Kemarau Makin Panjang, Krisis Air Bersih Meluas di Muaro Jambi

Ilustrasi air bersih.
Ilustrasi air bersih. Foto: Istimewa

MUARO JAMBI, Jambiseru.com – Musim kemarau panjang mulai membawa dampak serius bagi masyarakat Kabupaten Muaro Jambi.

Memasuki bulan ketiga tanpa hujan yang cukup, krisis air bersih kian meluas dan kini telah melanda 30 desa di enam kecamatan.

Ribuan warga mulai kesulitan memperoleh air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sejumlah sumur dan sumber air yang selama ini menjadi tumpuan warga bahkan mulai mengering.

Di tengah kondisi tersebut, distribusi air bersih dari pemerintah dan berbagai instansi menjadi harapan bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Muaro Jambi, enam kecamatan yang kini terdampak kekeringan yakni Kumpeh, Jambi Luar Kota, Sekernan, Kumpeh Ulu, Sungai Gelam, dan Mestong.

Jumlah wilayah terdampak ini terus bertambah. Pada awal September lalu, krisis air bersih tercatat terjadi di 26 desa yang tersebar di lima kecamatan. Kini, jumlah warga terdampak diperkirakan mencapai sekitar 8.000 kepala keluarga (KK).

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Muaro Jambi, Anari Hasiholan Sitorus, mengatakan pihaknya bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait dan berbagai pihak terus melakukan pendistribusian air bersih ke wilayah yang mengalami kekurangan air.

“Saat ini sudah enam kecamatan, kurang lebih ada 30 desa yang terdampak. Untuk jumlah kepala keluarga, diperkirakan sekitar delapan ribu KK,” katanya.

Namun, distribusi air bersih belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan. Panjangnya musim kemarau membuat kebutuhan air masyarakat terus meningkat, sementara sumber air yang selama ini menjadi andalan warga semakin banyak yang mengering.

Kondisi itu membuat sebagian masyarakat terpaksa mencari solusi secara mandiri.

Salah satunya dilakukan Birma, warga Desa Tanjung Pauh. Sumur yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya kini tak lagi mengeluarkan air.

Tak punya banyak pilihan, Birma terpaksa menggali sumur baru agar keluarganya tetap mendapatkan pasokan air. Upaya tersebut bahkan harus menguras biaya hingga jutaan rupiah.

“Sumur yang lama sudah kering, jadi kami terpaksa menggali sumur baru. Biayanya sampai jutaan rupiah. Mau bagaimana lagi, air ini kan kebutuhan sehari-hari,” tandasnya. (uda)

Pos terkait