Kripto dan Bitcoin Sama dengan Uang Hayalan? Ini Penjelasan Logis dan Risiko Nyatanya

img 20260131 wa0018
Kripto dan Bitcoin Sama dengan Uang Hayalan? Ini Penjelasan Logis dan Risiko Nyatanya. Foto: jambiserucom

BISNIS, Jambiseru.com – Isu bahwa kripto dan Bitcoin hanyalah “uang hayalan” terus berulang dari tahun ke tahun. Setiap kali harga anjlok, istilah ini muncul lagi. Sebaliknya, saat harga meroket, narasi itu mendadak menghilang, digantikan cerita cuan dan kebebasan finansial. Pertanyaannya sederhana: apakah kripto dan Bitcoin memang setara dengan uang hayalan, atau justru kita yang terlalu romantis memaknainya sebagai uang sungguhan?

Untuk menjawabnya, kita perlu jujur sejak awal. Bitcoin dan aset kripto bukan mata uang dalam pengertian klasik. Ia tidak diterbitkan negara, tidak dijamin bank sentral, dan tidak memiliki underlying asset seperti emas, komoditas, atau produktivitas ekonomi suatu wilayah. Nilainya sepenuhnya lahir dari kepercayaan kolektif dan mekanisme pasar.

Di titik inilah istilah “uang hayalan” mulai relevan. Nilai Bitcoin tidak lahir dari aktivitas produksi nyata. Ia tidak menciptakan barang, tidak menghasilkan jasa, dan tidak mewakili kepemilikan atas aset riil. Harga Bitcoin bergerak karena permintaan dan penawaran semata, bukan karena kinerja fundamental seperti perusahaan atau negara.

Sebagian pendukung kripto akan membantah. Mereka menyebut teknologi blockchain sebagai nilai utama. Benar, blockchain adalah inovasi teknologi yang penting. Namun masalahnya, teknologi tidak otomatis menjadikan token di atasnya bernilai sebagai uang. Banyak teknologi hebat di dunia, tetapi tidak semua dijadikan alat tukar atau penyimpan nilai.

Bitcoin sering disebut sebagai “emas digital”. Namun emas memiliki nilai intrinsik: digunakan dalam industri, perhiasan, dan memiliki sejarah ribuan tahun sebagai penyimpan nilai. Bitcoin tidak memiliki fungsi fisik apa pun. Ia hanya rangkaian kode digital yang nilainya disepakati bersama, selama masih ada yang percaya.

Dalam sistem keuangan tradisional, uang memiliki tiga fungsi utama: alat tukar, satuan hitung, dan penyimpan nilai. Bitcoin dan kripto lain masih gagal menjalankan ketiganya secara stabil. Sebagai alat tukar, penggunaannya terbatas. Sebagai satuan hitung, harganya terlalu volatil. Sebagai penyimpan nilai, risikonya sangat tinggi.

Volatilitas inilah yang memperkuat kesan uang hayalan. Dalam satu hari, nilai kripto bisa naik atau turun puluhan persen tanpa sebab ekonomi yang jelas. Tidak ada laporan keuangan, tidak ada data produksi, tidak ada indikator makro yang bisa dianalisis secara rasional. Harga bergerak karena sentimen, rumor, influencer, dan spekulasi.

Lebih jauh lagi, sebagian besar aktivitas di pasar kripto didorong oleh harapan “ada orang lain yang mau membeli lebih mahal”. Pola ini mirip skema greater fool theory. Selama masih ada pembeli berikutnya, harga akan bertahan. Ketika kepercayaan runtuh, nilai bisa lenyap dalam waktu singkat.

Kasus runtuhnya berbagai proyek kripto, exchange bangkrut, dan token yang nilainya menjadi nol adalah bukti nyata. Dalam dunia nyata, uang jarang benar-benar menjadi nol dalam semalam. Dalam kripto, itu hal biasa. Ribuan token mati tanpa jejak, membawa uang investor ikut lenyap.

Di sinilah perbedaan paling tajam antara kripto dan uang sungguhan. Uang negara mungkin tergerus inflasi, tetapi jarang hilang total. Kripto bisa hilang bukan hanya karena harga jatuh, tetapi karena lupa private key, diretas, salah kirim alamat, atau platform ditutup. Tidak ada otoritas yang bisa dimintai pertanggungjawaban.

Aspek lain yang membuat kripto disebut uang hayalan adalah ketergantungannya pada ekosistem digital. Tanpa listrik, internet, dan sistem komputasi, kripto tidak ada. Ia tidak bisa digunakan dalam kondisi darurat nyata. Bandingkan dengan uang tunai yang tetap memiliki fungsi dasar meski sistem lumpuh.

Namun menyebut kripto sepenuhnya tidak berguna juga tidak adil. Kripto adalah instrumen spekulatif. Ia mirip tiket kasino digital dengan teknologi canggih. Ada yang menang besar, ada yang bangkrut total. Masalahnya muncul ketika kripto dipromosikan sebagai pengganti uang, alat investasi aman, atau jalan cepat menuju kebebasan finansial.

Narasi inilah yang berbahaya. Banyak investor ritel masuk tanpa memahami risiko, hanya bermodal FOMO. Mereka menganggap kripto seperti tabungan atau investasi jangka panjang yang pasti naik. Ketika harga jatuh, barulah istilah uang hayalan terasa nyata.

Dari sudut pandang regulasi, di banyak negara termasuk Indonesia, kripto tidak diakui sebagai alat pembayaran sah. Ia diposisikan sebagai aset digital atau komoditas. Artinya, negara sendiri tidak menganggapnya uang. Ini penting dicatat agar tidak terjadi salah kaprah.

Jika kripto adalah uang hayalan, mengapa harganya bisa mahal? Jawabannya sederhana: karena kepercayaan dan spekulasi. Sama seperti lukisan mahal atau barang koleksi langka. Nilainya tidak berasal dari fungsi dasar, tetapi dari kesepakatan pasar.

Masalahnya, tidak semua orang siap menghadapi konsekuensi spekulasi ekstrem. Uang hasil kerja keras bisa berubah menjadi angka nol tanpa peringatan. Dalam konteks ini, menyamakan kripto dengan uang hayalan bukan hinaan, melainkan peringatan.

Bitcoin dan kripto bukan tabungan. Bukan pengganti uang. Bukan jaminan masa depan. Ia adalah instrumen berisiko tinggi yang nilainya sangat rapuh terhadap perubahan sentimen. Siapa pun yang masuk ke dunia ini harus siap kehilangan seluruh modal.

Kesimpulannya, kripto dan Bitcoin memang memiliki karakter yang sangat dekat dengan uang hayalan jika diperlakukan sebagai uang sungguhan. Nilainya tidak berdiri di atas fondasi ekonomi riil, melainkan di atas kepercayaan kolektif yang bisa runtuh kapan saja.

Bukan berarti kripto tidak boleh disentuh. Tetapi ia harus dipahami apa adanya: alat spekulasi berisiko tinggi. Bukan alat menyimpan nilai, bukan jalan pintas menjadi kaya, dan jelas bukan uang yang aman.

Dalam dunia finansial, kehati-hatian adalah aset paling berharga. Lebih baik dianggap ketinggalan zaman karena skeptis, daripada terjebak euforia lalu kehilangan segalanya. Kripto boleh saja ada, tetapi jangan pernah menyamakan ilusi harga dengan nilai nyata.(gie)

Pos terkait