Korea Utara Kembali Uji Rudal Balistik, AS Gerah

  • Whatsapp
Korea Utara Kembali Uji Rudal
Ilustrasi Uji coba rudal jarak jauh. (Ist)

Jambiseru.com – Korea Utara kembali melakukan uji rudal balistik pekan lalu. Aksi uji coba rudal ini langsung membuat Amerika Serikat (AS) gerah. AS menyatakan jika uji coba tersebut menimbulkan ancaman bagi negara tetangga.

Dalam pernyataannya, Komando militer Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik (INDOPACOM) mengatakan, pihaknya mengetahui laporan uji coba rudal tersebut dan berkoordinasi dengan para sekutu dan mitranya.

Baca Juga : KPK Bakal Usut Semua Pihak yang Suap Eks Penyidik KPK

“Kegiatan ini menyoroti fokus (Korut) yang terus mengembangkan program militernya dan ancaman yang ditimbulkan terhadap tetangganya dan masyarakat internasional,” kata pernyataan tersebut.

Sebelumnya dikabarkan Korut berhasil melakukan uji coba rudal jelajah jarak jauh yang baru pada akhir pekan, yang dilihat para analis sebagai kemungkinan senjata dengan kemampuan nuklir pertama negara tersebut.

Rudal baru tersebut adalah “senjata strategis yang sangat penting”, kata kantor berita negara KCNA pada Senin.
Rudal itu terbang 1.500 kilometer sebelum mengenai sasaran dan jatuh ke perairan teritorial China dalam uji coba akhir pekan.

KCNA melaporkan uji coba tersebut memberikan “signifikansi strategis untuk memiliki sarana pencegahan lain yang efektif untuk menjamin keamanan negara kita dan secara kuat menahan manuver militer pasukan musuh.”
Tes terbaru itu menyoroti kemajuan Korut yang stabil dalam program senjata di tengah kebuntuan pembicaraan untuk mengakhiri program nuklir dan rudal balistik negara itu dengan imbalan keringanan sanksi AS. Pembicaraan tersebut terhenti pada 2019.

Jeffrey Lewis, seorang peneliti rudal di James Martin Center for Nonproliferation Studies, mengatakan rudal jelajah serangan darat jarak menengah tidak kurang ancamannya daripada rudal balistik dan menjadi kemampuan yang cukup serius bagi Korut.

“Ini adalah sistem lain yang dirancang untuk terbang di bawah radar pertahanan rudal atau di sekitarnya,” kata Lewis di Twitter.

Rudal jelajah dan rudal balistik jarak pendek yang dapat dipersenjatai dengan bom konvensional atau nuklir sangat mengganggu kestabilan jika terjadi konflik karena tidak jelas jenis hulu ledak yang mereka bawa, kata para analis.