilitasnya.
Asami bukan sekadar antagonis.
Ia adalah teka-teki yang semakin menakutkan setiap kali penonton merasa telah memahami dirinya.
───
Kritik Sosial yang Tersembunyi
Banyak orang mengingat Audition karena adegan-adegan mengerikannya. Namun menurut saya, film ini lebih menarik jika dilihat sebagai kritik sosial.
Aoyama pada dasarnya mencoba “memilih” calon istri seperti memilih kandidat pekerjaan. Para perempuan datang ke audisi tanpa mengetahui tujuan sebenarnya. Situasi ini mencerminkan ketimpangan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan yang menjadi salah satu tema penting film tersebut.
Di balik cerita horornya, film ini mempertanyakan cara manusia memandang hubungan, cinta, dan pasangan hidup.
Apakah kita benar-benar mengenal seseorang?
Ataukah kita hanya jatuh cinta pada versi yang ingin kita lihat?
Takashi Miike dan Permainan Ekspektasi
Salah satu hal yang paling saya kagumi dari film ini adalah keberanian Takashi Miike memainkan ekspektasi penonton.
Banyak film horor modern langsung mengejar kejutan.
Audition justru sabar.
Sangat sabar.
Kadang bahkan terasa terlalu lambat.
Tetapi ketika seluruh potongan cerita mulai menyatu, penonton menyadari bahwa setiap adegan tenang di awal sebenarnya sedang membangun fondasi untuk ledakan emosi yang akan datang.
Tidak heran jika banyak kritikus menyebutnya sebagai salah satu film horor psikologis terbaik sepanjang masa. Film ini juga memiliki reputasi sebagai salah satu karya paling berpengaruh dalam sejarah J-Horror modern.
Adegan Klimaks yang Legendaris
Tanpa membocorkan detail penting bagi yang belum menonton, saya hanya bisa mengatakan bahwa bagian akhir Audition adalah salah satu klimaks paling mengganggu yang pernah saya lihat dalam film Jepang.
Bukan karena darahnya.
Bukan karena kekerasannya.
Melainkan karena rasa tidak nyaman yang berhasil dibangun selama lebih dari satu jam sebelumnya.
Saat klimaks itu tiba, penonton sudah terlalu terikat dengan karakter dan situasinya.
Akibatnya, setiap kejadian terasa jauh lebih menyakitkan secara psikologis.
Mengapa Film Ini Masih Bertahan Sampai Sekarang?
Banyak film horor tahun 1990-an yang kini terasa usang.
Namun Audition masih terasa segar.
Alasannya sederhana.
Film ini bukan hanya horor.
Ia juga drama tentang kehilangan, kritik sosial tentang hubungan manusia, dan studi karakter mengenai kesepian. Beberapa kritikus bahkan menilai film ini lebih tepat disebut drama psikologis yang kebetulan berubah menjadi horor daripada sekadar film horor biasa.
Ketika sebuah film memiliki lapisan makna seperti itu, umurnya menjadi jauh lebih panjang.
Audition adalah film yang sulit direkomendasikan kepada semua orang, tetapi sangat mudah direkomendasikan kepada pencinta film.
Ia lambat.
Ia tidak nyaman.
Ia terkadang terasa aneh.
Namun justru karena itulah film ini begitu istimewa.
Bagi saya, Audition bukan sekadar film horor. Ia adalah kisah tentang kesepian yang berubah menjadi obsesi, tentang cinta yang dibangun di atas ilusi, dan tentang bahaya ketika seseorang terlalu lama menyimpan luka di dalam dirinya.
Lebih dari dua dekade setelah dirilis, Audition masih berdiri sebagai salah satu mahakarya paling berani dalam sejarah perfilman Jepang. Dan ketika layar akhirnya gelap, yang tertinggal bukan hanya rasa takut.
Melainkan rasa tidak tenang yang terus mengikuti, bahkan lama setelah film selesai ditonton.(gie/berbagai sumber)












