LIPSUS: Candi Muaro Jambi, Dulu Angker Kini Jadi Idola

  • Whatsapp
Candi
Komplek Percandian Muara Jambi. Foto : Doni/Jambiseru.com

LIPSUS: Candi Muaro Jambi, Dulu Angker Kini Jadi Idola

JAMBISERU.COM, Sengeti – Ada banyak obyek wisata di Provinsi Jambi. Salah satunya situs percandian Muara Jambi, di Desa Muara Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Dahulu, tempat ini terkesan angker, tapi kini, jadi idola untuk dikunjungi pada hari-hari libur. Seperti apa candi Muara Jambi? Berikut laporan wartawan Biru (Jambiseru) Rahmadhoni Yusal.

————————————————

Minggu 5 Januari 2020, Candi Muara Jambi terlihat ramai diserbu pengunjung. Bangunan candi yang rapi itu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Malah, hingga sore hari, masih banyak masyarakat yang masuk ke dalam kawasan candi tersebut.

Kawasan yang penuh dengan situs-situs peninggalan sejarah itu, didatangi pengunjung untuk belajar sejarah dan berselfie ria. Intinya, setiap hari libur, Candi Muara Jambi ramai dikunjungi wisatawan dalam maupun luar negeri.

BACA JUGA : LIPSUS: Harga Rokok Naik, “Ahli Hisap” Sesak Nafas

Untuk diketahui, kompleks Candi Muara Jambi kini banyak mengalami perubahan. Dahulu, kawasan Cagar Budaya Muara Jambi terkesan angker dan penuh mistis. Malah, ada cerita-cerita yang dikait-kaitkan dengan unsur magis saat berkunjung ke candi ini. Misalnya, jangan bawa pacar ke candi Muara Jambi, kalau nekat tetap bawa pacar, sepulang dari candi akan putus.

Tetapi itu dulu. Kini, kawasan Candi Muara Jambi ramai dikunjungi karena fasilitasnya dari hari ke hari kian lengkap. Di dalam kawasan percandian, sudah disediakan jalan bagi pengunjung untuk berjalan kaki. Bahkan, bagian jembatan penghubung candi juga sudah direnovasi.

Selain itu, di sekitar areal candi-candi tersebut juga telah disediai tempat duduk yang dibuat dari keramik. Di beberapa sudut sudah ada pendopo dan mushola. Dan pepohonan berperan menghijaukan dan mengindahkan area-area situs percandian Muara Jambi.

Masyakarat yang berkunjung ke Candi Muara Jambi datang dari berbagai golongan. Mulai dari pelajar hingga masyarakat umum. Selain itu, pengunjung yang ke sana tak hanya warga Kota Jambi maupun warga Muaro Jambi, tapi juga dari luar daerah.

Contohnya Laila. Ia datang dari Kabupaten Sarolangun. Sengaja datang menikmati suasana sore di area candi tersebut. Ditanya Biru (Jambiseru) kenapa memilih candi Muara Jambi menjadi tempat untuk berlibur, Laila menjawab bahwa Candi Muara Jambi bagus untuk spot-spot foto.

“Di area Candi Gumpung bagus untuk berfoto. Kami ke sini juga ingin mencari bulek (orang luar negeri, red) Bang,” ujarnya, tertawa renyah.

Baca hanya di Jambiseru[dot]com : Pertanyaan dan Jawaban yang Biasa Diajukan untuk Jambi

Berbeda dengan Deni, warga Kota Jambi. Ia mengatakan, pergi ke Candi Muaro Jambi ingin memperkenalkan warisan sejarah yang ada di Provinsi Jambi kepada keluarganya di luar Provinsi Jambi.

“Kebetulan ada keluarga saya dari Provinsi Sumatera Barat main ke Jambi. Jadi saya bawa kesini lah, sekalian memperkenalkan situs sejarah di Provinsi Jambi,” sebut Deni.

Deni menambahkan, selain untuk memperkenalkan sejarah Provinsi Jambi, Kawasan Candi Muara Jambi juga nyaman untuk membawa anak bermain di candi ini.

“Udara di sini sejuk, jadi anak-anak bisa bermain dengan nyaman,” ujarnya.

