Kesan Nonton Film Korea What a Man Wants (2018): Ketika Pernikahan, Nafsu, dan Kejujuran Bertabrakan

kesan nonton film korea what a man wants (2018) ketika pernikahan, nafsu, dan kejujuran bertabrakan
kesan nonton film korea what a man wants (2018) ketika pernikahan, nafsu, dan kejujuran bertabrakan. Foto: jambiserucom

FILM, Jambiserucom – Ada film Korea yang tidak berusaha jadi sok bijak. Tidak juga sibuk menggurui. Tapi justru di situlah ia terasa jujur. What a Man Wants (2018) adalah salah satunya. Film ini seperti duduk santai di warung kopi sambil membicarakan hal yang sering dipikirkan banyak orang… tapi jarang diucapkan dengan lantang: tentang pernikahan yang hambar, godaan, dan keinginan manusia yang tidak pernah benar-benar sederhana.

Sejak menit awal, film ini sudah memberi sinyal bahwa ia bukan tontonan romantis manis ala drama Korea televisi. Ini film dewasa. Bukan soal vulgar semata, tapi dewasa karena berani menyinggung wilayah abu-abu dalam hubungan rumah tangga. Wilayah yang sering disembunyikan di balik kata “komitmen”.

Cerita yang Terlihat Ringan, Tapi Menggigit
Secara garis besar, What a Man Wants bercerita tentang Seok-geun (Lee Sung-min), seorang pria paruh baya yang menjalankan bisnis rumah makan bersama istrinya Mi-young (Song Ji-hyo). Di luar terlihat harmonis, tapi di dalam… relasi mereka sudah lama kehilangan percikan.

Masalahnya bukan cuma cinta yang memudar, tapi komunikasi yang mati pelan-pelan. Seok-geun merasa hidupnya membosankan, terjebak rutinitas, dan kehilangan rasa “diinginkan”. Lalu datanglah Jenny (Lee El), perempuan menggoda yang membuka kembali pintu fantasi lama Seok-geun. Dari sini, cerita bergerak ke arah yang bisa ditebak, tapi dieksekusi dengan cara yang cukup cerdas.

Di sisi lain, ada adik iparnya Bong-soo (Shin Ha-kyun) yang juga menyimpan konflik rumah tangga sendiri. Hubungan antar karakter saling silang, saling menipu diri sendiri, dan sama-sama mencari pembenaran atas keinginan mereka.
Film ini tidak berusaha mengatakan siapa benar dan siapa salah secara hitam-putih. Semua karakter punya celah. Semua manusiawi. Dan justru itu yang bikin ceritanya terasa dekat.

Komedi Dewasa yang Tidak Kosong
Banyak film mengaku sebagai “komedi dewasa”, tapi isinya hanya lelucon cabul tanpa makna. What a Man Wants berbeda. Humornya lahir dari situasi canggung, dialog jujur, dan absurditas kehidupan pernikahan yang terlalu lama dipendam.

Tertawa, iya. Tapi tawa yang sering diikuti kalimat, “kok ini kayak realita, ya?”

Film ini sadar betul bahwa dalam hubungan jangka panjang, masalah bukan selalu soal orang ketiga. Kadang masalahnya adalah dua orang yang berhenti saling mendengar, tapi terlalu takut untuk mengakuinya.

Akting yang Jadi Tulang Punggung Film
Lee Sung-min tampil luar biasa sebagai pria setengah baya yang terjebak antara moral dan hasrat. Ia tidak dibuat sebagai antagonis murahan. Justru penonton dibuat memahami kegelisahannya, meski tidak harus membenarkan tindakannya.

Song Ji-hyo tampil berbeda dari citra ceria yang sering melekat padanya. Di sini ia lebih tenang, dingin, dan menyimpan luka yang tidak diucapkan. Ekspresinya sederhana, tapi penuh makna. Ada rasa kesepian yang sangat terasa dari caranya menatap, bukan dari dialog panjang.

Shin Ha-kyun, seperti biasa, mencuri perhatian. Karakternya menjadi penyeimbang antara komedi dan tragedi. Sementara Lee El benar-benar memanfaatkan aura sensualnya tanpa terasa murahan. Karakternya bukan sekadar pemancing konflik, tapi simbol dari “keinginan terpendam” itu sendiri.

Tema Besar: Kejujuran yang Ditunda Terlalu Lama

Judul What a Man Wants terdengar sederhana. Seolah film ini hanya bicara soal keinginan pria. Padahal, semakin jauh menonton, kita sadar bahwa film ini lebih luas dari itu. Ini tentang apa yang sebenarnya diinginkan manusia, baik pria maupun perempuan, tapi sering ditunda karena takut merusak stabilitas.

Kejujuran dalam film ini selalu datang terlambat. Saat sudah terlalu banyak dusta kecil yang menumpuk. Saat hubungan sudah terlanjur rapuh. Dan pertanyaannya bukan lagi “apa yang aku inginkan”, tapi “apa yang masih bisa diselamatkan”.

Film ini tidak menawarkan solusi ideal. Tidak ada akhir yang sepenuhnya manis. Tapi justru itu yang membuatnya terasa realistis.

Sinematografi dan Atmosfer yang Sederhana Tapi Pas

Secara visual, film ini tidak berlebihan. Tidak ada gaya sinematografi yang ingin mencuri perhatian. Semuanya terasa fungsional, realistis, dan dekat dengan keseharian. Rumah makan, kamar hotel, rumah tangga sederhana—semuanya dibuat apa adanya.

Pendekatan ini membuat penonton fokus pada emosi dan dialog, bukan pada estetika kosong. Ritme film juga cukup rapi, tidak terlalu cepat, tidak pula berlarut-larut.

Film yang Bisa Mengganggu Pikiran Setelah Selesai

Salah satu kekuatan What a Man Wants adalah efek setelah menonton. Film ini bukan yang langsung hilang begitu kredit berjalan. Ia tinggal di kepala, terutama bagi penonton dewasa yang sudah atau sedang menjalani hubungan jangka panjang.

Film ini mengajak bertanya pelan-pelan:
Apakah kita benar-benar jujur pada pasangan?
Atau hanya jujur pada diri sendiri saat sudah terlambat?
Apakah setia selalu berarti bahagia?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab oleh film. Penontonlah yang dipaksa menghadapinya sendiri.

Tidak Nyaman, Tapi Perlu

Kesan nonton What a Man Wants bisa diringkas begini:
Ini bukan film untuk semua orang. Tapi bagi penonton dewasa yang ingin tontonan ringan, lucu, tapi jujur dan menampar halus, film ini layak ditonton.

Ia tidak menghakimi. Tidak juga membela perselingkuhan. Film ini hanya memperlihatkan satu hal dengan jujur: manusia sering bingung membedakan antara keinginan dan kebutuhan, antara cinta dan kebiasaan.

Dan kadang, kebingungan itu datang terlambat… saat semuanya sudah berubah.(gie)

Pos terkait