Opini : Bank 9 Jambi Butuh Kepercayaan, Bukan Penghakiman

gedung mahligai 9 bank jambi
Gedung Mahligai Bank Jambi. Foto: jambiserucom

Oleh: Martayadi Tajuddin *

Di era digital hari ini, satu isu dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Satu potongan video mampu membentuk opini publik lebih kuat daripada penjelasan institusi. Dan satu narasi yang belum tentu utuh, bisa berubah menjadi kepanikan massal hanya dalam hitungan jam. Fenomena itulah yang sedang terjadi dalam polemik gangguan layanan Bank 9 Jambi.

Media sosial dipenuhi asumsi. Ruang publik dipenuhi tuduhan. Sebagian masyarakat bahkan mulai menggiring opini bahwa gangguan sistem identik dengan kehancuran institusi. Padahal dalam dunia digital modern, gangguan sistem bukanlah sesuatu yang mustahil terjadi, bahkan pada lembaga keuangan terbesar sekalipun.

Publik tentu berhak bertanya. Publik juga berhak mengkritik. Namun ada perbedaan besar antara kritik yang sehat dan penghakiman yang prematur.

Kita perlu jujur mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat hidup di tengah ekosistem informasi yang sangat reaktif. Viral sering dianggap sebagai kebenaran. Padahal dalam tata kelola informasi modern, sesuatu yang ramai belum tentu akurat, dan sesuatu yang belum dijelaskan secara lengkap bukan berarti pasti salah.

Karena itu, kasus yang menimpa Bank 9 Jambi seharusnya dilihat secara proporsional, objektif, dan rasional.

Gangguan layanan digital dalam industri perbankan merupakan risiko global. Bahkan bank-bank besar dunia dengan teknologi canggih dan modal triliunan rupiah pun pernah mengalami gangguan sistem, serangan siber, hingga kebocoran data. Artinya, persoalan ini bukan semata tentang besar atau kecilnya sebuah bank, melainkan tentang bagaimana institusi mampu merespons krisis secara cepat, terbuka, dan bertanggung jawab.

Di titik inilah publik perlu membedakan antara “gangguan sistem” dengan “kegagalan institusi”.

Sebuah institusi tidak dapat langsung dihakimi gagal hanya karena menghadapi tekanan teknologi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana langkah mitigasi dilakukan, bagaimana nasabah dilindungi, dan bagaimana kepercayaan dipulihkan.

Bank 9 Jambi saat ini berada dalam situasi yang tidak mudah. Di satu sisi mereka menghadapi tekanan teknis dan investigasi. Di sisi lain mereka juga menghadapi tekanan psikologis akibat opini publik yang berkembang liar di media sosial. Jika situasi ini terus dipenuhi spekulasi tanpa kontrol, maka yang paling dirugikan bukan hanya institusi bank, tetapi juga masyarakat sendiri.

Mengapa?

Karena industri perbankan hidup di atas satu fondasi utama: kepercayaan publik.

Dalam ilmu ekonomi modern, trust atau kepercayaan merupakan modal sosial paling penting dalam sistem keuangan. Ketika kepercayaan runtuh akibat kepanikan yang tidak terkendali, maka efek domino bisa jauh lebih berbahaya daripada gangguan sistem itu sendiri. Kepanikan publik dapat memicu disinformasi, penarikan dana besar-besaran, gangguan stabilitas layanan, bahkan menciptakan krisis psikologis kolektif di tengah masyarakat.

Oleh sebab itu, masyarakat perlu berhati-hati dalam memproduksi dan menyebarkan informasi. Tidak semua narasi harus diviralkan. Tidak semua asumsi harus dipercaya. Dan tidak semua kemarahan publik harus berubah menjadi penghakiman sosial.

Kita membutuhkan masyarakat yang kritis, bukan masyarakat yang panik.

Kita membutuhkan kontrol publik, tetapi juga membutuhkan kedewasaan publik.

Sebagai bank daerah, Bank 9 Jambi memiliki posisi strategis dalam pembangunan ekonomi regional. Bank ini bukan sekadar institusi bisnis, melainkan bagian dari ekosistem pembangunan daerah, penguatan UMKM, pengelolaan keuangan pemerintah, dan penggerak aktivitas ekonomi masyarakat Jambi.

Karena itu, menjaga kepercayaan terhadap institusi daerah juga menjadi bagian dari menjaga stabilitas ekonomi daerah itu sendiri.

Tentu saja, dukungan publik bukan berarti menutup mata terhadap evaluasi. Justru momentum ini harus menjadi alarm penting bagi Bank 9 Jambi untuk memperkuat sistem keamanan digital, meningkatkan transparansi komunikasi publik, mempercepat modernisasi teknologi, dan membangun tata kelola risiko yang lebih adaptif di era siber.

Kritik tetap penting.

Evaluasi tetap wajib.

Tetapi kritik harus diarahkan untuk perbaikan, bukan untuk menjatuhkan.

Di tengah derasnya arus informasi digital, publik perlu belajar satu hal penting: membangun kepercayaan membutuhkan waktu panjang, tetapi menghancurkannya hanya membutuhkan beberapa menit di media sosial.

Karena itu, saat ini Bank 9 Jambi tidak hanya membutuhkan perbaikan sistem, tetapi juga membutuhkan ruang kepercayaan dari masyarakat agar proses pembenahan dapat berjalan dengan baik.

Kita boleh kritis. Kita boleh waspada. Namun kita juga harus tetap rasional.

Sebab institusi yang sedang berbenah tidak seharusnya dihakimi sebelum proses selesai.

Dan masyarakat yang dewasa bukanlah masyarakat yang paling cepat marah, melainkan masyarakat yang mampu membedakan antara fakta, asumsi, dan kepanikan.(*)

* Martayadi Tajuddin, Pengamat Kebijakan Publik dan Sosial Digital

Pos terkait