JAKARTA, Jambiseru.com – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengatakan implementasi biodiesel 50 persen (B50) merupakan salah satu bukti kesiapan dan pengembangan sektor pertanian untuk turut mewujudkan ketahanan energi nasional.
“Dengan B50 ini, ini menunjukkan bahwa kita siap sebagai negara agraris, bagaimana memanfaatkan kekayaan dan kesuburan serta kerja keras dari petani kita di seluruh Indonesia untuk ketersediaan pangan yang cukup untuk bangsa kita dan siap untuk juga swasembada energi di masa-masa yang akan datang,” kata Sudaryono di Jakarta, Kamis.
Lebih lanjut, Wamentan mengatakan pengembangan dan implementasi B50 turut membuat Indonesia menghentikan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar per Juli.
“Dengan B50, Indonesia tidak lagi impor bahan bakar diesel atau tidak lagi impor solar. Karena 50 persen bahan solar fosil dihasilkan dari sumur-sumur di dalam negeri kita, dan 50 persen sisanya kemudian adalah konversi dari minyak sawit kita,” jelas Sudaryono.
Adapun berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), total konsumsi solar di Indonesia saat ini telah mencapai 39 juta kiloliter (KL), dengan mandatori biodiesel 40 persen (B40) yang sudah diterapkan pemerintah.
Implementasi kebijakan B50 pun nantinya diharapkan mampu menjaga harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani sekaligus pengurangan impor BBM.
Sementara itu, menurut Kementerian Pertanian (Kementan), meningkatnya pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel diharapkan akan memperluas pasar domestik, meningkatkan nilai tambah komoditas, sekaligus memperkuat kesejahteraan petani.
Kinerja industri sawit nasional pun menunjukkan tren yang positif. Produksi crude palm oil (CPO) sepanjang 2025 mencapai 51,66 juta ton, meningkat dari 48,16 juta ton pada 2024 atau tumbuh 7,3 persen.
Di saat yang sama, ekspor meningkat dari 29,53 juta ton menjadi 32,34 juta ton, seiring semakin besarnya pemanfaatan sawit sebagai bahan baku biodiesel.
“Kita bisa melihat dari kebutuhan itu kemudian kita ada penambahan CPO 8,5 juta ton yang harus ditambah karena sebelumnya B40, naik jadi B50,” ujar Wamentan Sudaryono.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan program mandatori biodiesel B50 di Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7).
Peluncuran B50 menjadi tonggak penting dalam memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas kelapa sawit yang berdampak langsung pada kesejahteraan petani. (ris)
Sumber: antaranews











