Opini Musri Nauli : Bangsa Petarung

Soal Putusan MK
Direktur Media, Publikasi dan Opini Al Haris-Abdullah Sani, Musri Nauli SH.Foto: Jambiseru.com

Jambiseru.com – Akhir-akhir ini, tema Melayu menarik perhatian publik ketika tanah Melayu yang Sudah lama didiami kemudian dicaplok dengan alasan investasi.

Terlepas dari bagaimana negara memandang investasi, namun membicarakan Melayu tidak dapat dipisahkan dengan sejarah panjang peradaban yang mesti harus dilihat utuh.

Secara fenomologis, Melayu merupakan sebuah entitas kultural (Malay/Malayness sebagai cultural termn/terminologi kebudayaan). Masyarakat Melayu pada dasarnya dapat dilihat (a) Melayu pra-tradisional, (b) Melayu tradisional, (c) Melayu Modern.

Bacaan Lainnya

Dilihat dari kategorinya, maka masyarakat Melayu dapat diklasifikasikan dalam Melayu tradisional. Menurut Yusmar Yusuf, kearifan dan tradisi Melayu ditandai dengan aktivitas di Kampung. Kampung merupakan pusat ingatan (center of memory), sekaligus pusat suam (center of soul). Kampung menjadi pita perekam tradisi, kearifan lokal (local wisdom).

Selain itu juga dalam konsepsi Socifactual ditandai dengan bentuk kehidupan sosial kemasyarakat seperti kerapatan adat.

Sistem mata pencarian adalah petani. Walaupun kemudian juga dikenal mata pencarian sebagai nelayan. Orientasi ruang merujuk kepada sungai. Hal ini disebabkan karena kawasan perairan merupakan sumber kehidupan sekaligus gerbang untuk berhubungan dengan negeri-negeri jauh.

Dengan demikian, maka kawasan perairan bagi Melayu adalah halaman depan. Sedangkan halaman belakang adalah kawasan hutan yang memberi kehidupan dan melindungi mereka.

Rumpun Melayu termasuk kedalam 9 suku yang dominan dari 650 suku di Indonesia. Zulyani Hidayah didalam Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia menunjukkan terdapat lebih kurang 658 suku di Nusantara. Dari enam ratusan, 109 kelompok suku berada di belahan barat, sedangkan di Timur terdiri dari 549 suku. 300 berada di Papua.

Sejarah panjang masyarakat Melayu tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang perabadan masyarakat melayu itu sendiri. Berbagai ornamen sejak zaman Megalitikum hingga Islam modern, masyarakat Melayu tidak dapat dipisahkan.

Berbagai catatan sejarah menunjukkan, berbagai peradaban baik dimulai dari zaman Megalitikum, Budha, Hindu, Islam bahkan kolonial dapat ditemukan berbagai jejak yang Masih dapat dilihat.

Menurut data berbagai sumber, Orang Eropa pertama yang datang ke Pantai Barat Sumatera adalah bangsa Portugis. Bangsa tersebut mendatangi kawasan itu pertama kali tahun 1519, tidak lama setelah mereka menaklukkan Malaka pada tahun 1511. Kunjungan berikutnya dilakukan tahun 1521, 1543 dan 1561. Armada-armada Portugis ini sempat menyinggahi Barus, Tiku, Pariaman, serta sejumlah kota bandar di bagian selatan Pantai Barat Sumatera.

Orang Eropa kedua yang mendatangi Pantai Barat Sumatera adalah Bangsa Prancis. Mereka datang pertama kali tahun 1527, namun tidak banyak keterangan mengenai kedatangan kapal yang berangkat dari Diepe, sebuah kota pantai dan bandar niaga serta pangkalan laut Prancis yang terletak di Selat Inggris itu.

Orang Eropa ketiga yang mendatangi Pantai Barat Sumatera adalah bangsa Inggris. Sebagaimana dikemukakan oleh Denys Lombard, armada Inggris telah hadir di kawasan ini pada perempat terakhir abad ke-16, dan Aceh adalah salah satu daerah pertama yang mereka datangi.

