Paksa Tonton Film Dewasa, Bapak Rudapaksa Anak Tiri

Ilustrasi korban pemerkosaan.
Ilustrasi.

JAMBISERU.COM – Kasus rudapaksaan terhadap anak kembali terjadi. Baru-baru ini, seorang Bapak, R (34), tega memrudapaksa anak tirinya Bunga (19) –bukan nama sebenarnya- setelah terlebih dahulu memaksa korban nonton film wikwik. Setelah dua tahun memrudapaksa korban, korban akhirnya hamil 6 bulan. Saat inilah aksi bejat pelaku terungkap.

Baca Juga : 20 Situs Nonton – Download Film Selain lk 21 indoXXI

Dilansir laman Merdeka.com, pemerkosaan berujung kehamilan itu terjadi di Desa Sebulu, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Pelaku langsung ditangkap polisi.

Bacaan Lainnya

“Tanggal 1 Agustus kemarin, kita amankan terduga pelaku di rumahnya,” kata Kapolsek Sebulu AKP Zainal Arifin.

Menurut keterangan pelaku kepada polisi, awal mulanya ia tergoda dengan kemolekan tubuh anak tirinya yang saat itu baru berusia 17 tahun itu atau kelas 1 SMA. Gadis remaja yang masih duduk di bangku SMA itu, sudah ditarget korban sejak beberapa waktu lalu.

BACA JUGA: Sadis! Gadis yang Ditemukan Tewas di Sawah Dirudapaksa Saat Pingsan

Malah, pelaku berkali-kali mengajak langsung korban untuk wik wik layaknya suami istri. Rayuan maut itu dilakukannya ketika istrinya sedang tidak berada di rumah. Namun korban tak goyah dengan bujuk rayu pelaku.

Pelaku yang sudah tak sanggup menahan nafsu itu, satu hari memaksa korban untuk menonton film bokeh. Tujuan pelaku agar korban terangsang. Pada saat itulah ia memrudapaksa korban.

Parahnya lagi, sebelum berhasil memrudapaksa korban, Bapak tiri itu membujuk korban dengan janji akan menikahi korban.

“Pelaku sempat janji akan menikahi korban jika korban hamil, namun korban selalu menolak,” terang Kapolsek, dikutip dari laman Korankaltim.com.

Sekali aksi bejatnya berhasil, pelaku terus memrudapaksa korban hingga puluhan kali. Ketika usia korban beranjak 19 tahun tepatnya kelas 3 SMA, korban hamil. Namun pelaku tetap melancarkan aksi bejatnya hingga 31 Juli 2019.

Baca Juga Berita Jambi : Di Merangin, Kakek Cabuli Cucu Usia 7 Tahun di Pondok Durian

Kepada polisi, pelaku mengaku memrudapaksa anak tirinya itu hanya sebanyak 10 kali.

Setelah menanggung rahasia memilukan selama dua tahun lamanya, akhirnya korban yang tak sanggup menahan beban itu memutuskan tak masuk sekolah selama dua pekan. Keluarga mencari keberadaan korban. Ketika korban ditemui, betapa kaget keluarga mengetahui bahwa korban sudah berbadan dua.

Keluarga langsung menginterogasi korban. Korban menceritakan bahwa ia telah dirudapaksa bapak tirinya sendiri selama beberapa waktu ini. Mendengar pengakuan korban, keluarga korban yang marah dan kelas, melaporkan kasus pencabulan anak di bawah umur itu ke polisi.

Polisi yang mendapat laporan itu segera bergerak. Pada Kamis 1 Agustus 2019, pelaku dibekuk polisi. Sehari kemudian, pelaku yang berprofesi sebagai petani itu ditetapkan sebagai tersangka.

Selain karena tergiur kemolekan tubuh putrinya yang beranjak remaja itu, pelaku mengaku itu dilakukannya karena tak memperoleh keturunan dari istrinya tersebut.

“Sehingga pelaku nekat melakukannya kepada anak tirinya,” tambah Kapolsek.

Atas perbuatannya itu, pelaku terancam hukuman penjara maksimal 15 tahun. Ia dijerat UU nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan UU 23/2002 tentang perlindungan anak, dan juga penetapan Perpu nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua UU 23/2002 tentang perlindungan anak.

BACA JUGA: Tak Ada Lokalisasi, PSK Jambi Beralih ke Aplikasi, Ini Aplikasinya…

Sementara pelaku dipenjara, korban putus sekolah. Kehamilannya membuat ia kehilangan pendidikan. Masa depannya buram. Sungguh malang.

Semoga kejadian seperti tak pernah lagi terjadi di negeri kita. Mengingat, angka rudapaksaan orang tua terhadap anaknya terus meningkat.

Kasus Kekerasan Seksual Perempuan dan Anak Meningkat

Dari data yang dirilis Komnasperempuan lewat situs resminya komnasperempuan.go.id, diketahui bahwa di tahun 2018, kasus kekerasan wikwikual terhadap perempuan dan anak meningkat 64 persen dari tahun-tahun sebelumnya.

Rincinya, pencabulan sebanyak 1.136 kasus, rudapaksaan 762, pelecahan wikwikual 394 dan persetubuhan 156 kasus. Sebagian besar data bersumber kasus yang ditangani Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Agama.

Angka kekerasan terhadap anak perempuan yang menempati 3 tertinggi di ranah kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) itu, membuat rumah tak lagi aman bagi anak-anak perempuan. Apalagi, di tahun 2018, kasus inses atau hubungan sedarah atau martial rape berjumlah 1.017 kasus. (red/berbagai sumber)

Pos terkait