Opini : Kebijakan Tahfidz Pemkot Jambi, Membentuk Generasi Qurani di Era Modernisasi

Rara Sapira Hidayat, mahasiswi UIN STS Jambi. Foto : dok pribadi
Rara Sapira Hidayat, mahasiswi UIN STS Jambi. Foto : dok pribadi

Opini ini ditulis oleh : Rara Saphira Hidayat *

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan globalisasi, generasi muda menghadapi tantangan besar: derasnya informasi yang mudah diakses bersamaan dengan potensi krisis moral akibat konten yang tidak terfilter· Dalam situasi ini, pendidikan agama, khususnya pendidikan Qur’ani, menjadi pilar penting dalam membentuk karakter generasi penerus· Pemerintah Kota Jambi menjawab tantangan ini dengan menyusun dan melaksanakan Program Tahfidz Al-Qur’an secara sistematis dan berkelanjutan.

Program ini telah berjalan sejak tahun 2019 dan menargetkan terciptanya budaya literasi Al-Qur’an di lingkungan pelajar· Berdasarkan data Pemerintah Kota Jambi, hingga akhir tahun 2023, sebanyak 10·141 siswa tingkat SD dan SMP telah diwisuda sebagai penghafal Al-Qur’an· Program ini dilanjutkan dengan Wisuda Akbar yang dilaksanakan pada 29 Agustus 2024 dan diikuti oleh 1·379 hafiz cilik, serta pada 6 Mei 2025 sebanyak 1·865 siswa kembali dikukuhkan sebagai hafiz dan hafizah· Total keseluruhan selama lima tahun tercatat sebanyak 12·006 penghafal Al-Qur’an berhasil dicetak melalui program ini.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Jambi, Mulyadi, menyatakan bahwa angka tersebut sesuai dengan target lima tahun yang telah ditetapkan, dan menjadi bukti konkret keberhasilan program· Pencapaian ini menjadikan Kota Jambi sebagai salah satu daerah yang berhasil menanamkan nilai-nilai Qur’ani dalam sistem pendidikan formal.

Keberhasilan program ini tidak lepas dari peran 73 guru tahfidz yang tersebar di berbagai sekolah negeri dan swasta· Para guru ini mengampu siswa berdasarkan kemampuan masing-masing, mulai dari yang belum bisa membaca Al-Qur’an hingga yang menargetkan hafalan secara intensif.

Pemerintah Kota Jambi juga memberikan dukungan nyata melalui pemberian insentif sebesar Rp 1,6 juta per bulan bagi setiap guru tahfidz, terutama mereka yang belum lulus seleksi PPPK· Total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp 1,3 miliar per tahun· Wali Kota Jambi, Maulana, menyebut kebijakan ini sebagai bentuk penghargaan terhadap peran strategis guru dalam membentuk generasi Qurani.

Menurut Wali Kota Maulana, pengentasan buta aksara Al-Qur’an merupakan tanggung jawab bersama dan bagian dari strategi pembangunan karakter bangsa· Karena itu, program tahfidz tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan keagamaan semata, tetapi menjadi prioritas dalam pembangunan moral dan akhlak kota.

“Melalui program yang sangat mulia ini, saya sangat bersyukur dan merasa bangga· Di tengah percepatan pembangunan, Kota Jambi tetap mampu menanamkan pondasi spiritual yang kuat bagi generasi mudanya· Semoga ini menjadi awal dari terbentuknya masyarakat yang berakhlak dan berbudaya,” ujar Pj Wali Kota Jambi dalam pernyataannya.

Evaluasi sementara terhadap program menunjukkan hasil yang menggembirakan· Minat siswa terhadap Al-Qur’an meningkat secara signifikan sejak kehadiran guru tahfidz di sekolah-sekolah· Guru dan orang tua dari sekolah seperti SDN 47 dan SMPN 11 melaporkan adanya perubahan positif pada perilaku siswa, termasuk dalam hal ibadah, kedisiplinan, dan sikap terhadap orang tua serta guru· Bahkan, program ini mampu mematahkan anggapan bahwa sekolah formal tidak bisa mencetak hafiz dan hafizah.

Seorang wali murid di salah satu SD menyampaikan bahwa “anaknya menjadi lebih rajin belajar dan disiplin setelah mengikuti program tahfidz. Ia menambahkan bahwa program ini tidak hanya menanamkan hafalan, tetapi juga membentuk karakter yang lebih sabar dan bertanggung jawab·”

Menurut saya Kebijakan Tahfidz yang dijalankan oleh Pemerintah Kota Jambi merupakan bukti nyata sinergi antara pemerintahan, pendidikan, dan nilai-nilai agama dalam menjawab tantangan zaman. Kombinasi dukungan insentif guru, kurikulum terintegrasi, serta regulasi pendidikan menjadikan program ini sebagai instrumen strategis pembangunan karakter.

Namun demikian, agar program ini berdaya jangkau lebih luas dan berkelanjutan, diperlukan penguatan pada aspek sumber daya manusia, pemerataan distribusi guru, integrasi nilai Qur’ani dalam kehidupan sehari-hari, serta pemanfaatan teknologi untuk mendukung metode pengajaran· Jika semua elemen tersebut dijalankan dengan konsisten, maka Kota Jambi tidak hanya akan mencetak para penghafal Al-Qur’an, tetapi juga mempersiapkan generasi pemimpin masa depan yang berkarakter, cerdas, dan berlandaskan nilai-nilai Qur’ani.(***)

* Penulis ialah :
Nama : Rara Saphira Hidayat
Pendidikan : Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Syaifuddin (UIN STS) Jambi
Program studi : Manajemen Pendidikan Islam
Semester : 4 (empat)

Pos terkait