Oleh : Al Haris *
Dua periode saya diberi amanat oleh rakyat Provinsi Jambi untuk memimpin daerah ini sebagai gubernur. Amanat itu tidak pernah saya anggap ringan. Sejak awal, bahkan sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di kantor gubernur pada periode pertama, saya sudah menanamkan satu niat yang sederhana tapi mendasar: niat saya tidak boleh berubah.
Dan hari ini, setelah kembali dipercaya untuk periode kedua, niat itu tetap sama. Tidak bertambah, tidak berkurang. Yakni, memperluas ladang ibadah melalui jalan pengabdian.
Bagi saya, memimpin bukan soal jabatan. Bukan pula soal kekuasaan. Memimpin adalah soal amanah. Dan amanah itu kelak tidak hanya dimintai pertanggungjawaban oleh manusia, tapi juga oleh Allah SWT. Karena itulah, sejak awal saya memaknai tugas sebagai Gubernur Jambi bukan sekadar pekerjaan administratif, melainkan ibadah yang luas… ibadah yang menuntut keikhlasan, kesabaran, dan konsistensi.
Bekerja untuk masyarakat Jambi adalah ibadah dalam arti yang paling nyata. Ketika saya turun ke desa-desa, melihat langsung kondisi jalan yang rusak, sekolah yang perlu perhatian, atau rumah warga yang belum layak huni, saya selalu mengingat satu hal: di situlah ladang ibadah itu berada. Bukan di balik meja, tapi di tengah-tengah kehidupan rakyat.
Saya percaya, ibadah tidak selalu harus dilakukan di tempat yang sunyi. Ibadah juga bisa hadir dalam keputusan yang adil, kebijakan yang berpihak, dan keberanian untuk mendengar keluhan masyarakat. Setiap program pembangunan, setiap anggaran yang disusun, dan setiap kebijakan yang ditandatangani, saya niatkan sebagai bagian dari tanggung jawab itu.
Dua periode ini justru membuat beban tanggung jawab semakin besar. Karena kepercayaan yang diberikan ulang oleh rakyat adalah bukti harapan yang belum selesai. Artinya, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dituntaskan. Masih banyak janji pembangunan yang harus terus diperjuangkan agar benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Saya sadar, tidak semua keputusan akan memuaskan semua pihak. Dalam memimpin, kritik adalah bagian dari perjalanan. Ada kalanya saya dipuji, ada kalanya saya dikritik, bahkan dihujat. Tapi selama niatnya tetap lurus—untuk kebaikan masyarakat Jambi—saya yakin setiap langkah akan menemukan jalannya sendiri.
Bagi saya, memperluas ladang ibadah berarti memastikan pembangunan tidak hanya terlihat di kota, tetapi juga sampai ke pelosok. Jalan desa yang mulus, akses pendidikan yang merata, layanan kesehatan yang mudah dijangkau, dan ekonomi rakyat yang bergerak—itulah bentuk ibadah sosial yang nyata. Ibadah yang dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat.
Saya sering mengatakan kepada diri sendiri, jabatan ini suatu hari pasti akan berakhir. Tapi dampak dari kebijakan hari ini akan terus hidup di tengah masyarakat. Karena itu, saya selalu berusaha agar setiap keputusan meninggalkan jejak kebaikan, bukan sekadar catatan administratif.
Menjadi Gubernur Jambi dua periode bukanlah tujuan akhir. Ini hanyalah jalan pengabdian yang dipercayakan rakyat. Selama amanat itu masih ada, selama rakyat masih berharap, saya akan terus bekerja dengan niat yang sama seperti hari pertama: bekerja sepenuh hati, bekerja dengan tanggung jawab penuh, dan bekerja sebagai bentuk ibadah.
Saya ingin ketika kelak amanat ini selesai, saya bisa menatap diri sendiri dengan tenang. Bahwa apa yang saya lakukan bukan sekadar menjalankan kekuasaan, tetapi benar-benar menjaga kepercayaan. Bahwa jabatan ini telah saya gunakan untuk memperluas ladang ibadah, bukan mempersempitnya.
Semoga Allah SWT senantiasa meluruskan niat saya, menguatkan langkah saya, dan memberi keberkahan bagi setiap usaha yang ditujukan untuk kesejahteraan masyarakat Jambi. Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa lama kita memimpin, tetapi seberapa tulus kita mengabdi.(*)
* Al Haris, Gubernur Jambi












