Kawasan Candi Muaro Jambi Terancam Gagal Masuk UNESCO

  • Whatsapp
Candi
Komplek Percandian Muara Jambi. Foto : Doni/Jambiseru.com

Kawasan Candi Muaro Jambi Terancam Gagal Masuk UNESCO

JAMBISERU.COM – Candi Muaro Jambi yang merupakan saksi bisu peradaban budaya dan menjadi Ikon Provinsi Jambi, yang diajukan masuk oganisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) terancam gagal.

Baca Juga : Pemuda di Merangin Nekat Panjat Tower 70 Meter

Pasalnya, Pemerintah terkait, seperti Pemerintah Kabupaten (Pemkab) maupun Pemerintah Provinsi (Pemrov) dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), belum serius untuk melajutkan perjuangan yang dari tahun 2009 diajukan ke UNESCO.

Selain itu, dikawasan Candi Muaro Jambi, juga masih terdapat Stockpile batu bara. Bahkan, di dalam kawasan pen-idustrian terdapat juga Candi yang berdiri di sana.

Baca Juga : LIPSUS: Candi Muaro Jambi, Dulu Angker Kini Jadi Idola

Bagaimana tidak, dari tahun 2009 pergantian kepala Daerah terus berganti, dan konflik antara masyarakat dan kawasan per-industrian terus terjadi, dan membuat kawasan Candi Muaro Jambi terancam gagal masuk situs warisan dunia.

Menanggapi hal ini, pegiat pariwisata, Muhtar Hadi, menjelaskan, sejarahnya, kawasan Candi Muaro Jambi, yang didaftarkan ke UNESCO. Katanya, pada tahun 2009 lalu ada seminar yang diadakan di hotel wiltop Jambi. Membahas tentang Candi Muaro Jambi menuju warisan dunia. Di dalam pembahasan itu ada instansi seperti Dinas Pariwisata dan BPCB, yang mempunyai misi untuk mengangkat kawasan Candi Muari Jambi, karena mempunyai potensi Daerah Provinsi Jambi.

“Kemudian, diusulkan lah menjadi warisan dunia. Akhirnya dari UNESCO mengeluarkan daftar atau masuk tentatif list UNESCO dari 2009, dan kini 2020 ini pun masih daftar tunggu terus belum menjadi warisan dunia,” katanya kepada Biru (Jambiseru.com), Selasa (14/7/2020) lalu.

Menurut menurut hemat Muhtar, kurang lebih 10 tahun ini belum ada keseriusan, masalah keseriusan dari tingkatan yang mempunyai wilayah, tingkatan Kabupaten untuk menindaklanjuti. Karena, intinya semua data untuk kawasan Candi Muaro Jambi ini harus dimiliki oleh kabupaten.

“Belum lagi mengenai pembenahan yang berada di kawasan, misalkan fasilitas yang ada di dalam, konflik-konflik yang harus diselesaikan di dalam kawasan candi muaro jambi. Saya contohkan di kawasan situs yang sekarang menjadi kawasan cagar budaya nasional yang ditetapkan di tahun 2013 masih terdapat titik-titik stockpile batu bara, ini kan sudah menyalahi aturan uu nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya, mengalihkan fungsi kawasan, dan ini belum selesai sampai kini. Ini di tahun 2009,” terangnya, yang biasa disapa Borju.

Kata Borju, untuk berdirinya stockpile batu bara itu sebelum 2009 sudah ada. Belum lagi yang di kemingking dalam, yang dulu bekas perusahaan polywood kayu, itu dari tahun 90an sudah berdiri juga dan di sana pun ada situs candi.

“Seperti candi teluk 1, teluk 2 di kemingking dalam ini kan menjadi permasalahan. Menurut saya kalau itu masih berada di kawasan cagar budaya, mustahil masuk warisan dunia, masalahnya itu,” terangnya lagi.

Kemudian, kawasa penindustrian Ini menjadi ancaman dari kelestarian kawasan itu. tingkat kerusakan pasti bertambah parah. Ia menerangkan, yang namanya situs yang sudah ribuan tahun terpendam di dalam tanah, terus di sana berdiri aktivitas industri, getaran mesin, limbah industri, yang akan memperparah kerusakan dari cagar budaya itu.

“Belum lagi perkebunan kelapa sawit yang berada di beberapa situs, satu situsnya yaitu di arah barat masuk ke dalam desa danau lamo yaitu bukit perak, itu dikelilingi sawit,” jelasnya.

Menurut Borju, dari 2009-2020 ini belum adanya titik temu, koordinasi yang jelas, antara beberapa instansi yang terkait mengenai kawasan cagar budaya. Misalkan dinas pariwisata, Balai cagar budaya, yang masih mempunyai pikiran masing-masing untuk membenahi kawasan cagar budaya.

“Menurut saya sudah selamo 10 tahun ini, di UNESCO pun punya aturan, saya rasa terancam gagal. Karena data dari tahun 2009 yang diajukan itu pastilah berubah, belum lagi dia berubah menjadi warisan budaya nasional, belum lagi data tingkat kunjungan, ini kan harus di update, perkembangannya seperti apa,” menurutnya.

Borju pun berharap, pengambil kebijakan di Provinsi Jambi ini, diharapkan harus mempunyai visi misi, selain di bidang yang lain misalnya bidang pendidikan. harus juga masuk ke dalam ranah bidang kelestarian cagar budaya yang ada di jambi, karena ini potensi besar di Provinsi Jambi.

“Harapan saya siapa pun pemimpinya harus mengangkat ini, mengangkat kawasan situs candi muaro jambi untuk seutuhnya menjadi warisan dunia,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Ema, menyampaikan, pihaknya sedang membuat tim kecil, antara Provinsi Jambi, Kabupaten dan BPCB untuk terus mengangkat untuk kawasan Candi Muaro Jambi menjadi warisan situs dunia.

“Yang berhak mengusulkan itu sebenanrnya kabupaten dan atau provinsi, kami selalu mengingatkan kabupaten untuk menjadi prioritas UNESCO” ujarnya, saat ditemui, Sabtu (18/7/2020).

Baca Juga : Update Corona Jambi Hari Ini, Positif Tetap Sembuh Bertambah 3

Ema menambahkan, seingatnya waiting list kawasan Candi Muaro Jambi di UNESCO itu masih terdaftat.

“Kemarin memang sempat tertidur, jadi kita mengusulkan kembali, apakah waiting list kemarin harus diperbahrui atau tidak, kita harus cek kembali. Itu lah tim yang kami bentuk menginvetaris kembali, atau itu saja yang diteruskan,” tutupnya. (Yog)

Pos terkait