Opini Musri Nauli : Seloko

Musri Nauli
Musri Nauli. Foto : Dok/Istimewa

Jambi Seru – Alangkah kagetnya saya ketika mendengarkan sebuah perkataan yang cukup penting untuk disimak.

“Tidak perlu-lah seloko-seloko”, katanya enteng. Tanpa beban.

Kekagetan saya semata-mata didasarkan sang penutur yang dengan enteng “seakan-akan” meremehkan. Sekaligus menggambarkan “keangkuhan” dan mencoba menghilangkan kekayaan pengetahuan yang terkandung dari setiap seloko yang diucapkan.

Bacaan Lainnya

Apabila diungkapkan cuma obrolan di warung kopi, mungkin saya tidak tertarik untuk menanggapinya. Selain cuma obrolan yang bisa berdebat kusir dan menghabiskan energi, mungkin obrolan itu semata-mata berangkat dari keengganan dari sang penutur untuk mempelajari sekaligus memahami makna yang tersirat.

Namun ketika diungkapkan di pertemuan yang dihadiri oleh orang banyak sekaligus disampaikan dengan sedikit “angkuh”, rasa-rasanya terlalu sayang untuk ditanggapi.

Seloko adalah pengetahuan adiluhung. Ajaran leluhur nenek moyang masyarakat Melayu Jambi didalam menuturkan setiap peristiwa. Sekaligus adanya “ajaran Penting” dibalik makna seloko.

Lihatlah seloko yang paling sering diungkapkan “Pemimpin bak pohon Beringin. Pohon Gedang ditengah dusun. Pohon tempat beteduh. Akarnya kuat tempat besilo. Dahannya kuat tempat begayut”.

Bukankah ketika diungkapkan para tetua adat mengungkapkan seloko sekaligus melambangkan sifat pemimpin yang mampu memberikan “rasa teduh” dan rasa nyaman kepada masyarakatnya.

Sifat Pemimpin yang mampu memayungi persis dengan sifat kepemimpinan dalam alam kosmopolitan Jawa “Hamemayu Hayuning Bawana”.

Berbagai Literatur menyebutkan “melindungi Alam Semesta” dan melindungi kehidupan manusia.

Atau Seloko seperti didalam pengelolaan alam Semesta seperti “mencari pangkal dari bungkul. Mencari asal dari usul”, “kuat tali jejawi. Tanda Mentaro”, “Tumbuh diatas tumbuh”, “hilang celak jambu klelo”, “sesap rendah jerami tinggi”, “Humo bekandang siang. Ternak bekandang malam (ada juga menyebutkan humo bepagar rendah. Kerbo berpagar tinggi).

Bukankah setiap kata-kata yang terselip didalam Seloko menggambarkan bagaimana hukum sedang bekerja. Termasuk juga menyelesaikannya.

“Mencari pangkal dari bungkul. Mencari asal dari usul” sering dipadankan dengan “keruh aek di hilir. Tengok aek dimudik” atau “tumbuh diatas tumbuh” adalah teori sebab-akibat (teori causalitet) dalam hukum pidana.

Untuk Mencari “pangkal sengketa” tentu saja harus dilihat dari “asal-usul”.

Begitu juga diranah pembuktian “kuat tali jejawi. Kuat mentaro”, adalah tanda-tanda kepemilikkan terhadap barang.

Makna simbolik “Kuat tali jejawi” adalah seloko menggambarkan “hubungan ikataan erat” antara pemilik sapi dengan sang hewan ternaknya.

Makna Jawi” yang sering juga dilekatkan dengan Sapi juga bisa dilekatkan dengan kerbau. Sehingga memaknai seloko “kuat tali jejawi”, hanya pemilik sapi/kerbau yang dapat menentukan “dimana hewan ternaknya’. Dan sang ternak yang mengenal tuannya akan ikut dan tidak berontak ketika ditarik oleh tuannya.

Sedangkan seloko “humo bekandang siang. Ternak bekandang malam” atau “ humo bepagar rendah. Kerbo berpagar tinggi” dapat diartikan “sang pemilik kebun” (humo bekandang siang/humo berpagar rendah) harus membuat pagar di sekeliling kebunnya. Sehingga hewan ternak tidak dapat masuk kedalam kebunnya.

