Dongeng Jambi : Pak Tua dan Pendulang Emas oleh Monas Junior

Dongeng Pak Tua dan Pendulang Emas oleh Monas Junior.
Dongeng Pak Tua dan Pendulang Emas oleh Monas Junior.

“Ayo pulang! Hampir Magrib!” teriak Pak In kepadaku.

Aku masih berdiri kaku di air. Menatapnya tak berkedip sambil berpikir betapa beruntungnya Pak Tua itu.

Malam tiba. Usai Isya, aku melaporkan apa yang kulihat sore tadi kepada Emak dan Bapak. Keduanya tak percaya dan menganggap aku mengarang cerita saja.

Bacaan Lainnya

Karena dicuekin, aku kesal. Kuceritakan pula ke Bibi dan Om ku, mereka juga tak percaya. Tambah kesal lah aku.

Malamku berakhir dengan hati dongkol dan mimpi tentang emas yang memenuhi pendulangku.

***

Pelajaran terakhir usai. Aku berlari kencang dari SD ke rumahku. Tak kuhirau teguran kawan kawan, tak kupeduli panggilan Om om dan tante tante yang berpapasan denganku di jalan. Pikiranku fokus untuk mendulang sore ini.

Aku merasa peruntunganku bakal baik. Aku membayangkan akan dapat emas banyak di pendulangku seperti mimpiku semalam. Aku mulai berhayal jadi orang terkaya di dusun. Bisa menyenangkan Emak Bapak, bisa beli ini itu, bisa apa saja! Ah, bahagianya.

Tanpa ganti seragam sekolah lagi, aku menyambar pendulang di dapur. Berlari cepat ke sungai kemarin. Di sini aku jadi pendulang pertama. Tak ada sesiapa selain aku. Makin percaya dirilah aku.

Mendulang pun dimulai.

Seserok, dua serok. Segoyang, dua goyang. Yang kudapat hanya pasir dan pasir. Kuulang lagi, masih pasir. Terus kuulang sampai sejam lebih, masih sama. Pasir!

“Yanti! Ya Allah, Nak. Mak nyari ke mana-mana, tau tau kamu sudah di sini.”

Suara Emak yang melengking memecah konsentrasiku.

“Iya, Mak!”

“Sudah makan, kamu!”

“Sudah, tadi, di sekolah!”

“Anak ini!”

Emak menyusulku. Sekejap dia sudah berdiri di hadapanku.

“Bahaya anak kecil sendirian di sungai. Mana pergi ndak bilang bilang, lagi.”

Pos terkait