JAMBI, Jambiseru.com – Ada film yang menghibur. Ada film yang menginspirasi. Lalu ada River’s Edge, film yang seolah sengaja membuat penontonnya merasa tidak nyaman sejak menit pertama. Setelah menonton film ini, saya memahami mengapa banyak orang menyebutnya sebagai salah satu film remaja Jepang paling gelap yang pernah dibuat.
Ini bukan kisah persahabatan yang hangat. Ini bukan cerita cinta yang manis. Ini adalah kisah tentang anak-anak muda yang hidup di tengah kekosongan emosional.
Judul Kesan Nonton Film Jepang River’s Edge (2018): Potret Kelam Remaja yang Kehilangan Arah di Pinggir Kehidupan terasa sangat menggambarkan isi filmnya. Semua karakter dalam film ini seperti berdiri di tepi jurang kehidupan, mencoba bertahan sambil mencari alasan untuk tetap melangkah.
Sebuah Mayat di Tepi Sungai
Cerita berpusat pada Haruna Wakakusa, siswi SMA yang kehidupannya tampak biasa saja. Namun hidupnya berubah ketika ia berteman dengan Ichiro Yamada, seorang siswa yang sering menjadi korban perundungan karena orientasi seksualnya. Yamada kemudian memperlihatkan sebuah rahasia besar kepada Haruna: mayat yang membusuk di pinggir sungai.
Di titik itulah film mulai bergerak ke arah yang semakin suram.
Mayat tersebut sebenarnya bukan misteri utama. Yang menjadi misteri adalah mengapa para tokohnya justru merasa lebih hidup ketika berada di dekat kematian.
Pertanyaan itu terus menghantui sepanjang film.
Data Film
Judul: River’s Edge (リバーズ・エッジ)
Tahun Rilis: 2018
Sutradara: Isao Yukisada
Penulis Naskah: Misaki Setoyama
Berdasarkan Manga: River’s Edge karya Kyoko Okazaki
Genre: Drama, Psikologis, Coming of Age
Durasi: 118 menit
Negara: Japan
Bahasa: Jepang
Festival: Panorama Section, 68th Berlin International Film Festival
Daftar Aktor dan Peran Mereka
* Fumi Nikaido sebagai Haruna Wakakusa
* Ryo Yoshizawa sebagai Ichiro Yamada
* Shuhei Uesugi sebagai Kannonzaki
* Sumire sebagai Kozue Yoshikawa
* Aoi Morikawa sebagai Kanna Tajima
* Shiori Doi sebagai Rumi
Remaja yang Terlalu Cepat Dewasa
Yang membuat River’s Edge menarik adalah keberaniannya membahas berbagai persoalan yang sering dianggap tabu.
Film ini menyinggung perundungan, homoseksualitas, gangguan makan, seks bebas, narkoba, kehamilan yang tidak diinginkan, hingga rasa putus asa yang tersembunyi di balik kehidupan remaja.
Namun semuanya tidak disampaikan dengan gaya menggurui.
Tidak ada karakter yang hadir sebagai pahlawan. Tidak ada orang dewasa bijak yang datang memberikan solusi. Semua tokohnya sama-sama tersesat.
Dan justru karena itulah film ini terasa sangat nyata.
Akting Fumi Nikaido yang Memukau
Jika ada alasan utama mengapa film ini begitu kuat, maka jawabannya adalah Fumi Nikaido.
Sebagai Haruna, ia menghadirkan karakter yang tampak tenang di luar tetapi penuh kekacauan di dalam. Haruna bukan tokoh yang mudah disukai. Ia sering membuat keputusan buruk dan membiarkan dirinya terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.
Namun justru ketidaksempurnaan itulah yang membuatnya terasa manusia.
Fumi Nikaido memainkan karakter tersebut dengan sangat alami sehingga penonton bisa memahami kegelisahan Haruna tanpa perlu banyak dialog panjang.
Ryo Yoshizawa dan Kesepian yang Menyesakkan
Karakter Yamada yang diperankan Ryo Yoshizawa juga meninggalkan kesan mendalam.
Yamada adalah korban perundungan yang sudah begitu lama disakiti hingga kehilangan kemampuan untuk marah. Ia tampak tenang, tetapi ketenangan itu terasa mengerikan.
Saat menonton, saya merasa Yamada adalah simbol dari generasi muda yang terlalu lama memendam luka sampai akhirnya menganggap luka itu sebagai bagian normal dari hidup.
Hubungannya dengan Haruna menjadi salah satu aspek paling menarik dalam film ini.
Mereka bukan sahabat biasa. Mereka terhubung karena sama-sama merasa asing terhadap dunia di sekitar mereka.
Tokyo yang Suram dan Penuh Asap
Latar film ini juga berperan besar dalam membangun suasana.
Berbeda dengan gambaran Tokyo yang modern dan gemerlap, River’s Edge menampilkan kawasan pinggiran industri yang suram. Cerobong asap, sungai kotor, dan bangunan kusam mendominasi layar.
Lingkungan tersebut terasa seperti cerminan kondisi mental para karakternya.
Tidak ada tempat yang benar-benar nyaman.
Tidak ada tempat yang benar-benar aman.
Adaptasi Manga yang Berani
Film ini diadaptasi dari manga legendaris karya Kyoko Okazaki yang pertama kali terbit pada era 1990-an. Tema-tema seperti perundungan, homoseksualitas, penggunaan narkoba, dan kehamilan remaja sudah dibahas manga tersebut jauh sebelum menjadi topik yang umum dibicarakan.
Isao Yukisada berhasil mempertahankan nuansa gelap dan nihilistik dari karya aslinya.
Ia tidak mencoba memperhalus cerita demi kenyamanan penonton.
Sebaliknya, ia justru mempertahankan seluruh ketidaknyamanan itu sebagai bagian penting dari pengalaman menonton.
Film yang Tidak Memberikan Jawaban
Salah satu hal yang paling saya sukai dari River’s Edge adalah keberaniannya untuk tidak memberikan jawaban.
Film ini tidak mengatakan bahwa hidup akan menjadi lebih baik.
Film ini juga tidak menjanjikan bahwa semua masalah akan selesai.
Yang ditawarkan hanyalah gambaran tentang manusia-manusia muda yang berusaha bertahan di tengah dunia yang terasa kosong.
Bagi sebagian penonton, pendekatan ini mungkin terasa frustrasi.
Namun bagi saya, justru di situlah kekuatan film ini berada.
River’s Edge bukan film yang cocok untuk semua orang. Temanya berat, atmosfernya muram, dan banyak adegan yang sengaja dibuat tidak nyaman.
Tetapi bagi penonton yang menyukai drama psikologis dan kisah coming-of-age yang realistis, film ini menawarkan pengalaman yang sangat berkesan.
Film ini bukan tentang mayat yang ditemukan di tepi sungai. Film ini bukan tentang hubungan cinta yang rumit. Film ini adalah cerita tentang kesepian, kehilangan arah, dan usaha manusia untuk menemukan makna hidup di tengah dunia yang terasa hampa.
Dan ketika kredit penutup mulai berjalan, saya merasa River’s Edge berhasil melakukan sesuatu yang jarang bisa dilakukan banyak film: membuat saya terus memikirkannya berhari-hari setelah film selesai.
Itulah tanda bahwa sebuah film bukan sekadar tontonan.
Ia telah berubah menjadi pengalaman. (gie/berbagai sumber)












