Kesan Nonton Film Infinite (2021): Ketika Reinkarnasi, Ingatan Masa Lalu, dan Takdir Manusia Bertabrakan Tanpa Henti

Kesan Nonton Film Infinite (2021): Ketika Reinkarnasi, Ingatan Masa Lalu, dan Takdir Manusia Bertabrakan Tanpa Henti
Kesan Nonton Film Infinite (2021): Ketika Reinkarnasi, Ingatan Masa Lalu, dan Takdir Manusia Bertabrakan Tanpa Henti.Foto: Jambiseru.com

FILM, Jambiseru.com – Pernah terbayang bagaimana rasanya hidup, mati, lalu hidup lagi… dengan ingatan yang utuh? Bukan sekadar dilahirkan ulang, tapi membawa seluruh memori, trauma, dan kesalahan dari kehidupan sebelumnya. Infinite (2021) bermain di wilayah itu—sebuah gagasan besar tentang reinkarnasi yang dibungkus dalam film aksi modern.

Sejak menit awal, film ini sudah memberi sinyal bahwa ceritanya tidak sederhana. Ia tidak hanya soal kejar-kejaran, tembak-menembak, atau teknologi futuristik. Infinite mencoba mengajak penonton bertanya: jika kita hidup berkali-kali, apakah kita benar-benar belajar dari kehidupan sebelumnya?

Sinopsis Singkat Tanpa Spoiler

Infinite mengikuti sosok Evan McCauley, seorang pria yang hidupnya dipenuhi halusinasi dan kilasan ingatan yang tidak ia pahami. Ia merasa berbeda, terasing, dan dianggap bermasalah oleh lingkungan sekitarnya. Namun perlahan, Evan menyadari bahwa apa yang ia alami bukan gangguan mental.

Ia adalah bagian dari kelompok manusia langka yang disebut Infinites—orang-orang yang terlahir kembali berkali-kali dengan ingatan kehidupan masa lalu yang utuh.

Dalam dunia ini, ada dua kubu besar: mereka yang ingin menjaga keseimbangan kehidupan, dan mereka yang ingin mengakhiri siklus reinkarnasi umat manusia selamanya.
Dari sinilah Evan terseret ke konflik global yang melibatkan takdir, teknologi, dan pilihan moral besar.

Alur Cerita: Antara Identitas, Ingatan, dan Takdir

Secara struktur, Infinite menggunakan pola “pahlawan yang belum sadar siapa dirinya”. Evan memulai cerita sebagai individu yang bingung, tersiksa oleh ingatan yang tidak ia pahami. Seiring waktu, lapisan demi lapisan masa lalunya terbuka.

Alurnya bergerak cepat setelah konflik utama terungkap. Film ini berpindah dari drama identitas ke aksi berskala besar, lengkap dengan adegan pertempuran, teknologi canggih, dan konsep sains-fiksi yang ambisius.

Namun di balik semua itu, inti ceritanya tetap tentang pencarian jati diri. Evan bukan hanya bertarung melawan musuh eksternal, tetapi juga melawan dirinya sendiri—versi masa lalu yang membawa konsekuensi dari pilihan-pilihan lama.

Konsep Reinkarnasi: Ide Besar dengan Beban Berat

Salah satu kekuatan utama Infinite adalah konsep reinkarnasinya. Film ini tidak menggambarkan kelahiran ulang sebagai hal spiritual semata, tetapi sebagai fenomena biologis yang bisa dipelajari, dilatih, bahkan dieksploitasi.

Ingatan menjadi senjata. Pengalaman hidup menjadi modal utama. Di titik ini, film mengajukan pertanyaan menarik: jika seseorang hidup ribuan tahun melalui reinkarnasi, apakah ia akan menjadi bijak… atau justru lelah dan sinis?

Sayangnya, konsep sebesar ini terasa terlalu padat untuk durasi film. Banyak ide menarik yang hanya disentuh di permukaan, lalu ditinggalkan demi mengejar ritme aksi.