Sedangkan “ternak bekandang malam” atau “kerbo berpagar tinggi” diartikan siapapun pemilik ternak harus senantiasa menjaga dan merawat hewan ternaknya.

Menurut beberapa Peraturan Desa, apabila adanya “kelalaian” dari sang pemilik, hewan ternak kemudian memakan tanaman, maka menjadi tanggung jawab pemilik ternak.

Dalam berbagai studi, Seloko sering dilekatkan dengan Seloka. Kata (seloka) berasal dari bahasa Sanskerta yaitu sloka. Seloka adalah bentu puisi Melayu Klasik, berisi pepatah maupun perumpamaan yang mengandung senda gurau, sindiran, bahkan ejekan. Umumnya ditulis empat baris memakai bentuk pantun/syair, terkadang bisa juga ditemui seloka yang ditulis lebih dari empat baris.

Mengikuti kaidah Seloko, lihatlah seloko “tinggi tidak dikadah. Rendah tidak dikutung. Tengah-tengah dimakan Kumbang” adalah frasa berirama sekaligus “kutukan” terhadap pemimpin yang meremehkan “rakyatnya sendiri”.

Kutukan yang dilontarkan oleh Datuk Paduko Berhalo tercatat rapi didalam berbagai kitab-kitab peninggalan kerajaan Jambi Darussalam (Dituliskan dengan aksara Arab namun berdialek Melayu. Biasa disebut Arab Melayu/Arab gundul).

Lalu apa pentingnya Seloko bagi kehidupan masyarakat Melayu Jambi.

Pertama. Seloko mengandung ajaran yang kaya makna simbolik dan filosofi. Sebagai masyarakat Melayu Jambi, menjunjung ajaran leluhur adalah bagian dari identitas masyarakat Melayu Jambi itu sendiri.

Seloko seperti “teluk sakti. Rantau betuah. Gunung Bedewo” atau “rimbo sunyi tempat siamang beruang putih. Tempat ungko berebut tangis” adalah simbol sekaligus penghormatan terhadap “rimbo puyang”, “rimbo keramat”, “hutan hantu pirau”.

Simbolik dan filosofis yang terkandung sarat makna. Bukankan nama-nama tempat yang disimbolkan justru terletak didalam kawasan lindung/kawasan Konservasi.

Selain itu ada juga berbagai seloko bersenda gurau yang biasa dilihat dalam tradisi pinangan, lamaran, antaran ataupun menyambut penganten. Tradisi hampir setiap minggu dapat disaksikan dalam acara-acara di berbagai tempat.

Namun ada juga seloko yang menggambarkan berbagai sindiran. Sekaligus menggambarkan keadaan yang terjadi dan ungkapan dari sang penutur.

Kedua. Seloko dapat menjadi “netak putus. Mancung habis”. Dapat menyelesaikan berbagai kerumitan dan persoalan sehari-hari.

Seloko “Kuat tali jejawi” adalah seloko yang mampu menyelesaikan berbagai persoalan dengan kuatnya fakta dan data dimiliki oleh sang pemilik tanah.

Ketiga. Seloko menggambarkan pengetahuan dari sang penutur. Dengan mengungkapkan berbagai seloko dalam tradisi adat sekaligus menjadi pengetahuan yang terlalu sayang untuk dilewatkan.

Alangkah bijaknya apabila sebelum mengeluarkan perkataan yang membuat antipati dari masyarakat Jambi, ungkapan itu harus dipikirkan baik-baik untuk diungkapkan.

Selain harus mampu menyelami relung hati masyarakat Jambi didalam memandang dan menempatkan Seloko sebagai bagian dari pengetahuan adiluhung, Seloko juga bagian dari kekayaan masyarakat Melayu Jambi.

Bahkan Tanpa adanya seloko di setiap pertemuan, pertemuan “terkesan” basa-basi, bertele-tele, kering dari tawa canda. Sekaligus terkesan protokoler yang menjemukkan ditengah masyarakat. (*)

Advokat. Tinggal di Jambi

Pos terkait

banner pln