Mengenang Nova Diansyah (Catur), Seorang Suhu Wartawan yang Santuy

  • Whatsapp
Mengenang Nova Diansyah
Mendiang Nova Diansyah (Catur). Foto : istimewa

JAMBISERU.COM – Satu pagi di Kuala Tungkal-Tanjung Jabung Barat, telepon berdering. Suara bulat dan berat dari seorang pria di seberang sana, menyampaikan proyeksi berita hari ini.

Ini aktivitas harian biasa di media koran. Redaktur akan menyampaikan proyeksi berita dari hasil rapat kepada wartawan, dan tugas wartawan mengejar berita yang diinstruksikan itu.

Bacaan Lainnya

Karena suara pria itu agak asing, saya bertanya-tanya dalam hati.

“Aku… Catur. Sekarang megang halaman Jambi Barat, Bos…”

Ah ternyata Suhu sendiri -Bos Catur yang santuy-.

Teringat selama bercengkrama di kantor, Catur adalah sosok yang santai. Suaranya yang berat sedikit serak, seringkali menyuarakan ide-ide segar liputan.

Gemblengan kantor lamanya di Palembang yang dibawanya ke kantor Jambi, membuat kami yang junior kala itu, begitu bergembira karena ada wawasan tambahan yang luas.

Meski pindahan dari koran besar di Palembang, Catur jauh dari kata sombong. Ia begitu low profile. Semua sama di matanya. Sama-sama jurnalis yang haus akan informasi.

Pengalaman-pengalaman selama liputan di Palembang, ditularkan oleh Suhu yang Santuy ini dengan royal. Siapapun yang mengajak diskusi, dilayaninya dengan suka cita. Tak ada beban, tak ada jarak senior-junior, yang ada hanya keluarga seperusahaan dan sepenanggungan.

Masalah-masalah di lapangan, dengan cepat direspon olehnya. Dan jika ada pengaduan-pengaduan sumber dari lapangan yang langsung masuk ke dirinya, dikembalikan lagi ke wartawan bersangkutan.

“Kalau sumber putus di kantor, wartawan akan kehilangan wibawa di daerah. Jadi harus dikembalikan ke wartawan sebagai perwakilan manajemen di daerah.” Begitu kata Bos Catur kepada wartawan krunya.

Kerja bersama Catur memang nyaman. Guru sekaligus pemimpin yang mengayomi ini, mampu membuat iklim keredaksian teduh.

Sampai akhirnya ia dipindahtugaskan ke Kabupatrn Merangin.

Di daerah ini, Catur tercatat sebagai salah seorang perintis koran daerah cabang Jambi tempat penulis bernaung. Perjuangan Catur bersama rekan-rekan membuahkan hasil. Koran itu berdiri tegap dan menguasai tiras tertinggi di Merangin.

Catur kemudian dipindahtugas lagi ke Kabupaten Bungo. Walau sebentar, Sang Suhu Santuy ini mampu menorehkan namanya sebagai wartawan gigih di kabupaten itu. Keluwesannya bergaul membuat ia cepat mengembangkan relasi.

Sampai akhirnya ia memilih pensiun dini dan menetap di Kota Bangko Kabupaten Merangin.

Di sini Catur menghabiskan waktunya dengan perjuangan keras melawan sakit diabetes. Dan… kondisinya kian hari kian tak membaik.

Pernah satu malam, bertemu Catur membuat mata berkaca-kaca. Betapa kurusnya badan Suhu Santuy ini, sehingga tak sengaja terlontar keluar.

“Sehat, Bos? Kurus nian sekarang, Bos…”

Ia membisu. Menyambut dengan salaman lesu lalu duduk di samping penulis.

“Jangan ngomong gitu lah Bos. Sedih hati ni kalau kawan ngomong awak kurus…”

Kata-katanya membuat rasa bersalah itu menderu deras.

“Maaf Bos… Cuma perhatian be samo Bos.”

“Yo, dak apo apo Bos. Sehat cam ini inilah…” kata Catur, lalu mengalihkan pembicaraan ke topik lain.

Lalu pertemuan demi pertemuan membuat kami satu arah. Sampai akhirnya, kabar kesehatan Sang Suhu Santuy itu meresahkan jiwa.

“Lagi di rumah lah ni, Bos. Dak pacak begerak, baring-baring bae…” kata Catur, lirih.

Ah, sahabat, abang, guru dan entah apa sebutan hormat untukmu.

Kabar berpulangnya engkau ke yang Maha Suci di Jumat (13/11/2020) ba’da Magrib itu, membuat kesedihan itu membuncah.

Telpon tak putus-putus para sahabat menjadikan kabar duka ini sebagai pesan kesedihan yang berbuhul-buhul.

Lalu semua kenangan itu berloncatan keluar, mengejar bayangmu yang kian redup.

Nova Diansyah (Catur), telah kembali ke pangkuan Allah SWT setelah melawan diabetes yang menyiksa.

Suhu… sekarang kau sudah tak menderita lagi. Beristirahatlah dengan tenang di sana. Selamat istirahat panjang, kawan…

Terima kasih atas semua ilmu dan kenangan ini.

Dari kami yang kehilanganmu… (*)

Biodata Nova Diansyah Wartawan Merangin
Nama : Nova Diansyah
Nama Panggilan : Catur
Usia : 43 tahun
Profesi : Jurnalis
Jejak kejurnalistikan :
– Pernah jadi wartawan Sumatera Ekspres (Sumeks) di Palembang
– Redaktur harian pagi Jambi Independent di Jambi
– Wartawan dan redaktur di Radar Sarko – Merangin
– Wartawan Jambi Independent liputan Bungo
– Owner media online Jejakjambi.com
Almarhum meninggalkan : istri dan 2 anak
Wafat pada : Jumat 13 Oktober 2020 di Merangin
Dimakamkam di : TPU Kamboja, Palembang

Pos terkait