MUARO JAMBI, Jambiseru.com – Kondisi kualitas udara di Kabupaten Muaro Jambi kembali mengkhawatirkan. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) parameter PM2.5 pada Rabu (30/9/2026) mencapai 296, masuk kategori sangat tidak sehat.
Bahkan, berdasarkan grafik pemantauan 24 jam, konsentrasi PM2.5 sempat menyentuh angka 325 sekitar pukul 05.00 WIB. Sebelumnya, pada pukul 02.00 WIB, angkanya juga tercatat 319, yang berada pada level berbahaya.
Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Anggota DPRD Kabupaten Muaro Jambi dari Fraksi PAN, Ulil Amri. Ia meminta pemerintah daerah tidak mengambil risiko dengan memaksakan pembelajaran tatap muka ketika kualitas udara sudah membahayakan kesehatan siswa dan guru.
Menurut Ulil, pembelajaran daring dapat menjadi solusi ketika kondisi udara tidak memungkinkan untuk kegiatan belajar mengajar secara langsung. Namun, pelaksanaannya harus benar-benar menjadi proses pembelajaran, bukan sekadar memindahkan tugas sekolah ke rumah.
“Kalau ISPU berada di level yang tidak memungkinkan atau sudah berbahaya untuk tatap muka, sekolah daring harus dilaksanakan. Tetapi dengan catatan, pelaksanaannya harus benar-benar maksimal. Jangan hanya sekadar memberikan pekerjaan rumah atau PR kepada siswa,” kata Ulil.
Ia menilai masih ada sekolah negeri di Muaro Jambi yang pelaksanaan pembelajaran Daringnya hanya sebatas memberikan tugas kepada siswa.
“Kalau saya lihat, sekolah negeri khusus di Muaro Jambi kebanyakan hanya memberikan pekerjaan rumah. Saya minta pelaksanaan daringnya memang benar-benar jalan. Jangan hanya PR, PR saja,” tegasnya.
Ulil juga meminta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Muaro Jambi turun langsung ke lapangan untuk memastikan pembelajaran daring benar-benar dilaksanakan oleh sekolah.
Menurut dia, pengawasan tidak cukup hanya dilakukan melalui laporan administratif dari sekolah. Dinas perlu memastikan guru tetap menjalankan kewajibannya memberikan pembelajaran kepada siswa selama kebijakan belajar dari rumah diterapkan.
“Saya minta Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan turun langsung ke lapangan. Cek sekolah-sekolah, kontrol guru-gurunya, apakah benar-benar melaksanakan pembelajaran daring atau hanya memberikan PR kepada siswa,” ujar Ulil.
Ia mengatakan, kondisi kabut asap dan tingginya kadar PM2.5 tidak boleh dijadikan alasan untuk mengurangi kualitas pendidikan. Sebaliknya, pembelajaran harus tetap berjalan dengan menyesuaikan kondisi dan menggunakan metode yang memungkinkan siswa tetap mendapatkan materi dari guru.
“Jangan sampai sekolah daring ini hanya formalitas. Anak-anak memang berada di rumah untuk menghindari paparan udara berbahaya, tetapi hak mereka untuk mendapatkan pembelajaran tetap harus dipenuhi,” katanya.
Ulil juga meminta pengawasan dilakukan secara menyeluruh, termasuk memastikan guru memberikan materi, berkomunikasi dengan siswa, memberikan kesempatan bertanya, serta melakukan evaluasi terhadap proses belajar.
“Kalau memang kondisi udara berbahaya, lindungi anak-anak dari paparan asap. Tetapi proses belajarnya jangan dihentikan. Daring harus benar-benar daring, bukan hanya mengirim PR melalui WhatsApp kemudian selesai,” tegasnya.
Ia berharap kualitas udara di Muaro Jambi segera membaik sehingga aktivitas pendidikan dapat kembali berlangsung secara normal. Namun, selama ISPU masih berada pada level yang membahayakan, keselamatan siswa dan guru harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan metode pembelajaran. (uda)











