Opini : Dua atau Tiga?

  • Whatsapp
Mutia. (Ist)
Mutia. (Ist)

Opini : Dua atau Tiga?

Oleh : Mutia Jurnalis*

Bacaan Lainnya

JAMBISERU.COM – Menarik turut menyimak kekuatan pasangan calon Gubernur Jambi yang akan bertarung merebut tampuk kekuasaan orang nomor satu di Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah yang jika tidak ada perubahan akan digelar 9 Desember mendatang. Selain pasangan Al Haris – Abdullah Sani yang telah berada di posisi aman sejak jauh-jauh hari – pasangan ini telah mendapat dukungan 18 kursi masing-masing dari PKB (5 kursi), PKS (5 kursi), Berkarya (1 kursi) dan PAN yang telah memutuskan dukungannya dengan 7 kursi yang mereka punya. Tiga pasangan lain tengah ketar ketir berebut kursi.

Ketiga pasangan tersebut adalah Fachrori Umar (FU) – Safrial, Cek Endra – Ratu Munawaroh dan Syarif Fasha – Asafri Jaya Bakri (AJB). FU – Safrial kemungkinan besar bisa lolos ikut kontestasi karena telah mengantongi dukungan dari Gerindra (7 kursi) dan Hanura (2 kursi) plus jika dapat Demokrat (7 kursi). Tinggal pasangan Cek Endra – Ratu Munawaroh dan Syarif Fasha – AJB yang ‘nasibnya’ tengah dipertaruhkan.

Seperti diketahui, Cek Endra – Ratu sementara baru mengantongi dukungan dari Partai Pohon Beringin (Golkar) dengan 7 suara. Meski mereka mengklaim mendapat dukungan dari partai moncong putih (PDIP), namun toh PDIP belum menunjukkan arah dukungannya ke mana. Elit politik dibuat menunggu. Masyarakat dibuat bertanya-tanya, ke manakah dukungan PDIP akan dijatuhkan, mengingat Safrial yang akan maju menjadi calon wakil gubernur Jambi adalah kader militan PDI. Jika partai pemenang Pilpres ini memberikan dukungannya ke kadernya sendiri, Safrial, bisa dipastikan Pilgub Provinsi Jambi hanya akan diikuti dua pasangan saja, yaitu Haris-Sani dan FU- Safrial.

Pertanyaannya, cukup bernyalikah PDIP mengusung Safrial?

Meski Safrial adalah mantan bupati Tanjung Jabung Barat, namun namanya tidak cukup dikenal masyarakat diluar daerah Serengkuh Dayung Serentak Ke Tujuan itu. Namanya tidak cukup gaung yang bisa berkontribusi merebut suara di kabupaten lain. Terlebih Safrial mendampingi FU. Meski FU adalah petahana, namun secara personal, sosoknya bukanlah calon favorit. Saat mendampingi pencalonan HBA dan kemudian disambung di masa Zumi Zola, nasibnya dinilai hanya bernaung pada keberuntungan. Kekuatan calon gubernur yang ia dampingilah yang membuat posisinya diuntungkan. Secara basis suara, meski dianggap mewakili Jambi bagian barat (Bungo) tidak terlalu berkontribusi menyumbang suara secara signifikan. Terlebih masyarakat sudah amat cerdas dalam menilai kepiawaian kepemimpinnya yang menerima tampuk pemerintahan secara otomatis akibat lengsernya Zumi Zola yang tersandung masalah korupsi.

Sementara itu, Cek Endra – Ratu mengklaim mendapat dukungan PDIP. Bahkan foto-foto pasangan ini berbackground partai moncong putih itu telah beredar di media sosial. Foto – foto ini semacam ‘frame’ yang sengaja diciptakan agar seolah-olah PDIP telah menjatuhkan pilihannya dalam memberikan dukungan. Jika benar PDIP memberikan dukungannya ke pasangan Cek Endra – Ratu, maka dapat dipastikan Pilgub akan diikuti tiga pasang calon. SY Fasha – AJB dipastikan tersingkir.

