Oleh : Al Haris *
Alhamdulillah, pada Senin, 5 Januari 2026, kami memulai hari dengan menundukkan kepala dan menenangkan hati. Bukan untuk rapat, bukan pula untuk seremoni gemerlap. Kami memilih berziarah. Mengunjungi mereka yang telah lebih dulu menuntaskan tugasnya kepada Jambi, kepada rakyat, dan kepada sejarah.
Langkah pertama kami arahkan ke Taman Makam Pahlawan. Tempat ini selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Sunyi, khidmat, dan jujur. Di sinilah kita diingatkan bahwa kemerdekaan, pembangunan, dan stabilitas yang hari ini kita nikmati, bukan datang tiba-tiba. Ada harga yang dibayar. Ada keringat, air mata, bahkan nyawa yang dikorbankan.
Dari sana, kami menziarahi makam H. Abdul Manaf, mantan Gubernur Jambi, serta beberapa bupati yang dimakamkan di kawasan Taman Makam Pahlawan. Di hadapan pusara-pusara itu, saya kembali menyadari satu hal penting: jabatan adalah amanah yang waktunya terbatas, tetapi pengabdian akan terus diingat sepanjang manfaatnya masih dirasakan.
Perjalanan kami lanjutkan ke Kompleks Makam Keluarga Sukorejo, Jambi. Di sana, kami mendoakan H. M. Zulkifli Nurdin dan H. Arifin Manaf. Dua nama yang tak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang Provinsi Jambi. Dua sosok yang pernah memikul beban besar dalam mengelola daerah dengan segala tantangan zamannya.
Setiap pemimpin punya masanya sendiri. Tantangannya berbeda, tekanannya tidak sama, tetapi niatnya satu: berbuat yang terbaik untuk daerah yang dicintai. Di titik inilah ziarah menjadi lebih dari sekadar tradisi. Ia menjelma menjadi ruang perenungan—apakah kita hari ini sudah cukup jujur pada amanah? Apakah keputusan-keputusan yang kita ambil benar-benar berpihak pada rakyat?
Ziarah kami tutup di TPU Putri Ayu Jambi, di makam H. Abdurrahman Sayieti. Di tempat terakhir ini, rasa haru selalu datang tanpa diundang. Sebab di ujung perjalanan manusia, yang tersisa bukan lagi jabatan, bukan pula sorotan, melainkan doa dan jejak kebaikan.
Seluruh rangkaian ziarah ini kami lakukan dalam rangka memperingati HUT Provinsi Jambi ke-69 tahun 2026. Usia yang tidak lagi muda. Usia yang menuntut kedewasaan dalam berpikir, keteguhan dalam bertindak, dan kejujuran dalam melayani.
Bagi saya pribadi, peringatan hari jadi daerah tidak cukup dirayakan dengan panggung dan tepuk tangan. Ia harus diisi dengan refleksi. Dengan menengok ke belakang, agar langkah ke depan tidak kehilangan arah. Dengan mengingat para pendahulu, agar kita tidak lupa bahwa pembangunan hari ini adalah kelanjutan dari kerja panjang mereka.
Semoga Allah SWT mencatat seluruh amal pengabdian para pemimpin dan pejuang Jambi yang telah mendahului kita. Semoga segala khilaf dan kekurangannya diampuni, dan setiap niat baiknya dibalas dengan pahala berlipat.
Amin ya Rabbal ‘alamin.
Al-Fatihah…
(*)
* Al Haris, Gubernur Jambi












