JAMBI, Jambiseru.com – Ada banyak reality show kuliner yang mengajak penonton melihat proses memasak makanan. Namun Kumusta menawarkan sesuatu yang lebih menarik. Serial ini bukan sekadar tentang makanan, melainkan tentang pertemuan dua budaya yang sama-sama kaya, yaitu Filipina dan Korea Selatan.
Sejak episode pertama, saya langsung merasakan suasana yang berbeda.
Alih-alih menghadirkan kompetisi yang penuh intrik dan konflik, Kumusta lebih fokus pada kerja sama, persahabatan, dan pengalaman budaya. Itulah yang membuat serial ini terasa hangat dan nyaman ditonton.
Ji Chang-wook yang Tampil Sangat Natural
Salah satu alasan utama saya tertarik menonton Kumusta tentu saja karena kehadiran Ji Chang-wook.
Selama ini banyak penonton mengenalnya melalui drama seperti Healer, The K2, dan Welcome to Samdal-ri.
Di Kumusta, ia tampil jauh lebih santai dibanding karakter-karakter yang biasa ia mainkan. Tidak ada adegan aksi atau romansa besar. Yang ada justru seorang aktor terkenal yang harus membantu mengelola restoran, melayani pelanggan, dan belajar memahami budaya Filipina secara langsung.
Melihat sisi natural Ji Chang-wook menjadi salah satu daya tarik terbesar serial ini.
Restoran yang Menjadi Jembatan Budaya
Konsep utama Kumusta adalah pengelolaan sebuah restoran Filipina bernama Kumusta Café di kawasan Gangnam, Seoul. Para selebriti Filipina dan Korea bekerja bersama untuk memperkenalkan makanan Filipina kepada masyarakat Korea Selatan.
Yang menarik, mereka tidak hanya memasak.
Mereka juga harus melayani pelanggan, mengatur operasional restoran, menghadapi berbagai tantangan harian, dan memastikan pengalaman pengunjung tetap menyenangkan.
Karena itulah serial ini terasa hidup.
Penonton dapat melihat bagaimana makanan menjadi alat yang efektif untuk memperkenalkan budaya.
Kehadiran Para Selebriti Filipina Menambah Warna
Selain Ji Chang-wook, serial ini juga menghadirkan sejumlah nama besar dari Filipina seperti Jodi Sta. Maria, Janella Salvador, Francine Diaz, dan Arci Muñoz.
Masing-masing membawa kepribadian yang berbeda.
Ada yang sangat aktif, ada yang tenang, ada yang cepat belajar, dan ada yang sering membuat suasana menjadi lucu.
Interaksi mereka menjadi salah satu bagian paling menyenangkan dalam serial ini.
Makanan Sebagai Tokoh Utama
Kalau biasanya tokoh utama sebuah serial adalah manusia, di Kumusta makanan justru terasa seperti karakter utama.
Berbagai hidangan khas Filipina diperkenalkan kepada penonton Korea, mulai dari inasal, sisig, kare-kare, hingga lechon.
Bagi saya, bagian ini sangat menarik.
Selain menghibur, serial ini juga memberikan wawasan tentang kekayaan kuliner Filipina yang mungkin belum banyak dikenal di luar Asia Tenggara.
Tidak Sekadar Acara Memasak
Yang membuat Kumusta berbeda dari acara memasak biasa adalah sisi emosionalnya.
Kita melihat bagaimana para peserta bekerja hingga belasan jam setiap hari, menghadapi kelelahan, tekanan, dan berbagai masalah operasional restoran. Namun di tengah semua itu, mereka juga membangun persahabatan yang tulus.
Banyak momen yang terasa spontan dan tidak dibuat-buat.
Justru karena itulah serial ini terasa dekat dengan penonton.
Daftar Pemeran dan Peserta
* Ji Chang-wook
* Jodi Sta. Maria
* Janella Salvador
* Francine Diaz
* Arci Muñoz
* JP Anglo
* Kim Yumol
Produksi dan Penayangan
* Judul: Kumusta
* Genre: Reality Show, Kuliner, Budaya
* Sutradara: Park Nae-ryong
* Produksi: E&S Partners
* Tahun Rilis: 2026
* Tayang di: dan TV5
Penilaian Akhir
Kumusta bukan serial yang penuh konflik besar atau drama berlebihan. Justru kekuatannya terletak pada kesederhanaannya. Serial ini mengajak penonton melihat bagaimana makanan, kerja sama, dan rasa ingin tahu terhadap budaya lain dapat menciptakan pengalaman yang hangat dan menyenangkan.
Bagi penggemar Ji Chang-wook, serial ini menawarkan kesempatan langka untuk melihat sisi dirinya yang lebih santai dan alami. Sementara bagi pecinta kuliner dan budaya Asia, Kumusta adalah perjalanan yang menarik untuk diikuti.
Pada akhirnya, Kumusta berhasil menunjukkan bahwa satu meja makan kadang mampu melakukan hal yang tidak bisa dilakukan oleh politik atau diplomasi: mempertemukan orang-orang dari latar belakang yang berbeda dalam suasana yang penuh kehangatan.
Nilai: 8,8/10
(gie/berbagai sumber)