Mereka tak punya dukungan partai yang cukup sebagai syarat mutlak untuk maju dalam kontestasi Pilgub nanti (20 persen dari kursi di DPRD/11 kursi). Parpol pengusung Fasha – AJB besar kemungkinan membubarkan diri dan memilih pasangan calon lain untuk diberikan dukungan. Kabar terakhir, Partai Nasdem salah satu partai yang berkoalisi dengan PKB untuk mengusung Fasha – AJB, telah berkomunikasi dengan pasangan calon Haris – Sani. Jika benar partai bentukan Surya Paloh ini memberikan dukungan ke Haris – Sani, maka Haris – Sani akan mendapat tambahan 2 kursi lagi, menjadi 20 kursi.

Perebutan partai PDIP menjadi titik nadir penentu nasib karier politik Cek Endra. Padahal, pendukung di lini rumput, telah berhasil mensosialisasikan nama Bupati Sarolangun ini menjadi cukup populer di kalangan masyarakat. Langkah-langkah tim pendukungnya dianggap sukses mempopulerkan dirinya. Namun, populer saja ternyata tidak cukup. Kepopuleran harus berbanding lurus dengan kepiawaian dalam melobi partai. Dan Cek Endra tidak bisa membuktikan kepiawaian melobi tersebut. Terbukti hingga sisa waktu yang tinggal sedikit, ia hanya mendapatkan dukungan partai Pohon Beringin. Jika ia gagal melobi PDIP untuk memberikan dukungan pada Pilgub nanti, karier politik Cek Endra bisa tamat riwayat. Musdalub bisa diberlakukan karena ia akan dianggap gagal. Pilgub kali ini bukan lagi masalah ajang kontestasi politik, tetapi juga hidup matinya karier politik.

Sembari menunggu arah dukungan PDIP yang jadi penentu dua atau tiga pasangankah yang akan maju dalam kontestasi, Haris – Sani telah melangkah jauh turun gunung ke segala lini. Turun ke akar rumput untuk melihat permasalahan yang ada, sebagai dasar kebijakan program-program yang akan mereka susun nantinya. Dari sisi dukungan partai politik, pasangan ini boleh berlega hati. Selain elektabilitas mereka yang tinggi, parpol pendukung mereka pasti akan all-out memenangkan pasangan ini. Terlebih nama Haris sendiri sudah lama populer.

Memulai karier di birokrasi dari anak tangga terbawah, ketokohannya yang merakyat dan dianggap representatif dari sosok gubernur kharismatik sebelumnya – Hasan Basri Agus (HBA) telah lama mencuri hati dan simpati masyarakat. Apalagi pendukungnya secara solid terus bergerak mensosialisasikan sosoknya dan juga program-programnya. Langkah ini cukup berhasil terbukti dari semakin berkibarnya nama Haris, ujung ke ujung Provinsi Jambi. Di kalangan kawula muda, Haris bahkan punya basis pendukung sendiri yang menamakan kaum milenial Jambi.

Langkah Haris yang dipasangkan dengan sosok Abdullah Sani juga ditengarai akan memberikan sumbangan suara signifikan. Mengapa? Secara ketokohan, Abdullah Sani adalah sosok agamis – seorang da’i yang cukup kondang di Provinsi Jambi. Sosoknya dianggap mewakili kaum marginal karena kesederhanaan hidupnya. Mantan wakil walikota Jambi ini juga ketua Paguyuban Jawa Jambi – Wisnu Murti Provinsi Jambi, dimana secara stereotype masyarakat Jawa memiliki kecenderungan ‘manut’ pemimpin mereka. Saat pemimpin mereka maju mencalonkan diri, ia akan mendapat dukungan penuh dari anggotanya. ‘Sayangnya’, anggota ini sudah mewakili kesukuan yaitu Jawa dan ini adalah potensi besar untuk meraup suara sekaligus ancaman besar bagi lawan politiknya.

Mengambil Abdullah Sani sebagai wakil merupakan langkah cerdas yang tidak dipikirkan oleh pasangan calon lain. Padahal suku Jawa di Jambi adalah etnis besar yang secara persebaran dan ikatan emosionalnya sangat kuat. Suatu kombinasi kekuatan yang menjadi wajar untuk ditakuti pasangan lain dalam ajang kontestasi.

Bagaimanapun, masing-masing pasangan tentu punya kekuatan sendiri, namun secara tersirat sudah bisa dibaca akan bagaimana dan siapa-siapa yang memiliki potensi sebagi pemenang. Ibarat kata pepatah, ‘baru tekilat ikan dilubuk, sudah tahu jantan betinonyo’. (*)

*) Penulis adalah Jurnalis

Pos terkait