B50 Jadi Senjata Kurangi Impor Solar, DPR Soroti Pentingnya Dukungan Pembiayaan

Anggota Komisi XII DPR RI dari daerah pemilihan Jambi, Syarif Fasha
Anggota Komisi XII DPR RI dari daerah pemilihan Jambi, Syarif Fasha. Foto: Jambiseru.com

JAMBI, Jambiseru.com – Rencana penerapan program biodiesel B50 dinilai dapat menjadi salah satu langkah strategis Indonesia untuk menekan ketergantungan terhadap impor solar sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Namun, di balik potensi tersebut, pemerintah perlu menyiapkan sejumlah langkah antisipasi agar implementasi B50 tidak justru menimbulkan tekanan baru terhadap biaya penyediaan bahan bakar. Fluktuasi harga Fatty Acid Methyl Ester (FAME), biaya pencampuran atau blending, hingga kepastian skema pembiayaan menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhitungkan secara matang.

Anggota Komisi XII DPR RI dari daerah pemilihan Jambi, Syarif Fasha menilai, dukungan pembiayaan dari pemerintah menjadi salah satu kunci agar program tersebut dapat berjalan optimal.

Menurut Syarif, penugasan kepada Pertamina untuk menjalankan program B50 harus dibarengi dengan skema pembiayaan yang jelas.

Hal ini penting agar perusahaan tidak menanggung sendiri potensi kenaikan biaya yang muncul akibat perubahan harga FAME maupun kebutuhan blending.

“Dukungan pembiayaan pemerintah penting agar penugasan kepada Pertamina dapat berjalan optimal,” kata Sy Fasha.

Ia menilai, penerapan B50 bukan sekadar kebijakan untuk meningkatkan penggunaan bahan bakar nabati, tetapi juga bagian dari strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak impor. (uda)

Pos terkait