JAMBI, Jambiseru.com – Kenaikan harga LPG nonsubsidi 12 kg memantik kekhawatiran serius di Jambi. Ivan Wirata, Wakil Ketua DPRD Provinsi Jambi menilai kondisi ini berpotensi menimbulkan tekanan ekonomi berlapis, khususnya bagi masyarakat menengah dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Menurutnya, LPG 12 kg selama ini menjadi andalan rumah tangga menengah dan sektor usaha kecil. Ketika harganya naik, dampaknya tidak berhenti pada satu titik.
Biaya produksi UMKM bisa meningkat, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga barang dan jasa di pasar. Jika dibiarkan, situasi ini berisiko menciptakan efek domino terhadap stabilitas ekonomi daerah.
“Kenaikan ini bukan hanya soal energi, tapi bisa merembet ke seluruh sektor ekonomi,” kata Ivan Wirata.
Lebih jauh, ia mengingatkan potensi pergeseran konsumsi dari LPG 12 kg ke LPG 3 kg bersubsidi. Peralihan ini dinilai berbahaya jika tidak dikendalikan, karena dapat mengganggu distribusi dan mengurangi ketersediaan gas subsidi bagi masyarakat miskin yang benar-benar membutuhkan.
“Kalau harga 12 kg semakin tinggi, sangat mungkin masyarakat beralih ke gas 3 kg. Ini bisa mengganggu hak masyarakat kecil,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, DPRD Jambi mendorong pemerintah untuk memperketat pengawasan distribusi LPG, meningkatkan transparansi kebijakan harga, serta melakukan intervensi yang tepat guna menjaga keseimbangan pasar.
Upaya ini dinilai penting agar tekanan ekonomi tidak semakin meluas dan daya beli masyarakat tetap terjaga. (uda)












