Prediksi Chelsea vs MU Malam Ini

chelsea vs mu
Prediksi Chelsea vs MU. Foto : Istimewa

Jambiseru.com – Faktor mental diprediksi menjadi pembeda utama saat Manchester United bertamu ke markas Chelsea di Stamford Bridge, Sabtu malam nanti.

​Sayangnya, Setan Merah justru datang dengan beban psikologis yang lebih berat.

​Kemenangan atau setidaknya hasil imbang akan menjadi indikasi positif bahwa mentalitas Setan Merah berangsur membaik. Sebaliknya, kekalahan justru akan semakin memperkeruh situasi klub di bawah kepemilikan Keluarga Glazer dan Sir Jim Ratcliffe.

Pelatih Chelsea Xabi Alonso juga menghadapi tekanan, tetapi beban yang dipikul oleh Michael Carric, pelatih Manchester United, lebih berat lagi.

Bayangkan saja, dalam tiga pekan terakhir ini United tak habis-habisnya ditekan masalah baik dari dalam maupun dari luar lapangan.

Mereka kalah pada tiga dari empat laga terakhirnya, termasuk dalam dua pertandingan Liga Champions menghadapi Atletico Madrid dan Como 1907 yang sama-sama dimainkan di kandang lawan.

Namun, masalah yang jauh lebih kronis yang tidak dihadapi Chelsea dan Alonso justru tengah mendera United dan Michael Carrick, yakni keretakan di dalam tim yang terekspos hebat ke luar ruang ganti pemain.

Masalah tersebut terkuak menyusul serangkaian kritik terbuka dari para pemain Setan Merah. Dimulai dari bek tengah Lisandro Martinez yang menyoroti manajemen klub, hingga sang kapten, Bruno Fernandes, yang secara terbuka mempersoalkan taktik racikan Michael Carrick.

​Menanggapi kritik terakhir tersebut, Carrick dikabarkan balik menyindir Fernandes dengan pernyataan menohok yang esensinya berbunyi: “Apa yang bisa diharapkan dari skuad yang malas berlari, baik saat menyerang maupun bertahan?”

Suasana tidak sehat di United itu terefleksi langsung dari buruknya performa tim. Setan Merah tercatat kebobolan 16 gol dan hanya mencetak enam gol dari delapan pertandingan terakhir di berbagai kompetisi.

Dalam periode sama Chelsea kebobolan 14 gol, di luar kalah 5-6 dalam adu penalti melawan Liverpol pada Piala Liga. Tapi The Blues tetap relatif lebih baik dibandingkan Setan Merah.

Selain mencetak 11 gol lebih banyak, Chelsea juga sukses memenangkan dua dari empat laga terakhirnya. Faktor bermain di kandang sendiri tentu akan semakin mempertegas keunggulan mereka.

Jika ada kabar baik yang bisa menginspirasi United, maka itu adalah keberhasilan Tottenham Hotspur menang 2-0 di Stamford Bridge pekan lalu.

Spurs yang menghadapi keretakan taktis dan krisis identitas bermain seperti United, bisa membaik. Usai bermain imbang 1-1 kontra Setan Merah pada 10 Oktober lalu, Spurs menyapu bersih dua laga berikutnya dengan kemenangan, termasuk saat mempermalukan tuan rumah di Stamford Bridge pada 24 Oktober.

Masalahnya, Tottenham justru berhasil menata kembali performa mereka dan bangkit sejak menahan imbang United 1-1 di Old Trafford pada 10 Oktober lalu.

Sebaliknya, dalam periode sama, United malah makin terpuruk setelah kalah pada tiga dari empat laga terakhirnya, termasuk digasak 0-3 oleh Bournemouth pada 25 Oktober.

Spurs juga tak menghadapi cekcok yang tumpah ke luar ruang ganti pemain. Para pemain dan pelatih mereka tidak sedang saling berseberangan, apalagi dengan manajemen. Titik ini menjadi pembeda besar untuk masalah yang sedang dihadapi Carrick.

Walau ada pertemuan antara pemain, pelatih dan manajemen setelah dibantai Bournemouth 0-3, masalah United tampaknya tak akan bisa diatasi secara seketika.

Jika skuad asuhan Michael Carrick kembali menelan kekalahan, Manchester United tampaknya sudah sangat pantas disematkan predikat sebagai “Sick Man of Europe” (Orang Sakit di Eropa).

Istilah historis ini merujuk pada ungkapan terkenal Tsar Nicholas I pada era 1850-an menjelang Perang Krim, ketika penguasa Kekaisaran Rusia tersebut menjuluki Kesultanan Utsmaniyah (Turki Ottoman) sebagai “Sick Man of Europe”.

Turki Ottoman yang berabad-abad sebelumnya menjadi aktor penting dunia, pada abad ke-19 perlahan melemah menjadi aktor politik internasional yang kehilangan pengaruh, tidak stabil dan rentan dari intervensi asing.

Pasukan mereka yang sebelumnya dikenal paling tangguh di Eropa berangsur-angsur melemah sehingga wilayah imperium mereka pun menyusut. Saat bersamaan, negara menjadi salah urus karena birokrasi yang korup dan tergantung kepada uang Eropa Barat.

Manchester United juga menghadapi problema yang kurang lebih sama, mulai dari kedalaman skuad yang tumpul, birokrasi klub yang ruwet, hingga belenggu utang yang menggunung.

Singkatnya, mereka bukan lagi pasukan sepak bola yang begitu ditakuti seperti pada era kejayaan Sir Alex Ferguson.

Setan Merah sudah bolak balik ganti pelatih sejak Sir Alex mundur pada 2013, tetapi walau sudah dilatih oleh sepuluh orang berbeda — termasuk para pelatih sementara–, mereka tak kunjung bisa membawa timnya mengangkat trofi juara liga.

Ada yang bilang bahwa itu terjadi karena United menghadapi masalah struktural yang akut dalam hirarki klubnya.

Bahkan pemain pun sudah terang-terangan mengidentifikasi manajemen sebagai masalah bagi United, seperti disampaikan Cristiano Ronaldo di masa silam dan kemudian Lisandro Martinez di masa kini.

Tidak seperti kebanyakan pemilik klub Liga Inggris, Keluarga Glazer “membiayai” United dari utang. Mengutip analisis Sky Sports pada 3 Maret 2026, United adalah klub Liga Premier yang paling banyak memiliki utang

Kendati neraca pendapatan klub masih terlihat positif, termasuk pada tahun lalu, timbunan utang yang ditinggalkan Keluarga Glazer terus menjerat Manchester United dari waktu ke waktu. Akibatnya, klub terpaksa ekstra hati-hati dalam menyusun strategi transfer hingga kerap ditikung klub lain dalam memburu pemain penting.(uda)

Pos terkait