Cerpen Monas Junior: Kita Semua Anak-anak

Ilustrasi cerpen lagi
Ilustrasi cerpen lagi

Usai sholat Subuh, Ayub memacu mobilnya ke MAN Cendekia. Ia menjumpai Pak Sumir yang sedang membuka gerbang sekolah.

“Pak, kenal Firdaus? Siswa di sekolah ini?”

“Yang mana?”

Bacaan Lainnya

Ustadz menjelaskan ciri-ciri Firdaus yang ia maksud. Pak Sumir langsung tersenyum lebar.

“Kenal lah. Dia anak baik.”

“Di mana rumahnya?”

Pak Sumir terdiam. Berpikir. Lalu…

“Tidak tahu.”

“Baiklah. Kalau orang tuanya, Bapak kenal?”

Lagi-lagi Pak Sumir diam.

“Tidak kenal.”

“Oke. Bagaimana kalau kawan akrabnya.”

Pak Sumir kembali berpikir. Kali ini agak lama.

“Rasanya, dia tak punya kawan akrab. Anak itu pendiam sama orang. Tapi akrab sama saya.”

“Loh, kalau akrab, kok Bapak ndak tahu latar belakangnya?”

“Lah, iya juga sih.”

Pak Sumir menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Ya sudah lah, Pak. Saya pamit. Assalamulaikum.”

“Waalaikumsalam.”

Ustadz Ayub jalan lagi. Ia menyetir dengan pikiran yang penuh rasa penasaran. Tetapi karena masih ada agenda lain, ia mencoba melupakan sesaat tentang Firdaus.

Setengah jam perjalanan, Ayub berhenti di depan masjid. Parkir. Kemudian berjalan cepat ke dalam masjid yang sudah dipenuhi orang-orang pengajian.

Baru saja mengijakkan kaki kanan di lantai dalam masjid, Ayub kaget lagi melihat cahaya yang menyilaukan. Persis seperti di MAN Cendekia itu. Cahaya yang silau tapi menyejukkan.

“Firdaus!”

Ustadz Ayub tak bisa menahan diri. Ia tak sengaja meneriakkan nama anak yang sedang dicarinya itu.

Orang-orang yang ada dalam masjid langsung menoleh ke arahnya.

“Pak Ustadz…”

Suara di balik jamaah pengajian itu terdengar menyahut.

Benar saja, itu adalah Firdaus.

Ayub berlari ke dalam dan hendak menyusul tempat Firdaus duduk tenang di tengah-tengah jamaah lain.

Namun seorang pria berpeci haji menghentikannya. Lalu mengajaknya ke luar masjid.

“Tenang, Tadz. Tunggu di sini dulu.”

“Tapi…”

“Sabar. Tunggu saja.”

Meski kesal karena langkahnya dihentikan, Ayub memaksakan diri untuk mengalah. Ia duduk di lantai teras masjid. Pria berpeci haji itu kembali masuk ke dalam masjid, meninggalkan Ayub yang menenangkan diri.

Setelah menanti hampir sejam, akhirnya pria itu kembali menemui Ayub.

“Bagaimana, ustadz?”

“Saya… Kiyai… Saya…”

“Cahaya? Damai? Sejuk? Menenangkan? Firdaus?”

Ustadz Ayub mengangguk cepat.

“Kita semua anak-anak, ustadz…”

“Hah! Itu…”

Pria berpeci haji yang dipanggil Kiyai itu mengangguk pelan.

“Jiwa kita semua sangat suci. Persis seperti anak-anak. Polos. Tanpa dosa. Dan dicintai Allah…”

Ustadz Ayub diam, mencoba mencerna.

“Anak-anak. Polos. Suci. Dicintai Allah…”

“Ya…” Kiyai mengangguk lagi. Kali ini dihiasi senyum tipis.

Ayub ikut mengangguk, pura-pura mengerti.

Ia disarankan pulang oleh Kiyai. Ayub menurut. Lalu pergi meninggalkan masjid itu dengan pikiran yang berkecamuk.

“Kita semua anak-anak yang polos, tanpa dosa dan dicintai…” bisik Ustadz Ayub, sesaat sebelum ia tenggelam di balik setir dan padatnya arus lalu lintas kota.(***)

* Monas Junior adalah nama pena dari Alpadli Monas. Penulis yang juga jurnalis Jambi. Karyanya berupa kumpulan Cerpen “Aum” (2001), Harimau Sumatera (2002), Apa yang Kau Lihat (2012). Juga menerbitkan novel berjudul “Pemburu Emas: Lengenda Bermula” (2018).

Baca juga : Dongeng anak sebelum tidur

Pos terkait