Orang Eropa keempat yang mendatangi Pantai Sumatera adalah bangsa Belanda. Mereka mendatangi kawasan ini (Pantai Barat Sumatera bagian selatan) pertama pada 1595. Armada yang dipimpin Cornellis de Houtman ini nyaris tidak bisa berjual beli di sana, karena itu mereka melanjutkan pelayarannya menuju Banten dan tiba pada tahun 1596. Walaupun kemudian juga berhasil berdagang di Sumatera.

Kisah sukses Belanda di Pulau Sumatera ini sesungguhnya bersamaan waktunya dengan didirikannya Vereenigde Oost-Indische Compagnie(VOC). VOC adalah sebuah perusahaan dagang yang didirikan dalam rangka menghindari persaingan yang tidak sehat di antara sesama saudagar Belanda yang sejak tahun 1595 berlomba-lomba mengirim kapal mereka ke Nusantara.

Walaupun VOC telah berdiri tahun 1602, tetapi pengaruh politik dan ekonomi kongsi dagang tersebut di Pantai Barat Sumatera belum kuat hingga tahun 1660. Selama lebih kurang 60 tahun, perusahaan dagang tersebut masih berkutat pada upaya menanamkan pengaruhnya, dan upaya itu dirasakan cukup berat serta menguras tenaga dan biaya. Beratnya upaya itu disebabkan oleh karena kuatnya pengaruh Aceh di Pantai Barat Sumatera. (Eko Yulianto, Gusti Asnan dkk. “VOC di Pantai Barat Sumatera dan Perkembangan Kota Padang Hingga Awal Abad ke 19”.)

Berbagai Catatan sejarah menunjukkan, bagaimana Kerajaan Sumatera berhasil menyerang pusat pertahanan Portugis. Kerajaan Siak perebut Johor (1744), Kerajaan Palembang – Jambi menyerang Johor (1777).

Bahkan Perlawanan Sumatera juga terjadi menjelang akhir-akhir kejatuhan Kolonial Belanda. Perang Riau (1782-1784), Perang Padri (1803 sampai 1837), Perang Aceh (1873 – 1904), Perang Jambi (1859-1907) adalah contoh-contoh bagaimana perlawanan rakyat Sumatera melawan kolonial Belanda.

Di Sumatera, kolonial Belanda tidak berhasil menaklukan perlawanan masyarakat. Di Lapangan sosial, berbagai sekolah yang dididirakan oleh Belanda tidak diminati penduduk Sumatera. Bentuk perlawanan dengan mendirikan berbagai sekolah agama berhasil menjaga masyarakat dari penjajahan budaya dari kolonial Belanda.

Berbagai pusat keagamaan terutama agama Islam berhasil mengobarkan perlawanan jihad dan penggunaan fatwa “Kafir” kepada Belanda. Fatwa ini kemudian efektif didalam mengobarkan perlawanan kepada Kolonial Belanda.

Tidak salah kemudian masyarakat Melayu di Sumatera kemudian dikenal sebagai bangsa pejuang. Bangsa Petarung.

Slogan yang paling terkenal seperti “Lebih baik berkalang tanah daripada berputih mata”, “musuh tidak dicari. Bertemu pantang dielakkan” adalah gambaran bagaimana masyarakat Melayu pantang menyerah terhadap kekuatan musuh yang menyerang.

Lalu apakah mental sebagai bangsa petarung dan mental pejuang sebagai masyarakat Melayu kemudian “diusik” ?

Jangan sesekali bangsa petarung diusik. Meminjam Seloko “membangkitkan batang terendam”, “membangunkan harimau tidur” adalah kekuatan dahsyat dari daya ledak bangsa petarung.
Sebuah kesalahan yang harus ditanggung siapapun yang berhadapan dengan bangsa petarung. Bangsa Kolonial Portugis, Inggeris dan Belanda telah merasakan akibatnya. (*)

Advokat. Tinggal di Jambi

Pos terkait