Opini Musri Nauli : Aur

perjalanan betuah (26)
Musri Nauli. (Ist)

Jambi Seru – Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, “aur” kemudian diartikan “duri bambu yang berduri, kuning bambu kuning, licin bambu yang tidak berduri”.

Kekerabatan Melayu dapat dilihat dalam seloko adat. “Sumpah setio. Ke langit sama dikadah Ke bumi sama dikutungkan, Darah samo dikacau, daging samo dikimpal, Kehilir serentak dayung, kemudik sehentak satang, Kebukit samo mendaki, kelurah samo menurun, Tegak sama tinggi, duduk sama rendah, serumpun bak serai, seinduk bak ayam, Tolong menolong bagai aur dengna tebing, Tudung menudung bagai daun sirih, samo-samo berbenteng dadober berkuto betis beranjau, tunjuk menunjuk menghadapi musuh, Tidak boleh pepat diluar rencong didalam, tidak boleh budi menyuruk akal merangkak, Menggunting dalam lipatan, tidak boleh menohon kawan seiring, harus sesopan semalu, Dapat samo belabo hilang samo merugi. Samo makan tanah bila telungkup, samo minum air bila telentang”

“Jiko tumbuh silang selisih dalam kampung, diantara anak dengna penakan, ada yang bertukar pendapat, selisih paham. Urus dengan segera. Jangan dengar bak hujan ditengah malam. Dibiarkan bak jando ditumbuk biduk. Bilo lah aur tumbuh matonyo. Kita tidak boleh duduk bepangku tangan. Tidak dibenarkan betelingo pekak. Bemato buto. Tapi, kalau orang dak ngadu, jangan pulo merujak labing. Serenteh bumbun.

Bacaan Lainnya

Di tengah masyarakat Melayu Jambi memang dikenal “Bak aur dengan tebing, tebing sayang ke aur, aur sayang dek tebing, tebing runtuh aur tebawo. Tidak terpisahkan antara tebing dengan aur

Ya. Istilah aur merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Dengan adanya “aur” maka aur kemudian menjadi penahan tebing agar tidak runtuh. Sedangkan apabila runtuhpun tebing, maka aur mengikuti tebing dan hanyut ke air.

Tanda-tanda berdasarkan kepada tambo masih mudah diidentifikasikan dan masih terlihat sampai sekarang. Biasanya merujuk kepada tanda-tanda alam seperti sungai, aur, tebing, pohon, pematang.

Sebagai identitas, Penamaan Sungai juga ditandai dengan nama tempat Desa. Seperti Sungai Pinang, SUngai Arang, Sungai Kerjan, Sungai Mengkuang, Sungai Binjai (Bungo), Sungai Keruh, Sungai Rambai, Sungai Jernih (Tebo), Sungai Rengas, Sungai Terap, Sungai Aur, Sungai Bungur, Sungai Bahar, Sungai Gelam, Sungai Bertam (Muara Jambi), Sungai Manau, Sungai Lisai, Sungai Putih (Bangko).

Dusun Pulau Puro dikenal sebagai Dusun Kecil. Sedangkan Dusun Tanjung Aur berasal dari istilah “Aur”. Aur artinya “bamboo”. Memang Dusun ini memiliki banyak bamboo. Bambu yang banyak terletak di Tanjung. Sehingga dikenal sebagai “Dusun Tanjung Aur.

Sebagaimana dituliskan oleh Prof. Dr. S Budhisantoso, dkk didalam bukunya Kajian Dan Analisa Undang-undang Piagam dan Kisah Negeri Jambi, dapat dilihat didalam adagium ”Batangnyo Alam Barajo”. Seperti Jebus meliputi Sabak dan Dendang, Simpang, Aur Gading, Tanjung dan Londrang.

Begitu juga Maro Sebo meliputi Sungai Buluh, Pelayang, Sengkati Kecil, Sungai Ruan, Buluh Kasap, Kembang Seri, Rengas Sembilan, Sungai Aur, Teluk Lebar, Sungai Bengkal, Mengupeh, Remaji, Rantau Api, Rambutan Masam dan Kubu Kandang.

Atau Pinokawan meliputi Dusun Ture, Lopak Aur, Pulau Betung dan Sungai Duren.

Atau bisa juga dilihat di Perisai Tujuh Koto Sembilan Koto, keturunan Sunan Pulau Johor, Gelar Paku Negoro, Jabatan Tumenggung, Tugas menunggu rumah Pusaka Sunan Pulau Johor dan Pegawai kerajaan yang kemudian memuat diantaranya Tanjung Aur

Begitu juga Batin III Ulu yang terdiri diantaranya Aur Chino.

Di Marga Senggrahan dikenal aturan pengelolaan terhadap hutan adat. Salah satunya menyebutkan Aur Cino.

Selain itu juga dusun-dusun termasuk kedalam Marga IX Koto diantaranya Dusun Tanjung Aur.

Di Marga Tungkal Ulu juga dikenal Waris Nan delapan yaitu Waris Aur Duri.

Tidak salah kemudian istilah aur memang menjadi pelekat dan pengetahuan sehari-hari ditengah masyarakat Melayu Jambi. (*)

Advokat. Tinggal di Jambi

Pos terkait

banner pln