FILM, Jambiseru.com – Ada film yang membuat kita tertawa lepas. Ada film yang membuat kita berpikir. Look Who’s Back melakukan keduanya—dan itu justru yang membuatnya berbahaya sekaligus penting. Film Jerman rilisan 2015 ini membuka cerita dengan premis absurd: Adolf Hitler terbangun kembali di Berlin modern, tanpa penjelasan, tanpa penyesalan, dan dengan keyakinan yang sama seperti tujuh dekade lalu.
Sebagai penonton, reaksi awal hampir pasti campur aduk. Kita tertawa karena situasinya konyol. Kita ngeri karena yang bangun adalah sosok yang bertanggung jawab atas tragedi kemanusiaan terbesar abad ke-20, termasuk Holocaust yang menewaskan jutaan orang Yahudi. Film ini sadar betul akan ketegangan itu—dan memanfaatkannya sebagai pisau satir.
Satir yang Tidak Memberi Jarak Aman
Disutradarai David Wnendt dan dibintangi Oliver Masucci sebagai Hitler, Look Who’s Back menolak memberi jarak aman bagi penonton. Humor datang bukan dari karikatur kosong, melainkan dari kedekatan yang terlalu nyata. Hitler di film ini tidak dibuat bodoh. Ia tajam, retoris, dan—yang paling mengganggu—kadang terasa masuk akal bagi sebagian orang di layar.
Di sinilah film ini menguji kita. Ketika kita tertawa, apakah kita tertawa pada absurditas situasi, atau tanpa sadar pada pesona retorika berbahaya yang dikemas ulang oleh media modern?
Media, Viralitas, dan Bahaya Normalisasi
Salah satu kekuatan film ini adalah kritiknya terhadap media dan budaya viral. Hitler modern dianggap komedian. Ucapannya dipotong jadi klip lucu. Kalimat ekstrem dibungkus ironi. Rating naik. Penonton bertambah. Pesan filmnya jelas: media bisa menetralkan kebencian dengan kemasan hiburan.
Film ini seolah berkata, “Kita tidak selalu dikalahkan oleh kekerasan. Kadang kita kalah oleh tawa.”
Dan itu menohok.
Improvisasi Nyata yang Membuat Merinding
Bagian paling kuat dari Look Who’s Back adalah ketika Hitler berinteraksi dengan warga Jerman sungguhan—adegan semi-dokumenter yang tidak diskenariokan sepenuhnya. Reaksi masyarakat menjadi cermin: ada yang menertawakan, ada yang mendukung, ada yang tidak keberatan.
Di titik ini, film berhenti jadi komedi. Ia berubah menjadi eksperimen sosial. Kita dipaksa bertanya: Seberapa jauh masyarakat modern benar-benar kebal terhadap ideologi berbahaya?
Bukan Film yang Mudah, Tapi Perlu
Penting ditegaskan: Look Who’s Back bukan film pro-Hitler, bukan pula film yang meremehkan penderitaan korban. Justru sebaliknya. Film ini memperingatkan bahwa ideologi kebencian tidak selalu datang dengan sepatu bot dan seragam, tapi bisa muncul lewat talk show, meme, dan trending topic.
Bagi penonton—terutama yang paham sejarah Yahudi dan Holocaust—film ini terasa tidak nyaman. Dan ketidaknyamanan itu disengaja.
Akting Oliver Masucci: Mengerikan karena Meyakinkan
Oliver Masucci tampil luar biasa. Ia tidak meniru Hitler secara kartunal. Ia menghidupkan kembali persona dengan detail gestur, tatapan, dan intonasi yang membuat bulu kuduk berdiri. Aktingnya membuat kita sadar bahwa bahaya bukan pada sosoknya saja, tapi pada kemampuan manusia mempercayai retorika.
Relevansi Global di Era Sekarang
Walau berlatar Jerman, pesan film ini lintas negara. Di era kebangkitan populisme, ekstremisme, dan politik identitas, Look Who’s Back terasa semakin relevan. Ia mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu berulang dengan cara yang sama—kadang ia beradaptasi.
Kesimpulan: Tertawa dengan Tanggung Jawab
Kesan nonton Look Who’s Back bukan tentang hiburan semata. Ini pengalaman yang mengajak kita bercermin. Film ini berani, cerdas, dan berisiko. Ia mengandalkan kedewasaan penonton untuk tidak salah menangkap pesan.
Film ini layak ditonton—dengan kepala dingin dan konteks sejarah yang utuh. Karena di dunia yang mudah lupa, film seperti ini berfungsi sebagai alarm. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk mengingatkan: ideologi berbahaya tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu panggung baru.(gie)