Daftar Aktor & Peran

Mark Wahlberg sebagai Evan McCauley
Wahlberg membawa karakter yang keras, gelisah, dan penuh konflik batin. Meski bukan peran paling emosional dalam kariernya, ia cukup meyakinkan sebagai sosok yang terjebak antara masa lalu dan masa kini.

Chiwetel Ejiofor sebagai Bathurst

Antagonis utama yang dingin, cerdas, dan ideologis. Bathurst bukan penjahat yang sekadar haus kekuasaan, tetapi seseorang yang benar-benar percaya bahwa mengakhiri siklus hidup manusia adalah solusi terbaik.

Sophie Cookson sebagai Nora Brightman
Karakter yang berfungsi sebagai jembatan pengetahuan dan emosional bagi Evan. Ia membawa keseimbangan di tengah dominasi karakter pria.

Jason Mantzoukas sebagai Artisan
Memberi sentuhan humor dan eksentrik, meski porsinya terbatas.

Aksi & Sinematografi

Dari sisi visual, Infinite tampil solid. Adegan aksi dirancang cepat, penuh energi, dan cukup spektakuler. Kejar-kejaran, pertempuran jarak dekat, hingga penggunaan teknologi futuristik disajikan dengan gaya khas film blockbuster Hollywood.

Sinematografinya bersih dan modern, meski tidak terlalu ikonik. Film ini lebih mengandalkan intensitas adegan ketimbang keindahan visual yang membekas.

Dialog dan Penulisan Cerita

Dialog dalam Infinite cenderung fungsional. Banyak dialog berfungsi sebagai penjelasan konsep, bukan pendalaman karakter. Ini membuat film terasa informatif, tetapi kurang emosional di beberapa bagian.

Beberapa momen seharusnya bisa lebih kuat jika diberi ruang napas. Namun film ini tampaknya lebih memilih tempo cepat agar tidak kehilangan momentum.

Pesan Moral & Makna Film

Di balik aksi dan konsep futuristik, Infinite membawa pesan reflektif tentang kehidupan. Tentang bagaimana manusia sering mengulang kesalahan yang sama, bahkan jika diberi kesempatan hidup berkali-kali.

Film ini juga berbicara tentang kelelahan eksistensial. Hidup abadi tidak selalu berarti kebahagiaan. Mengingat segalanya bisa menjadi beban, bukan anugerah.

Ada pula kritik implisit tentang obsesi manusia mengendalikan kehidupan dan kematian. Ketika teknologi dan pengetahuan melampaui kebijaksanaan, kehancuran sering kali menjadi konsekuensinya.

Kelebihan Film

Konsep reinkarnasi yang segar dan ambisius
Aksi cepat dan solid

Antagonis dengan motivasi ideologis yang kuat

Tema eksistensial yang relevan

Kekurangan Film

Pengembangan karakter kurang mendalam

Banyak ide besar tidak dieksplorasi maksimal
Emosi terasa kalah oleh tempo aksi

Beberapa penjelasan terasa dipaksakan
Kesan Pribadi Setelah Menonton

Menonton Infinite memberi perasaan campur aduk. Di satu sisi, film ini menyenangkan sebagai tontonan aksi. Di sisi lain, ada rasa “sayang” karena potensinya terasa belum tergali sepenuhnya.

Film ini seperti buku tebal yang diringkas terlalu singkat. Menarik, penuh ide, tetapi belum sepenuhnya memuaskan secara emosional.

Namun sebagai hiburan reflektif ringan dengan bumbu filsafat hidup, Infinite tetap layak ditonton.

Infinite (2021) adalah film aksi-fiksi ilmiah yang berani mengusung gagasan besar tentang reinkarnasi dan takdir manusia. Meski tidak sempurna dalam eksekusi, film ini menawarkan pengalaman menonton yang cukup menggugah pikiran.

Cocok untuk penonton yang menyukai film aksi dengan sentuhan filosofis, tanpa harus berpikir terlalu berat. Bukan film yang akan diingat sepanjang masa, tetapi cukup meninggalkan pertanyaan: jika hidup berulang kali, apakah kita benar-benar akan menjadi lebih baik? (gie)

Pos terkait