Pengamat : Kinerja dan Modal Kuat, Bank Jambi Dipastikan Sehat

gedung bank jambi
Gedung Mahligai 9 Bank Jambi.Foto: istimewa

JAMBI, Jambiseru.com – Dis informasi yang beredar terhadap kesehatan Bank Jambi dipastikan tidak memiliki basis fundamental. Hal ini disampaikan pengamat perbankan, Laila Farhat, yang mengungkap data bahwa kinerja keuangan bank tersebut masih berada dalam kategori sehat dengan indikator prudensial yang terjaga.

Menurutnya, gangguan sistem siber pada Februari 2026 lebih tepat diklasifikasikan sebagai operational risk event, bukan solvency issue maupun liquidity crisis. “Peristiwa ini tidak menggerus struktur permodalan inti (core capital) secara signifikan dan tidak mengindikasikan tekanan pada kemampuan bank memenuhi kewajiban jangka pendek,” ujarnya, di Palembang (26/3) kemarin.

Berdasarkan penilaian Otoritas Jasa Keuangan, rasio permodalan atau Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank Jambi tetap berada di atas threshold minimum regulator. Ini menunjukkan bank memiliki capital buffer yang memadai untuk menyerap potensi kerugian. Sementara itu, rasio Non-Performing Loan (NPL) yang terjaga mengindikasikan kualitas aset produktif masih dalam kondisi terkendali.

Dari sisi likuiditas, Laila menilai tidak terdapat indikasi liquidity mismatch maupun tekanan pada cash flow. “Bank masih memiliki kecukupan alat likuid, baik dalam bentuk giro pada BI maupun secondary reserves, sehingga kemampuan memenuhi penarikan dana nasabah tetap terjaga,” jelasnya.

Secara kinerja, Bank Jambi mencatatkan pertumbuhan yang solid. Total aset mencapai Rp15,15 triliun per September 2025 atau tumbuh 20,43 persen (YoY), mencerminkan ekspansi neraca yang sehat. Penyaluran kredit sebesar Rp9,90 triliun menunjukkan fungsi intermediasi tetap berjalan, meskipun dengan pertumbuhan moderat untuk menjaga kualitas portofolio.

Di sisi profitabilitas, laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp330 miliar mencerminkan earning capacity yang kuat. Bahkan, capaian ini melampaui target awal dan cukup untuk menyerap dampak kerugian non-recurring akibat gangguan siber. “Ini menunjukkan resilience model bisnis bank masih terjaga,” tegasnya.

Dalam konteks industri Bank Pembangunan Daerah (BPD) di Sumatera, Bank Jambi berada pada kategori mid-tier BPD dari sisi aset. Skala bisnisnya memang masih di bawah Bank Sumut dan Bank Nagari, namun tetap kompetitif dengan fundamental yang stabil. Bahkan, posisinya relatif lebih kuat dibanding BPD Bengkulu dari sisi skala usaha dan profitabilitas.

Keberadaan Bank Sumsel Babel serta BRK Syariah juga mencerminkan dinamika industri yang kompetitif, namun tetap dalam koridor pengawasan ketat regulator.
Laila menegaskan, selama rasio-rasio utama seperti CAR, NPL, serta indikator likuiditas berada dalam batas aman dan diawasi regulator, maka tidak terdapat justifikasi untuk menyimpulkan adanya risiko kebangkrutan.

“Secara teknikal perbankan, tidak ada sinyal distress baik dari sisi permodalan, kualitas aset, maupun likuiditas. Artinya, Bank Jambi berada dalam kondisi going concern yang kuat, jauh dari kebangkrutan,” pungkasnya. (red)

Pos terkait