Kesan Nonton Film Jepang Ride or Die (2021): Cinta, Obsesi, dan Pelarian yang Berujung pada Pertanyaan tentang Kebebasan

kesan nonton film jepang ride or die (2021) cinta, obsesi, dan pelarian yang berujung pada pertanyaan tentang kebebasan
Kesan Nonton Film Jepang Ride or Die (2021): Cinta, Obsesi, dan Pelarian yang Berujung pada Pertanyaan tentang Kebebasan. Foto: AI/jambiserucom

JAMBI, Jambiseru.com – Ada banyak film yang mengangkat tema cinta. Ada pula film yang mengangkat tema kejahatan. Namun tidak banyak film yang mencoba menggabungkan keduanya menjadi sebuah perjalanan emosional yang rumit seperti Ride or Die (2021).

Sejak awal film, saya sudah merasa bahwa ini bukan kisah cinta biasa. Film ini tidak berbicara tentang dua orang yang bertemu lalu jatuh cinta secara romantis. Sebaliknya, film ini berbicara tentang cinta yang tumbuh dalam ruang yang gelap, penuh luka, obsesi, dan keputusan-keputusan yang sulit diterima secara moral.

Ride or Die (2021): Cinta, Obsesi, dan Pelarian yang Berujung pada Pertanyaan tentang Kebebasan merupakan film Netflix Jepang yang disutradarai oleh Ryūichi Hiroki dan diadaptasi dari manga Gunjō karya Ching Nakamura. Film ini dirilis secara global melalui Netflix pada April 2021.

Yang membuat film ini menarik bukan hanya kisah cintanya, melainkan bagaimana cinta tersebut perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit dan sulit didefinisikan.

Sinopsis Ride or Die (2021)

Cerita berpusat pada Rei Nagasawa, seorang dokter bedah plastik yang sejak lama menyimpan perasaan kepada Nanae, teman sekolahnya di masa lalu.

Ketika mengetahui bahwa Nanae mengalami kekerasan rumah tangga yang brutal dari suaminya, Rei mengambil keputusan ekstrem. Ia membunuh suami Nanae demi menyelamatkan wanita yang dicintainya.

Setelah kejadian tersebut, keduanya melarikan diri bersama. Dalam perjalanan itu, hubungan mereka berkembang menjadi kisah cinta yang kompleks, tetapi juga dipenuhi ketakutan, trauma, dan konflik batin.

Dari sinilah film berubah menjadi perpaduan antara road movie, drama psikologis, thriller, dan romansa yang tidak biasa.

Bukan Film Romantis yang Nyaman Ditonton

Salah satu hal yang langsung terasa saat menonton Ride or Die adalah ketidaknyamanan emosional yang sengaja dibangun oleh sutradara.

Film ini tidak pernah mencoba membuat penonton merasa aman.

Setiap kali hubungan Rei dan Nanae tampak mulai membaik, selalu ada luka lama yang kembali muncul. Trauma masa lalu terus menghantui mereka. Akibatnya, penonton tidak hanya menyaksikan kisah cinta, tetapi juga melihat bagaimana luka psikologis dapat memengaruhi cara seseorang mencintai.

Inilah yang membuat Ride or Die terasa lebih seperti studi karakter dibandingkan film romantis konvensional.

Akting yang Menjadi Kekuatan Utama
Daftar Aktor dan Peran Mereka
* Kiko Mizuhara sebagai Rei Nagasawa
* Honami Sato sebagai Nanae Shinoda
* Yoko Maki
* Anne Suzuki
* Shinya Niiro
* Tetsushi Tanaka

Menurut saya, kekuatan terbesar film ini terletak pada penampilan Kiko Mizuhara dan Honami Sato.

Kiko Mizuhara berhasil memerankan Rei sebagai sosok yang tampak kuat dari luar tetapi rapuh di dalam. Ia melakukan tindakan yang sangat ekstrem atas nama cinta, tetapi sepanjang film kita bisa melihat bahwa dirinya juga terus bergulat dengan rasa bersalah dan kebutuhan untuk dicintai.

Sementara itu, Honami Sato memberikan penampilan yang sangat emosional sebagai Nanae. Karakternya adalah korban kekerasan yang berusaha menemukan kembali dirinya setelah bertahun-tahun hidup dalam ketakutan.
Chemistry keduanya menjadi fondasi utama yang membuat film ini tetap menarik sepanjang durasinya.

Visual Road Trip yang Indah tetapi Melankolis

Meskipun mengangkat tema yang gelap, Ride or Die memiliki visual yang cukup indah.

Perjalanan Rei dan Nanae membawa penonton melewati berbagai lanskap Jepang yang tenang dan memikat. Namun keindahan itu justru terasa kontras dengan kondisi psikologis kedua tokoh utama.

Ada banyak adegan yang memperlihatkan jalan raya, laut, dan pedesaan yang indah. Namun suasana hati film tetap dipenuhi kegelisahan.
Kontras tersebut membuat perjalanan mereka terasa semakin tragis.

Tentang Cinta yang Tidak Selalu Menyelamatkan

Hal yang paling membekas bagi saya dari film ini adalah pesan bahwa cinta tidak selalu menjadi solusi.

Banyak film romantis menggambarkan cinta sebagai sesuatu yang mampu menyembuhkan semua luka. Ride or Die justru mempertanyakan anggapan tersebut.

Film ini menunjukkan bahwa dua orang yang saling mencintai tetap bisa membawa luka yang saling melukai. Cinta tidak otomatis menghapus trauma masa lalu. Bahkan terkadang cinta justru memperlihatkan luka yang selama ini berusaha disembunyikan.

Pesan inilah yang membuat film terasa lebih realistis dibandingkan banyak drama romantis lainnya.

Produksi Film
* Judul: Ride or Die
* Judul Jepang: Kanojo (彼女)
* Tahun Rilis Teater/Streaming: 2021
* Negara: Jepang
* Genre: Drama, Thriller Psikologis, Romantis
* Sutradara: Ryūichi Hiroki
* Penulis Skenario: Nami Sakkawa
* Adaptasi dari Manga: Gunjō
* Musik: Haruomi Hosono
* Durasi: 142 menit

Tempat Menonton
Film ini merupakan produksi original Netflix dan tersedia melalui: Netflix

Penutup

Ride or Die (2021): Cinta, Obsesi, dan Pelarian yang Berujung pada Pertanyaan tentang Kebebasan bukan film yang mudah ditonton. Temanya berat, karakternya kompleks, dan banyak keputusan yang dibuat tokohnya akan memancing perdebatan.

Namun justru di situlah kekuatan film ini.
Ia tidak menawarkan jawaban sederhana mengenai cinta, moralitas, atau kebahagiaan. Sebaliknya, film ini mengajak penonton menyelami sisi manusia yang rapuh, egois, penuh kasih sayang, sekaligus penuh luka.

Setelah film berakhir, yang paling membekas bagi saya bukanlah adegan thriller atau konflik kriminalnya. Yang tertinggal justru pertanyaan sederhana: seberapa jauh seseorang bersedia pergi demi cinta, dan apakah cinta itu benar-benar mampu menyelamatkan dirinya?

Bagi penikmat drama Jepang yang emosional, berani, dan penuh lapisan psikologis, Ride or Die adalah salah satu film Netflix Jepang yang layak masuk daftar tontonan. (gie/berbagai sumber)

Pos terkait