Nyugu Jodah, Tradisi Sambut Lebaran Sekaligus Ajang Cari Jodoh

Seorang warga yang sedang nyugu (mengaduk) jodah/gelamai (dodol). Foto: Cr01/Jambiseru.com
Seorang warga yang sedang nyugu (mengaduk) jodah/gelamai (dodol).Foto: Cr01/Jambiseru.com

Nyugu Jodah, Tradisi Sambut Lebaran Sekaligus Ajang Cari Jodoh

JAMBISERU.COM – Ada banyak tradisi budaya lokal menyambut hari Raya Idul Fitri di daerah-daerah dalam Provinsi Jambi. Misalnya di Desa Dusun Dalam, Kecamatan Bathin VIII Kabupaten Sarolangun, ada tradisi Nyugu Jodah. Apa itu?

Kita mulai dari istilah Jodah/Jadah. Jadah adalah nama sebutan untuk gelamai atau dodol. Dodol biasa dijadikan panganan untuk pesta-pesta atau hari-hari besar, atau dijadikan “pelalu kawo” (makanan pencuci mulut).
Lalu masuk ke istilah Nyugu Jodah. Nyugu Jodah adalah ngaduk dodol. Maksudnya, pekerjaan mengaduk dodol dari awal adonan hingga menjadi kental dan benar-benar masak.

Bacaan Lainnya

Baca Juga : Berita Update Corona Jambi Hari Ini, Menanti Hasil Tes 31 Orang

Dahulu, Nyugu Joda sering diadakan oleh keluarga yang memiliki anak gadis atau anak perawan. Nah, selama tradisi aduk dodol ini, anak-anak gadis mengajak kawan-kawannya ke rumah. Lalu, anak-anak bujang, ikut datang membantu prosesi Nyugu Jodah.

Yang gadis-gadis menyiapkan bumbu dan perlengkapan, sedang yang bujang tugasnya secara bergantian mengaduk dodol. Dari sini, akan timbul proses perkenalan dan pendekatan antara bujang dan gadis.
Biasanya, perkenalan itu diisi dengan berbalas pantun. Benar-benar seru. Apalagi Nyugu Jodah ini berlangsung selama 8 sampai 10 jam.

Bagi yang saling tertarik, akan melanjutkan ke hubungan lebih serius. Sebagian nanti ada yang menikah, sebagian lagi menanti Nyugu Jodah di lain waktu karena belum menemui tambatan hati di saat prosesi itu berlangsung.

Baca juga di Jambiseru.com – Jambi Seru :
Tips dan Cara Cepat Dapat Jodoh dan Menikah

“Dulu jadi ajang cari jodoh lah Nyugu Jodah ni,” ungkap Dodi (30), warga Desa Dusun Dalam.

Proses Pembuatan Jodah/Dodol
Zaman dulu, jodah atau dodol ini dibuat oleh keluarga menengah ke atas -yang memiliki bidang-bidang kebun karet cukup banyak-, tetapi dinikmati oleh hampir seluruh warga desa setelah jodah itu jadi.

Sebelum tradisi ini berlangsung, biasanya dimulai dengan penanaman pohon karet. Setelah karet tumbuh, sambil menunggu bisa dipanen, warga desa menanam padi untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Makanya, begitu padi panen, jarang ada warga yang menjualnya, rata-rata menyimpan di lumbung-lumbung padi sendiri.

Khusus padi jodah atau beras ketan, digunakan sebagai bahan utama pembuatan dodol. Nah, dari sinilah, setelah panen padi, prosesi Nyugu Jodah diadakan. Selain itu, juga diadakan di hari-hari besar seperti lebaran Idul Fitri, acara adat serta pesta pernikahan.

Persiapan awal pembuatan Jodah, padi pulud atau beras ketan ditumbuk dengan lesung kayu hingga harus dan menjadi tepung ketan. Proses ini dilakukan oleh anak-anak gadis.

Setelah menjadi tepung, dicampur dengan santan, gula pasir, gula merah dan rempah lainnya. Jika ingin wangi biasanya ditambah pandan wangi, namun jika di tambah durian, maka namanya akan berubah menjadi Jodah Lempok Durian.

Jodah biasanya dimasak dalam skala besar. Semua bahan dicampur serta diaduk terus-menerus hingga mengental (Nyugu Jodah). Lalu dimasak menggunakan kawah (kuali besi berukuran besar), yang ditaruh di atas tungku api yang dibuat dengan cara melubangi tanah, yang dalam bahasa daerahnya membuat Lebung/Palebong.

Semua itu belum lengkap tanpa adanya Nyiru/Tampi atau kipas untuk mengatur besar kecil api, agar tetap stabil selama pembakaran berlangsung. Sang pemegang nyiru selalu stanbay mengontrol api, sampai Jodah masak sempurna.

Setelah Jodah masak, jodah dikemas menggunakan daun pisang untuk yang langsung dibagikan ke kerabat atau tetangga. Namun untuk disimpan dan sebagai oleh-oleh kerabat jauh, akan di kemas menggunakan jalinan daun pandan rawa yang sudah dibersihkan dan dikeringkan (Kampe) dengan pelepah pinang (Upeh). Kemasan dibuat berbagai ukuran, dari kecil, hingga berukuran besar.

Proses menyugu (mengaduk) dilakukan secara bergantian, proses menyugu dilakukan serentak dan berima, agar tidak tumpah. Saat inilah, terjadi proses perkenalan muda-mudi dengan cara berbalas pantun menarik hati lawan jenis.

Namun, tadisi memasak Jodah seperti ini, sudah jarang dilakukan oleh masyarakat Desa Dusun Dalam. Tinggal sedikit yang masih melakukan tradisi ini.

Apalagi saat ini masyarakat memasak Jodah hanya dalam skala kecil, dikarenakan bahan sudah gampang didapat. Beda pada zaman dulu, semua bahan dihasilkan sendiri, kecuali gula pasir.

Baca Juga : Beredar Kabar 22 Pedagang Pasar Jambi Positf Covid 19 Hasil Rapid Test, Ini Kata Jubir Covid Kota

Nyugu Jodah sekarang hampir punah dan jadi kenangan. Tradisi ini masih melekat di benak orang-orang tua dusun, terutama yang dapat jodoh saat Nyugu Jodah berlangsung. Semoga, tradisi ini bisa terus lestari di Desa Dusun Dalam, Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. (cr01)

Pos terkait