EKONOMI, Jambiseru.com – “Beli saat murah, jual saat mahal.” Kedengarannya sederhana, bukan? Namun, di lantai bursa, kalimat itu adalah salah satu hal tersulit untuk dilakukan secara konsisten.
Banyak investor pemula terjun ke dunia saham dengan membawa kalkulator dan grafik teknikal yang rumit. Padahal, dalam jangka panjang, IQ Anda tidak lebih penting daripada pengendalian emosional Anda. Investasi saham bukan sekadar adu pintar menebak harga, melainkan adu sabar menahan godaan.
Saham Bukan Kasino, Tapi Bisnis
Kesalahan terbesar pemula adalah menganggap saham sebagai angka-angka yang bergerak naik-turun di layar ponsel. Padahal, di balik kode saham tersebut, ada perusahaan nyata dengan karyawan, produk, dan laporan keuangan.
Ketika Anda membeli saham, Anda membeli hak kepemilikan. Jika Anda merasa tidak nyaman memiliki perusahaan tersebut selama 10 tahun, jangan pernah berpikir untuk memilikinya selama 10 menit.
Jebakan FOMO dan Serakah
Pasar saham adalah tempat di mana emosi manusia terlihat sangat transparan.
FOMO (Fear of Missing Out): Ketika melihat saham “gorengan” naik drastis, banyak yang panik dan ikut membeli di harga pucuk karena takut tertinggal.
Panic Selling: Ketika pasar memerah (turun), ketakutan mengambil alih. Banyak yang menjual asetnya di harga rendah karena takut uangnya hilang, padahal fundamental perusahaannya masih baik.
Strategi Menghadapi Fluktuasi
Bagaimana cara tetap tenang ketika melihat portofolio Anda minus? Ada tiga prinsip dasar:
Gunakan “Uang Dingin”: Jangan pernah berinvestasi menggunakan uang sewa rumah atau uang sekolah anak. Tekanan mental akan jauh lebih berat jika Anda menggunakan uang yang seharusnya dipakai besok pagi.
Diversifikasi Sewajarnya: Jangan taruh semua telur dalam satu keranjang, tapi jangan juga terlalu banyak keranjang sehingga Anda bingung memantaunya.
Fokus pada Fundamental: Selama perusahaan masih mencetak laba dan memiliki manajemen yang jujur, fluktuasi harga harian hanyalah “noise” atau kebisingan pasar.
Kesimpulan: Menang Melawan Diri Sendiri
Investasi saham adalah perjalanan maraton, bukan lari sprint. Mereka yang sukses di pasar modal biasanya bukanlah orang yang paling cepat menghitung, melainkan mereka yang paling mampu disiplin pada rencana awalnya.
Ingat, musuh terbesar seorang investor bukanlah bandar atau pasar yang sedang crash, melainkan cermin di rumahnya sendiri. (doo)












