Opini Musri Nauli : Kesatria

perjalanan betuah (42)
Musri Nauli. (Ist)

JAMBI, Jambiseru.com – Dua persidangan yang melibatkan Inspektur Jenderal aktif didalam kasus “pembunuhan” dan “jual beli narkoba”, terlihat jelas “upaya sistematis” dari kedua pelaku untuk “mengalihkan” tanggungjawab kepada anggotanya yang menerima perintah.

Keduanya berujar bahwa “perintah” mereka kemudian “ditafsirkan salah” yang menerima perintah. Didalam hal ini adalah Anak buahnya.

Terlepas dari “Sang Jenderal” sebagai “otak Intelektual” pembunuhan sekaligus “aktor penting (daderl intelektual)”, sang Jenderal kemudian merasakan hukuman maksimal. Pidana mati.

Hakim kemudian “mengabaikan pembelaan dari terdakwa”.

Disisi lain, perkara “jual beli narkoba”, lagi-lagi sang pelaku (Inspektur Jenderal aktif) malah sibuk berkelit.

Termasuk menolak “memerintahkan” kepada Anak buahnya (notabene Mantan Kapolres Bukittinggi) dan jaringannya, malah sibuk menggunakan istilah “terawas” dari kata “tawas” dan menolak tidak pernah melihat barang bukti sabu-sabu seberat 5 kg.

Apabila kasus ini hanya melibatkan “orang biasa”, maka para tersangka memang sama sekali tidak “berkewajiban” untuk membuktikan perkaranya.

Tugas pembuktian perkara adalah Penyidik dan Jaksa Penuntut umum dimuka persidangan.

Bahkan terdakwa diberikan “hak ingkar” dari segala tuduhan.

Demikianlah asas didalam KUHAP.

Namun disisi lain, Dua peristiwa ini kemudian mengajarkan bagaimana “seorang komandan” yang mempunyai posisi penting, posisi moncer hingga berbagai jabatan yang mumpuni kemudian malah menunjukkan sikap “memalukan”.

Menghindarkan “tanggungjawab” dan melemparkan kesalahan kepada anggota.

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, kata kesatria adalah orang (baca prajurit dan perwira) yang gagah berani. Bisa juga diartikan sebagai “pemberani”.

Kesatria juga termasuk orang yang dipandang penting didalam struktur masyarakat.

Termasuk juga kasta kedua didalam masyarakat Hindu.

Kesatria juga ditempatkan sebagai bangsawan atau kasta prajurit.

Sebagai “orang penting” didalam struktur sosial ditengah masyarakat, kesatria mempunyai kemampuan “bertarung” di medan pertempuran, berkorban termasuk jiwa raganya, menjaga kedaulatan negara dan mengabdi kepada sang Raja.

Pos terkait