MUARO JAMBI, Jambiseru.com – Tumpukan sampah liar yang menggunung di Desa Mendalo Darat, Kecamatan Jambi Luar Kota (Jaluko), akhirnya dibongkar pemerintah daerah setelah lama dibiarkan menjadi sumber masalah.
Selama berbulan-bulan, lokasi itu berubah menjadi tempat pembuangan sampah (TPS) ilegal. Limbah rumah tangga menumpuk di tepi jalan, meluber hingga ke badan jalan, memicu kemacetan, dan yang paling parah menebar aroma busuk yang menyesakkan.
Dampaknya tak main-main. Bau menyengat bahkan merangsek masuk ke ruang kelas SMP Negeri 7 Muaro Jambi. Aktivitas belajar terganggu, siswa dan guru harus bertahan di tengah kondisi lingkungan yang tidak sehat.
Situasi ini akhirnya memantik respons cepat dari Bupati Muaro Jambi, Bambang Bayu Suseno. Jumat (24/4/2026) pagi, ia turun langsung ke lokasi memimpin aksi pembersihan besar-besaran.
Didampingi OPD terkait, Dinas Lingkungan Hidup, Satpol PP, hingga Camat Jaluko, operasi ini juga melibatkan personel TNI dan Polri. Alat berat dikerahkan, sampah yang selama ini menggunung mulai diangkut dan dibersihkan.
“Kondisinya sudah sangat meresahkan. Ini bukan hanya soal estetika, tapi kesehatan dan kenyamanan masyarakat, apalagi lokasinya tepat di depan sekolah,” katanya.
Perlahan, tumpukan sampah yang sebelumnya menutup sebagian jalan mulai hilang. Arus lalu lintas kembali normal, dan bau busuk yang sempat menjadi “teror harian” warga mulai berkurang.
Namun, Bupati yang akrab disapa BBS itu menegaskan, langkah ini bukan sekadar aksi bersih-bersih sesaat.
“Hari ini kita tutup total. Kita tempatkan petugas agar tidak ada lagi yang buang sampah di sini,” jelasnya.
Lebih jauh, pemerintah daerah tengah menyiapkan pembenahan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh. Mulai dari optimalisasi armada pengangkut hingga evaluasi skema pengelolaan berbasis rumah tangga akan menjadi fokus utama terutama di wilayah Jaluko yang dikenal memiliki volume sampah tinggi.
BBS menekankan bahwa persoalan sampah di Muaro Jambi tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan seragam.
“Setiap wilayah punya karakteristik berbeda. Kita butuh inovasi berbasis komunitas. Ini harus jadi solusi jangka panjang, bukan sekadar reaksi sesaat,” katanya.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa persoalan sampah bukan lagi isu sepele. Tanpa sistem yang jelas dan disiplin masyarakat, “gunung sampah” serupa bisa kembali muncul di tempat yang sama, atau di sudut lain Muaro Jambi. (uda)