Luas Percandian Hingga 3.000 Hektar

Kawasan percandian Muara Jambi memiliki luas sekitar 3.981 hektar. Kini sudah 9 Candi ditemukan. 9 Candi itu terdiri dari, Candi Kedaton, Gedong I, Gedong II, Gumpung, Gumpung II, Tinggi, Tinggi I, Kembar Batu dan Candi Astono.

Selain itu, kawasan Candi Muara Jambi ini pun mencakup dua Kecamatan dengan tujuh Desa di Kabupaten Muaro Jambi. Dua kecamatan itu yaitu, Kecamatan Maro Sebo dan Kecamatan Taman Rajo.

“Sedangkan desa-desanya yakni, Desa Baru, Desa Danau Lamo, Desa Muara Jambi, Desa Kemingking Luar, Desa Kemingkin Dalam, Desa Teluk Jambu dan Desa Dusun Mudo,” kata Arkeolog lulusan Universitas Jambi, Wira kepada Biru (Jambiseru) di Candi Muara Jambi, Minggu (5/1/2020).

Wira menjelaskan, candi yang saat ini ada paling banyak terletak di Desa Muara Jambi. Kata dia, untuk di desa lainnya juga ada, tapi masih diduga cagar budaya.

“Kondisi candinya masih berupa gundukan tanah atau runtuhan bata. Kalau istilah lokal-nya, Menapo,” jelasnya.

Dikatakan Wira, pada tahun 2019 lalu, Kawasan ini juga terdapat temuan candi terbaru. Candi itu dinamakan Candi Gumpung II. Lanjutnya, Candi tersebut kini telah selesai dilakukan tahap pemugaran.

“Letak Candi itu, persis di sisi Utara dari Candi Gumpung dan di sisi Barat dari Candi Tinggi,” cerita pria asli Desa Muara Jambi itu.

Pertama Ditemukan Tahun 1820

Wira juga menyampaikan tentang sejarah singkat Candi Muara Jambi ini. Disebutkan Wira, candi di kawasan cagar budaya Muara Jambi tersebut ditemukan pada tahun 1820, oleh seorang perwira angkatan laut kerajaan Inggris yang bernama S.C Crooke.

Pada tahun tahun berikutnya, penelitian dan peninjauan awal dilakukan oleh Schnitger di tahun 1930-an. Ia seorang yang memiliki minat khusus dalam peninggalan sejarah Indonesia, terutama peninggalan di pulau Sumatera.

Kemudian, di tahun 1954, arkeolog Indonesia melalui R Soekmono melakukan pendataan dan survei peninggalan-peninggalan arkeologis di kawasan cagar budaya Muara Jambi. Dalam kunjungannya, didapat informasi bahwa Candi Gumpung, Candi Tinggi serta reruntuhan bata lainnya, sedang mengalami kerusakan yang cukup tinggi disebabkan oleh pengaruh alam dan perubahan lingkungan.

Lalu, pada tahun 1974, instansi pemerintah yang bergerak di bidang peninggalan purbakala melalakukan pembersihan di beberapa candi tersebut. Dari kegiatan itu, terlihat 7 candi yang telah diketahui bentuknya.

“Pada dua tahun berikutnya, proses pelestarian dalam hal pemugaran struktur Candi, yang berbahan bata dilakukan secara insentive hingga dengan saat ini,” papar Wira.

Wira menyatakan, minat pengunjung di Candi ini cukup ramai karena di sini disuguhkan langsung dengan candi-candi kecil yang penuh makna pada masa lalu.

Sementara, salah satu penjaga Candi Muara Jambi mengatakan, tingkat pengunjung di Candi Muara Jambi ini hanya mengalami peningkatan di saat hari libur saja.

“Kalau hari biasanya sih standarlah, kurang lebih 500 pengunjung. Tapi kalau hari Sabtu-Minggu atau tanggal merah, itu bisa mencapai ribuan pengunjung. Contohnya, pada awal tahun 2020 ini, jumlah pengunjung naik drastis, pada hari itu pengunjung sekitar 8.500,” tutupnya.(*)

Pos terkait