30 Film Drama Anti Bully di Sekolah dari Berbagai Negara yang Menampar Nurani

30 Film Drama Anti Bully di Sekolah dari Berbagai Negara yang Menampar Nurani
30 Film Drama Anti Bully di Sekolah dari Berbagai Negara yang Menampar Nurani.Foto: Jambiseru.com

FILM, Jambiseru.com – Ada satu hal yang sering luput ketika kita bicara soal sekolah: tidak semua anak pulang membawa ilmu, sebagian pulang membawa luka. Luka yang tidak terlihat di rapor. Luka yang tidak pernah masuk agenda rapat guru. Luka yang sering dibungkus dengan kalimat klasik: “Namanya juga anak-anak.”

Film-film bertema anti bully biasanya tidak hadir untuk menghibur. Mereka hadir untuk mengganggu. Mengganggu rasa nyaman kita sebagai penonton, orang tua, guru, bahkan mantan murid yang dulu memilih diam. Dari yang disajikan dengan lembut, sampai yang brutal tanpa ampun, 30 film dan drama di bawah ini adalah cermin gelap tentang dunia sekolah.

Jepang: Bullying yang Sunyi tapi Mematikan

A Silent Voice (2016)
Bullying di film ini nyaris tanpa teriakan. Justru karena itulah rasanya menghantam. Seorang anak tunarungu dijadikan bahan ejekan, sementara pelakunya tumbuh dengan rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar sembuh. Ini bukan film tentang meminta maaf. Ini film tentang konsekuensi.

Confessions (2010)
Sekolah berubah jadi ruang pengakuan dosa. Bullying, kekerasan, dan pengabaian guru bersatu menjadi tragedi psikologis yang dingin. Tidak ada pahlawan di sini, hanya orang-orang yang terlambat menyadari kesalahan.

Monster (2023)
Film ini licik. Ia memaksa penonton menilai terlalu cepat, lalu perlahan menghancurkan penilaian itu. Bullying di sini tidak hitam-putih. Semua orang bisa jadi korban, semua orang bisa jadi pelaku.

All About Lily Chou-Chou (2001)
Bullying yang tidak selalu terlihat. Kamera yang dingin, dialog yang minimal, dan rasa kesepian yang menempel lama setelah film selesai.

Lesson of the Evil (2012)
Ketika sekolah gagal total menjalankan fungsinya sebagai ruang aman. Bullying, manipulasi, dan kekerasan dilepas tanpa rem. Tidak untuk semua orang, tapi pesannya sangat jelas: sistem yang busuk melahirkan monster.

Korea Selatan: Ketika Balas Dendam Terasa Masuk Akal

The Glory (Series)
Bullying digambarkan bukan sebagai kenangan buruk, tapi trauma seumur hidup. Serial ini membuat satu pertanyaan tidak nyaman terasa wajar: apakah memaafkan selalu lebih mulia?

Weak Hero Class 1 (Series)
Sekolah sebagai arena bertahan hidup. Pintar tidak menjamin selamat. Lemah berarti sasaran. Serial ini jujur tentang bagaimana sistem membiarkan kekerasan tumbuh subur.

Weak Hero Class 2 (Series)
Pindah sekolah tidak selalu berarti memulai ulang. Luka lama ikut pindah, dan kekerasan menemukan bentuk barunya.

Han Gong Ju (2013)
Film yang tidak berisik tapi menghancurkan dari dalam. Tentang korban yang diminta diam demi nama baik orang lain.

Don’t Cry Mommy (2012)
Ketika negara, sekolah, dan hukum gagal, seorang ibu memilih melawan sendiri. Film ini keras, emosional, dan sulit ditonton — justru karena terasa nyata.

China, Taiwan, Hong Kong: Tekanan Prestasi dan Stigma

Better Days (2019)
Bullying dan sistem pendidikan yang menekan berjalan beriringan. Film ini menunjukkan bagaimana satu siswa bisa dihancurkan oleh lingkungan yang seharusnya melindungi.

Trouble Girl (2023)
Label “anak bermasalah” sering kali adalah bentuk bullying paling rapi. Film ini menyentil betapa mudahnya sekolah menyerah pada stigma.

The Bold, the Corrupt, and the Beautiful (2017)
Relasi kuasa dan kekerasan sosial yang akarnya sudah tumbuh sejak bangku sekolah.

Thailand: Satir yang Menusuk

Bad Genius (2017)
Bukan film bullying secara langsung, tapi ketimpangan dan tekanan akademik yang digambarkan di sini adalah pupuk subur lahirnya perundungan.

Girl From Nowhere (Series)
Setiap episode seperti tamparan. Bullying, kemunafikan guru, dan sistem sekolah dibedah tanpa basa-basi.

Indonesia: Luka yang Masih Kita Enggan Bahas

Kucumbu Tubuh Indahku (2018)
Perundungan yang membentuk identitas, dibungkus stigma dan kekerasan sosial.

Dua Garis Biru (2019)
Bukan soal bullying fisik, tapi penghakiman sosial terhadap remaja yang salah langkah.

Penyalin Cahaya (2021)
Kekuasaan, pembungkaman, dan korban yang dipaksa diam. Film ini relevan untuk diskusi keamanan di lingkungan pendidikan.

Barat: Dari Lembut sampai Brutal

Wonder (2017)
Film yang mengajarkan empati tanpa harus berteriak.

Carrie (1976)
Bullying yang dibiarkan terlalu lama berubah jadi horor. Harfiah.

Elephant (2003)
Dingin, lambat, dan tidak memberi jawaban mudah. Sekolah sebagai ekosistem kekerasan.

The Perks of Being a Wallflower (2012)
Tentang bertahan hidup, pertemanan, dan proses sembuh.

Mean Girls (2004)
Komedi yang sebenarnya pahit. Bullying sosial tidak selalu berteriak, kadang tersenyum.

Eropa & Lainnya

Kes (1969 – Inggris)
Sekolah yang mematahkan mimpi anak kelas pekerja.

This Is England (2006 – Inggris)
Bullying dan kekerasan sebagai warisan sosial.

Entre les murs (2008 – Prancis)
Kekerasan verbal di ruang kelas yang terasa sangat nyata.

The Black Balloon (2008 – Australia)
Stigma, keluarga, dan sekolah yang sering gagal memahami.

Taare Zameen Par (2007 – India)
Anak yang dianggap bodoh hanya karena sistem tidak mau mendengar.

Monsieur Lazhar (2011 – Kanada)
Trauma kolektif dan cara dewasa yang sering salah menangani anak-anak.

Butterfly’s Tongue (1999 – Spanyol)
Tentang pendidikan, ketakutan, dan kekerasan sosial yang halus tapi mematikan.

Film-film ini tidak menawarkan akhir bahagia yang rapi. Tapi mereka melakukan satu hal penting: mengakui bahwa bullying itu nyata, menyakitkan, dan meninggalkan bekas panjang.

Sekolah seharusnya jadi tempat belajar, bukan tempat belajar bertahan hidup. Dan selama bullying masih dianggap urusan sepele, film-film seperti inilah yang terus dibutuhkan — untuk mengingatkan kita, bahwa diam juga bisa ikut melukai. (gie)

Pos terkait