Dorong Target Lifting Minyak Naik, Sy Fasha Minta Harga BBM Lebih Fleksibel

Dorong Target Lifting Minyak Naik, Sy Fasha Minta Harga BBM Lebih Fleksibel
Dorong Target Lifting Minyak Naik, Sy Fasha Minta Harga BBM Lebih Fleksibel.Foto: Jambiseru.com

JAMBI, Jambiseru.com – Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jambi, Fasha mendorong pemerintah untuk meningkatkan target lifting minyak nasional dalam pembahasan asumsi dasar ekonomi makro.

Menurutnya, target lifting yang berada pada kisaran 605-615 ribu barel per hari masih dapat ditingkatkan guna memperkuat sektor energi nasional.

Dalam rapat bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Fasha menyampaikan, Fraksi Partai NasDem mengusulkan target lifting minyak berada pada kisaran 610-620 ribu barel per hari.

“Kalau asumsi lifting masih di angka 605 sampai 615 ribu barel per hari, kami berpandangan perlu didorong lebih tinggi. Fraksi NasDem mengusulkan agar target tersebut dinaikkan menjadi 610 sampai 620 ribu barel per hari,” kata Fasha.

Selain menyoroti target lifting, Fasha juga mengingatkan pemerintah agar kebijakan harga bahan bakar minyak (BBM) tetap mengikuti dinamika harga minyak dunia. Menurutnya, saat ini harga minyak mentah global telah mencapai sekitar 82 dolar AS per barel, namun kondisi geopolitik dunia masih berpotensi memengaruhi pergerakan harga energi.

Ia mencontohkan, apabila ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat mereda dan jalur perdagangan energi melalui Selat Hormuz kembali normal, harga minyak dunia berpotensi turun hingga kisaran 70 dolar AS per barel.

“Jangan sampai ketika harga minyak dunia naik, harga BBM ikut disesuaikan, tetapi ketika harga minyak turun, harga BBM non-subsidi tetap bertahan. Kebijakan harga energi harus fleksibel dan mencerminkan kondisi pasar agar masyarakat juga merasakan manfaatnya,” sebutnya.

Fasha mengaku memahami bahwa, setiap keputusan penyesuaian harga BBM memiliki berbagai pertimbangan fiskal dan ekonomi. Namun, menurutnya, pemerintah juga perlu mempertimbangkan daya beli masyarakat yang saat ini masih menghadapi berbagai tantangan ekonomi.

Dalam kesempatan yang sama, Fasha menyatakan dukungannya terhadap pengembangan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai sumber energi alternatif bagi sektor industri. Ia menilai langkah tersebut dapat menjadi solusi untuk menekan biaya produksi yang selama ini dikeluhkan banyak pelaku usaha akibat tingginya harga energi.

“Banyak pelaku industri yang menyampaikan keluhan terkait tingginya biaya energi, baik yang menggunakan BBM maupun LPG. Karena itu, pemanfaatan CNG untuk industri merupakan langkah yang sangat positif dan patut didukung,” katanya.

Meski demikian, Fasha mengingatkan agar implementasi CNG pada tahap awal lebih difokuskan untuk kebutuhan industri. Sementara itu, sektor rumah tangga dinilai masih lebih tepat menggunakan LPG karena masyarakat telah terbiasa dengan sistem tersebut.

Menurutnya, pengembangan jaringan gas rumah tangga (jargas) masih memerlukan waktu yang cukup panjang, bahkan diperkirakan baru memasuki tahap komisioning pada 2028.

“Untuk rumah tangga, saya kira LPG masih menjadi pilihan yang paling realistis saat ini. Adapun pengembangan jargas tetap perlu didorong, tetapi implementasinya membutuhkan waktu sehingga fokus awal penggunaan CNG sebaiknya diarahkan kepada sektor industri,” pungkasnya. (uda)

Pos terkait