Karhutla Jambi, Abdullah Walhi : Kita Diselamatkan Kemarau Basah

  • Whatsapp
karhutla jambi
Abdullah. Foto: Jambiseru.com

Jambiseru.com – Dari tahun ke tahun, kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) selalu melanda Provinsi Jambi. Asap jadi masalah yang menahun di provinsi tengah Sumatera ini. Untungnya, tahun ini Karhutla tak terjadi di Jambi.

Baca Juga : Opini Musri Nauli : Perjalanan Betuah (22)

Bacaan Lainnya

“Kita diselamatkan oleh kemarau bahas. Kalau tidak, tentu akan terjadi seperti tahun-tahun sebelumnya,” ungkap Abdullah, Manajer Penguatan Organisasi dan Pengorganisasian Rakyat, LSM Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jambi, Minggu (15/11/2020).

Baca Juga : Amankan Pilkada Jambi dari Politik Uang, Ratusan Kader PKS Apel Siaga

Meski curah hujan cukup tinggi, namun sempat juga terjadi kebakaran di beberapa titik dalam Provinsi Jambi.

Diterangkan Abdul -sapaan akrab Abdullah-, daerah langganan Karhutla ada di sebagian besar lahan gambut. Yakni di Kabupaten Muaro Jambi dan Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar).

Sementara, mitigasi dan tindakan terhadap perusahaan-perusahaan yang diduga terlibat dalam Karhutla di Jambi selama ini, masih belum tegas. Akibatnya, potensi Karhutla tak terhindarkan lagi bakal terjadi dan terus terjadi sampai kapanpun.

Baca Juga : Cegah Konflik Susulan di Kerinci, Warga Minta Polisi Disiagakan di Perbatasan Desa

“Pemerintah dan stakeholder Terkait, harus tegas. Supaya kebakaran hutan dan Lahan tak terjadi lagi di Provinsi Jambi kita tercinta ini,” jabar Bang Abdul.

Aktivis lingkungan yang sudah 10 tahun berkutat di Walhi Jambi ini, menambahkan, kontrol pasca pembangunan sarana dan prasarana penanggulangan Karhutla, tidak dilakukan dengan serius.

Dijelaskan, semisal pembuatan sekat kanal dan sumur bor. Fungsi prasarana ini adalah untuk pembasahan gambut sehingga kebakaran bisa diminimalisir. Tetapi fakta di lapangan, setelah kanal dan sumur bor dibangun, tidak dipelihara dengan baik oleh pihak yang bertanggungjawab.

Baca Juga : Tegas, Sukandar Minta PTPN VI Keluarkan Desa Pematang Sapat dari HGU

“Akibatnya, saat terjadi Karhutla, sarana dan prasarana itu jadi tak berguna. Selain mubazir, ini juga menimbulkan dampak negatif bagi Lingkungan dan Masyarakat,” papar pria kelahiran Tanjung Raden, Seberang Kota Jambi, ini.

Dampak Karhutla di Jambi sangat banyak. Mulai dari kerusakan Lingkungan, habitat hewan jadi hilang dan Kesehatan Masyarakat terganggu.

Baca Juga : Opini Musri Nauli : Perjalanan Betuah (21)

“Asap selalu jadi musuh besar bagi Provinsi Jambi. Jadi, mari kita bahu membahu agar Karhutla ini tak terjadi lagi di Jambi,” tutupnya. (*)

Pos terkait