FILM, Jambiseru.com – Ada drama Korea yang ditonton santai. Ada yang bikin mikir. Dan ada juga yang rasanya seperti ikut lari marathon tanpa sempat tarik napas. Two Weeks masuk kategori terakhir. Dari menit awal sampai episode terakhir, drama ini tidak memberi ruang untuk penonton bersantai. Semuanya bergerak cepat, penuh tekanan, dan emosinya pelan-pelan menggerogoti.
Two Weeks bercerita tentang Jang Tae San (Lee Joon Gi), pria yang hidupnya bisa dibilang gagal total. Bukan ayah teladan, bukan pekerja terhormat, bahkan sering dianggap sampah masyarakat. Tapi satu kabar mengubah segalanya: anak perempuan yang bahkan nyaris tak ia kenal mengidap leukemia dan hanya dia yang cocok menjadi donor sumsum tulang.
Masalahnya, operasi itu baru bisa dilakukan dua minggu lagi. Dan selama dua minggu itulah Tae San harus bertahan hidup… sambil dikejar polisi, jaksa, pembunuh bayaran, dan masa lalunya sendiri.
Di titik ini, Two Weeks berhenti menjadi drama biasa. Ia berubah menjadi perlombaan melawan waktu.
Lee Joon Gi dan Peran yang Menguras Fisik & Emosi
Sulit membicarakan Two Weeks tanpa menyorot Lee Joon Gi. Perannya sebagai Jang Tae San terasa seperti kombinasi antara pelari, petarung, korban, dan ayah yang baru belajar mencintai. Hampir setiap episode memperlihatkan tubuhnya luka, berdarah, terengah-engah. Tapi yang paling terasa justru luka batinnya.
Tae San bukan karakter yang langsung simpatik. Dia pengecut, sering memilih kabur, dan hidup tanpa tujuan. Tapi justru di situlah kekuatan dramanya. Penonton diajak menyaksikan transformasi manusia paling dasar: seseorang yang akhirnya memilih bertanggung jawab.
Akting Lee Joon Gi terasa mentah, penuh keringat, dan tidak dibuat-buat. Tangisan tidak berlebihan, ketakutan tidak dibuat heroik. Semuanya terasa manusiawi.
Thriller yang Tidak Sekadar Kejar-kejaran
Secara genre, Two Weeks memang thriller. Tapi ini bukan thriller kosong yang hanya mengandalkan kejar-kejaran dan twist. Setiap pelarian Tae San selalu punya konsekuensi emosional.
Saat dia bersembunyi, penonton ikut cemas.
Saat dia tertangkap, dada ikut sesak.
Saat dia hampir menyerah, kita paham kenapa.
Drama ini pintar memainkan ritme waktu. Jam terasa berdetak di kepala penonton. Setiap episode seolah mengingatkan: waktunya makin habis, dan kesempatan semakin kecil.
Uniknya, ketegangan tidak selalu datang dari aksi besar. Kadang hanya dari tatapan anak kecil yang berharap ayahnya datang tepat waktu.
Sosok Anak dan Emosi yang Tidak Murahan
Banyak drama Korea gagal ketika memasukkan anak sebagai pemicu emosi—jatuhnya manipulatif. Tapi Two Weeks berhasil menahan diri. Karakter Seo In Hye, anak Tae San, tidak dibuat terlalu cengeng. Justru kepolosannya yang membuat cerita semakin menyakitkan.
Hubungan ayah-anak di sini tidak dibangun lewat pelukan hangat atau dialog manis. Sebagian besar dibangun lewat ketidakhadiran. Tae San berjuang dalam diam, sementara anaknya bahkan tidak tahu siapa ayah kandungnya sebenarnya.
Dan di situlah dramanya menghantam paling keras.
Karakter Pendukung yang Tidak Tempelan
Jaksa Park Jae Kyung (Kim So Yeon) adalah mantan kekasih Tae San, sekaligus ibu dari anaknya. Karakternya kuat, rasional, dan emosional di waktu yang tepat. Dia bukan sekadar “perempuan kuat” klise, tapi manusia yang terjebak antara hukum dan hati.
Antagonis dalam Two Weeks juga tidak hitam-putih. Mereka punya kepentingan, ambisi, dan ketakutan sendiri. Ini membuat konflik terasa lebih hidup dan tidak kartun.
Tema Besar: Penebusan dan Kesempatan Kedua
Di balik kejaran dan darah, Two Weeks sebenarnya bicara soal penebusan. Tentang apakah seseorang yang hidupnya berantakan masih pantas mendapat kesempatan kedua.
Drama ini tidak menggurui. Tidak mengatakan semua orang bisa berubah dengan mudah. Tapi ia menunjukkan bahwa keputusan kecil, ketika diambil di waktu genting, bisa mengubah segalanya.
Tae San tidak berubah menjadi pahlawan super. Dia hanya menjadi ayah yang memilih bertahan, meski harus kehilangan segalanya.
Kekurangan yang Masih Bisa Dimaklumi
Tentu saja, Two Weeks bukan drama sempurna. Beberapa kebetulan terasa terlalu pas. Ada momen di mana Tae San terlalu sering lolos dari situasi mustahil. Tapi anehnya, ini tidak terlalu mengganggu.
Kenapa? Karena drama ini sudah membangun empati sejak awal. Penonton ingin Tae San selamat. Logika kadang rela dikorbankan demi emosi.
Kenapa Two Weeks Masih Layak Ditonton Sekarang?
Meski rilis tahun 2013, Two Weeks tidak terasa usang. Isunya masih relevan: ayah abai, sistem hukum, kesenjangan sosial, dan perjuangan orang kecil melawan struktur besar.
Bagi yang bosan dengan drama Korea romantis ringan, Two Weeks adalah alternatif yang brutal secara emosi, tapi memuaskan.
Dua Minggu yang Terasa Panjang di Hati
Menonton Two Weeks rasanya seperti ikut berlari tanpa sepatu, di jalan penuh batu, sambil membawa beban masa lalu. Capek, tapi sulit berhenti. Dan ketika selesai, ada rasa hening yang tertinggal.
Ini bukan drama yang membuat bahagia. Tapi ini drama yang membuat peduli.
Dan kadang, itu jauh lebih penting.(gie)












