Oleh : Al Haris *
Sebagai Gubernur Jambi, saya selalu percaya bahwa politik yang sehat lahir dari kader yang paham arah, paham tujuan, dan paham cara bekerja bersama. Karena itu, ketika DPW PAN Jambi menggelar workshop pendidikan politik, saya memandang kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, tetapi sebagai ruang penting untuk menyatukan langkah dan memperkuat fondasi perjuangan ke depan.
Pendidikan politik bagi saya adalah soal membangun kesadaran. Kesadaran bahwa partai politik tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, apalagi saling melemahkan. Politik membutuhkan soliditas, dan soliditas hanya lahir dari komunikasi yang jujur, terbuka, serta semangat kolektif untuk menang bersama, bukan menang sendiri.
Workshop yang digelar DPW PAN Jambi ini menjadi momentum strategis. Di ruangan itu, saya melihat kader-kader dari berbagai daerah duduk bersama, berdiskusi, bertukar pandangan, dan menyamakan persepsi. Inilah wajah politik yang saya harapkan: politik yang berpikir jauh ke depan, bukan sekadar sibuk dengan agenda jangka pendek.
Menghadapi Pemilu 2029, tantangan politik tentu tidak semakin ringan. Dinamika masyarakat berubah cepat, ekspektasi publik semakin tinggi, dan kepercayaan rakyat harus terus dirawat. Partai politik, termasuk PAN, dituntut tidak hanya hadir saat pemilu, tetapi juga konsisten bekerja dan menyatu dengan denyut kehidupan masyarakat sehari-hari.
Saya menekankan kepada seluruh kader bahwa soliditas bukan hanya jargon. Soliditas adalah kerja nyata. Soliditas berarti saling menguatkan ketika ada perbedaan pandangan. Soliditas berarti menyelesaikan persoalan secara internal tanpa harus membuka ruang konflik di ruang publik. Dan yang paling penting, soliditas berarti menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Pendidikan politik juga harus mampu melahirkan kader yang matang secara etika dan cara berpikir. Politik bukan sekadar soal menang atau kalah, tetapi soal bagaimana proses itu dijalani dengan bermartabat. Di sinilah peran pendidikan politik menjadi krusial, agar setiap kader memahami nilai-nilai dasar perjuangan dan tidak kehilangan arah ketika berhadapan dengan godaan kekuasaan.
Sebagai kepala daerah, saya merasakan langsung bahwa stabilitas politik daerah sangat berpengaruh terhadap pembangunan. Ketika partai-partai solid dan dewasa dalam berpolitik, maka pemerintahan berjalan lebih efektif, kebijakan lebih fokus pada kebutuhan rakyat, dan konflik yang tidak perlu bisa diminimalkan.
Workshop ini saya harapkan tidak berhenti sebagai kegiatan satu hari. Harus ada tindak lanjut, ada konsistensi, dan ada keberlanjutan. Kader-kader yang sudah mendapatkan pembekalan harus menjadi agen pendidikan politik di daerahnya masing-masing, menyampaikan nilai-nilai politik yang sehat kepada masyarakat.
Menuju Pemilu 2029, waktu memang masih cukup panjang. Namun justru di situlah pentingnya persiapan dini. Politik yang dipersiapkan dengan matang akan menghasilkan kontestasi yang berkualitas. Saya percaya, dengan soliditas dan pendidikan politik yang kuat, PAN Jambi mampu mengambil peran strategis dan memberikan kontribusi nyata bagi demokrasi di Provinsi Jambi.
Bagi saya pribadi, politik selalu harus bermuara pada kemanfaatan. Jika rakyat merasakan manfaat dari kehadiran partai dan para kadernya, maka kepercayaan akan tumbuh dengan sendirinya. Dan dari situlah kemenangan sejati dalam politik bisa diraih—bukan hanya di bilik suara, tetapi di hati masyarakat. (*)
* Al Haris, Ketua DPW PAN Provinsi Jambi yang juga Gubernur Jambi












