Oleh : Edi Purwanto *
Saya memandang peristiwa tenggelamnya Kapal Tunu Pratama Jaya, kecelakaan Bus Cahaya Pratama, hingga insiden pesawat ATR 42-500 yang menimbulkan korban jiwa, bukan sebagai musibah semata. Ini adalah rangkaian peringatan keras. Dan lebih dari itu, ini adalah cermin dari kelalaian serta kegagalan negara dalam menjalankan tanggung jawab paling dasarnya: melindungi nyawa warganya.
Setiap kali tragedi terjadi, kita selalu berduka. Namun pertanyaannya, apakah negara hanya boleh berhenti pada duka dan belasungkawa? Ataukah sudah saatnya kita jujur mengakui bahwa ada sistem yang tidak berjalan sebagaimana mestinya?
Dalam rapat kerja beberapa waktu lalu, saya menegaskan dengan sangat jelas kepada Kementerian Perhubungan agar segera melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh moda transportasi—darat, laut, dan udara. Audit ini bukan formalitas, bukan laporan di atas kertas, dan bukan sekadar pemenuhan prosedur. Audit ini harus menyentuh akar persoalan: kelayakan armada, kompetensi operator, pengawasan lapangan, hingga budaya keselamatan yang selama ini kerap diabaikan.
Keselamatan rakyat tidak boleh menjadi alat tawar-menawar. Ia tidak bisa dikalahkan oleh alasan efisiensi, kepentingan bisnis, atau target-target administratif. Setiap nyawa yang hilang adalah kegagalan yang tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun.
Saya percaya, negara yang kuat bukan hanya negara yang mampu membangun infrastruktur besar, tetapi negara yang hadir secara nyata memastikan warganya selamat saat bepergian, bekerja, dan menjalani hidup sehari-hari. Transportasi publik seharusnya menjadi sarana harapan, bukan sumber kecemasan.
Ke depan, saya akan terus mendorong agar keselamatan transportasi ditempatkan sebagai prioritas mutlak. Bukan sebagai agenda musiman setelah tragedi, tetapi sebagai komitmen berkelanjutan. Karena bagi saya, satu nyawa saja terlalu mahal untuk dikorbankan akibat kelalaian.
Negara tidak boleh terlambat belajar dari tragedi. Dan rakyat tidak boleh terus-menerus menjadi korban dari sistem yang gagal dibenahi.(***)
* Edi Purwanto, Anggota DPR RI dapil Jambi












