FILM, Jambiseru.com – Ada film yang ditonton untuk hiburan.
Ada film yang ditonton untuk kagum.
Dan ada film yang selesai ditonton… tapi tidak pernah benar-benar selesai di kepala.
Okja masuk kategori yang terakhir.
Film ini bukan tipe tontonan santai sambil lalu. Ia pelan, hangat, lalu tiba-tiba menghantam. Bukan dengan ledakan atau darah, tapi dengan pertanyaan sederhana: sejauh apa manusia bisa membenarkan kejahatan atas nama kemajuan?
Kisah Sederhana dengan Beban Moral Besar
Okja bercerita tentang Mija, gadis kecil yang hidup di pegunungan Korea Selatan, dan sahabatnya: Okja—makhluk besar hasil rekayasa genetika yang disebut “super pig”. Hubungan mereka bukan sekadar pemilik dan hewan peliharaan. Mereka keluarga.
Masalah dimulai ketika perusahaan multinasional Mirando Corporation mengklaim kembali Okja untuk dijadikan ikon industri pangan global.
Di titik inilah film berubah arah.
Dari kisah hangat pedesaan, ia menjelma jadi kritik sosial yang telanjang dan kejam.
Bong Joon-ho dan Kepiawaiannya “Menjebak” Penonton
Disutradarai oleh Bong Joon-ho, Okja terasa seperti eksperimen emosional. Kita dibuat tertawa, lalu tak lama kemudian dipaksa menahan marah dan sedih.
Bong tidak menggurui.
Ia hanya memperlihatkan realitas—dan membiarkan penonton menilai sendiri.
Inilah kekuatan utamanya. Film ini tidak berkata “kamu salah”. Ia bertanya, “kamu masih nyaman?”
Akting yang Tak Berisik, Tapi Menghantam
Ahn Seo-hyun sebagai Mija tampil sangat natural. Tidak dibuat cengeng, tidak dibuat heroik berlebihan. Ia hanya anak kecil yang ingin menyelamatkan temannya. Dan justru itu yang menyakitkan.
Sementara Tilda Swinton tampil absurd, karikatural, sekaligus menyeramkan sebagai wajah kapitalisme yang sok ramah.
Jake Gyllenhaal pun hadir sebagai figur “pecinta hewan” yang hipokrit—berisik, narsistik, dan menyebalkan, dengan cara yang disengaja.
Tidak ada karakter yang benar-benar putih. Tidak juga hitam. Semuanya abu-abu. Seperti dunia nyata.
Kritik Industri Makanan yang Tidak Main Aman
Okja adalah film tentang industri daging, tapi bukan sekadar soal veganisme. Ini soal sistem. Soal bagaimana korporasi membungkus kekerasan dengan jargon “ramah lingkungan”, “berkelanjutan”, dan “untuk masa depan dunia”.
Yang membuatnya menyakitkan:
semua itu terasa sangat dekat dengan kehidupan kita hari ini.
Tanpa disadari, film ini membuat penonton bercermin. Tentang pilihan makan, tentang kenyamanan, tentang sikap diam.
Visual Efek yang Membantu Cerita, Bukan Pamer
Efek visual Okja sangat meyakinkan. Ia terlihat hidup, punya ekspresi, dan terasa nyata secara emosional. Tapi yang menarik, efek ini tidak pernah terasa pamer.
Teknologi di sini hanya alat. Cerita tetap raja.
Justru ekspresi Okja—mata, gerak tubuh, cara ia berinteraksi dengan Mija—yang membuat penonton terikat. Dan ketika penderitaan itu datang… rasanya personal.
Alur yang Naik Turun, Tapi Terasa Perlu
Beberapa penonton mungkin merasa tempo film ini tidak konsisten. Ada bagian yang terasa lambat, lalu tiba-tiba kacau dan intens.
Namun setelah selesai, terasa bahwa semua itu disengaja.
Hidup memang tidak rapi.
Dan Okja tidak mencoba menjadi film yang “nyaman”.
Adegan yang Sulit Dilupakan
Tanpa spoiler berlebihan, ada satu bagian di rumah potong hewan yang benar-benar menguras emosi. Sunyi. Panjang. Tidak dramatis berlebihan. Tapi justru di situlah letak horornya.
Bukan horor monster.
Tapi horor kemanusiaan.
Bukan Film untuk Semua Orang, Tapi Penting untuk Ditonton
Okja bukan film yang akan disukai semua orang. Ada yang akan merasa terganggu. Ada yang merasa terlalu politis. Ada juga yang memilih berhenti di tengah.
Dan itu sah.
Tapi jika kamu mencari film Korea terbaik yang berani, jujur, dan meninggalkan bekas—Okja adalah pilihan yang sulit diabaikan.
Kesimpulan: Okja Bukan Sekadar Film
Okja adalah pengalaman.
Ia membuat kita tersenyum, lalu perlahan merasa bersalah atas kenyamanan sendiri.
Film ini mengajarkan bahwa empati kadang datang dari tempat yang tidak kita duga—bahkan dari makhluk fiksi berukuran raksasa.
Dan ketika kredit akhir berjalan, satu pertanyaan tersisa:
setelah tahu semuanya… kita akan tetap sama, atau berubah sedikit saja? (gie)












