JAMBI, Jambiseru.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Jambi resmi bersinergi dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk membantu para penerima manfaat dan ahli waris pekerja agar bisa bangkit secara ekonomi. Kolaborasi ini diwujudkan melalui peluncuran Program Pemberdayaan Ekonomi dan Kemandirian (PEKA) Tahun 2026 yang digelar di Aula Bapperida Kota Jambi, Kamis (16/07/2026).
Program PEKA hadir sebagai solusi bagi keluarga pekerja rentan yang mengalami risiko sosial, seperti kecelakaan kerja atau ditinggal wafat oleh tulang punggung keluarga. Melalui program ini, dana santunan yang diterima tidak sekadar habis untuk konsumsi, melainkan dikelola menjadi modal usaha yang produktif.
Acara ini dibuka langsung oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Setda Kota Jambi, Feriadi, S.Sos., ME. Turut hadir dalam peresmian tersebut Kepala OJK Provinsi Jambi Yan Iswara Rosya, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Jambi Hendra Elvian, serta jajaran mitra terkait.
Dalam sambutannya, Feriadi menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada BPJS Ketenagakerjaan atas inovasi program keberlanjutan ini. Menurutnya, Program PEKA sangat selaras dengan visi prioritas daerah, yaitu “Kota Jambi Bahagia”.
“Program ini tidak hanya memberikan bantuan, tetapi juga membangun kemandirian. Inilah paradigma pembangunan yang kita dorong: dari bantuan menuju pemberdayaan, dari ketergantungan menjadi mandiri, dan dari penerima manfaat menjadi pelaku usaha yang produktif,” ujar Feriadi.
Ia menambahkan, Pemkot Jambi berkomitmen terus memperkuat kolaborasi lintas sektor—termasuk dengan dunia usaha, lembaga keuangan, dan perguruan tinggi—demi menciptakan ekosistem ekonomi masyarakat yang tangguh. Feriadi juga berpesan kepada para peserta agar memanfaatkan pelatihan ini dengan maksimal demi meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Sumbagsel, Kuncoro Adi Winarto, menegaskan bahwa Program PEKA merupakan wujud kepedulian nyata bagi para peserta. BPJS Ketenagakerjaan ingin memastikan kemanfaatan jaminan sosial tidak berhenti saat santunan dicairkan.
“Kami ingin ada keberlanjutan. Setelah program ini berjalan, harapannya para peserta dan ahli waris bisa menciptakan lapangan kerja baru, mandiri secara finansial, dan ikut mendukung pembangunan daerah,” tutur Adi.
Sebagai langkah awal, program pilot project ini diikuti oleh 20 orang peserta dengan rincian latar belakang klaim sebagai berikut:
- Ahli Waris Jaminan Kematian (JKM) 6 Orang
- Peserta Klaim Jaminan Hari Tua (JHT) 4 Orang
- Peserta Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) 1 Orang
- Peserta Klaim Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) 9 Orang
Para peserta terpilih ini akan dibekali dengan berbagai keterampilan wirausaha praktis yang relevan dengan kebutuhan pasar saat ini, mulai dari bidang tata boga, pelatihan barista, hingga strategi pemasaran digital (digital marketing). (ris)











