Kesan Nonton Drama Korea The Uncanny Counter: Saat Keadilan, Luka Masa Lalu, dan Aksi Supernatural Bertabrakan

Kesan Nonton Drama Korea The Uncanny Counter: Saat Keadilan, Luka Masa Lalu, dan Aksi Supernatural Bertabrakan
Kesan Nonton Drama Korea The Uncanny Counter: Saat Keadilan, Luka Masa Lalu, dan Aksi Supernatural Bertabrakan.Foto: Jambiseru.com

FILM, Jambiseru.com – Ada drama Korea yang ditonton untuk hiburan ringan.
Ada juga drama Korea yang ditonton, lalu diam sebentar setelah episode berakhir… mikir.

The Uncanny Counter masuk kategori kedua.
Sejak episode pertama, drama ini sudah memberi sinyal bahwa ceritanya tidak akan main-main. Bukan sekadar soal membasmi roh jahat, tapi tentang luka masa lalu, keadilan yang tertunda, dan manusia-manusia biasa yang dipaksa menjadi kuat karena keadaan.

Dan di situlah kekuatan The Uncanny Counter terasa.
Premis Cerita: Pahlawan dari Warung Mie
Konsep dasarnya terdengar unik sekaligus sederhana.

Sekelompok orang biasa bekerja di sebuah warung mie. Tapi di balik itu, mereka adalah Counter — pemburu roh jahat yang melarikan diri dari alam akhirat dan merasuki tubuh manusia.
Mereka bukan superhero dengan kostum keren.

Mereka ibu rumah tangga, pegawai biasa, remaja sekolah yang pincang… orang-orang yang hidupnya sudah cukup berat bahkan sebelum harus menghadapi iblis.

Justru karena itu, ceritanya terasa dekat.
So Mun, tokoh utama, adalah simbol paling kuat dari pesan tersebut. Seorang remaja dengan keterbatasan fisik dan trauma kehilangan orang tua, yang tiba-tiba harus memikul tanggung jawab besar sebagai Counter baru.
Dari sini, drama ini berjalan pelan tapi menghantam.

So Mun: Karakter Utama yang Tumbuh Bersama Penonton

Salah satu kepuasan terbesar saat menonton The Uncanny Counter adalah menyaksikan perkembangan karakter So Mun.
Ia tidak langsung kuat.
Ia ragu. Ia marah. Ia sering kalah.
Dan itu terasa manusiawi.

Kekuatan supernatural yang ia miliki bukan sekadar alat untuk bertarung, tapi sarana untuk menyembuhkan luka batinnya sendiri. Setiap roh jahat yang dihadapi, selalu berkaitan dengan ketidakadilan yang gagal diselesaikan semasa hidup.

Di sinilah drama ini terasa “dewasa”.
Musuh bukan hanya iblis, tapi sistem yang busuk, kekuasaan yang menindas, dan kebenaran yang sengaja dikubur.
Aksi yang Brutal, Tapi Tidak Kosong
Adegan pertarungan di The Uncanny Counter tergolong intens untuk ukuran drama Korea. Koreografi rapi, efek visual solid, dan tensi emosionalnya terasa.

Namun yang membuatnya berbeda:
aksi di sini punya alasan emosional.
Setiap pertarungan selalu membawa cerita.
Tentang korban yang tidak pernah mendapat keadilan.
Tentang keluarga yang ditinggalkan tanpa kebenaran.
Tentang kemarahan yang tumbuh karena negara gagal hadir.

Ini bukan aksi untuk gaya-gayaan.
Ini aksi yang marah… dan sedih… sekaligus.
Tim Counter: Keluarga yang Tidak Sedarah
Selain So Mun, kekuatan utama drama ini adalah dinamika tim Counter itu sendiri.
Ga Mo-tak, petarung dengan masa lalu kelam dan ingatan yang hilang
Do Ha-na, perempuan dingin dengan kemampuan membaca emosi
Chu Mae-ok, sosok ibu yang menyimpan luka paling dalam
Mereka tidak sempurna.
Mereka sering berbeda pendapat.
Tapi mereka saling melindungi.

Hubungan mereka terasa seperti keluarga yang terbentuk bukan karena darah, tapi karena penderitaan yang sama. Dan justru itu yang membuat penonton ikut terikat.

Tema Besar: Keadilan yang Tidak Pernah Datang Tepat Waktu
Jika harus merangkum The Uncanny Counter dalam satu kalimat, mungkin ini:
“Apa jadinya jika keadilan baru datang setelah manusia meninggal?”

Drama ini konsisten mengangkat isu:
Korupsi
Kekerasan kekuasaan
Ketidakadilan hukum
Orang kecil yang selalu kalah

Roh jahat dalam drama ini bukan sekadar makhluk gaib. Mereka adalah representasi dari kejahatan manusia yang tidak pernah dihukum semasa hidup.
Dan para Counter hadir sebagai bentuk “keadilan alternatif”.
Kelam, tapi relevan.

Emosi: Tidak Berisik, Tapi Mengendap

The Uncanny Counter tidak terlalu menjual air mata dengan musik berlebihan. Justru emosinya hadir diam-diam.
Lewat tatapan.
Lewat dialog singkat.
Lewat momen hening setelah pertarungan.

Ada banyak adegan yang tidak langsung membuat menangis, tapi terus teringat setelah episode selesai. Dan itu tanda penulisan cerita yang matang.

Produksi dan Akting: Solid Tanpa Banyak Cela
Secara teknis, drama ini rapi:
Sinematografi gelap tapi jelas
CGI tidak berlebihan
Tempo cerita terjaga

Akting para pemain terasa jujur, terutama pemeran So Mun yang mampu menampilkan transisi dari anak rapuh menjadi sosok yang berani tanpa terasa dipaksakan.
Tidak ada karakter yang terasa mubazir. Semua punya fungsi cerita.

Kekurangan? Tetap Ada

Tentu, drama ini bukan tanpa kekurangan.
Di beberapa episode tengah, ritme cerita sedikit melambat. Beberapa konflik terasa dipanjangkan. Namun, itu tidak sampai merusak keseluruhan pengalaman menonton.
Justru karena fondasi ceritanya kuat, kekurangan tersebut masih bisa dimaklumi.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Drama Supernatural

Kesan nonton The Uncanny Counter bukan tentang puas melihat iblis dikalahkan. Tapi tentang rasa hangat saat melihat orang-orang yang terluka memilih untuk saling menjaga.

Drama ini mengajarkan bahwa:
Kekuatan terbesar bukan otot, tapi empati
Keadilan mungkin terlambat, tapi tidak boleh dilupakan
Orang biasa pun bisa jadi pahlawan, jika mau berdiri untuk yang lemah

Jika kamu mencari drama Korea yang punya aksi, emosi, dan pesan kuat, The Uncanny Counter adalah pilihan yang sangat layak.
Bukan drama yang ditonton lalu dilupakan.
Tapi drama yang diam-diam tinggal di kepala. (gie)

Pos terkait