Angka Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Tahun 2019 Menurun

  • Whatsapp
Kanit PPA Polres Batanghari, Aipda Mustapa Kamal. Foto: Rizki/Jambiseru.com
Kanit PPA Polres Batanghari, Aipda Mustapa Kamal. Foto: Rizki/Jambiseru.com

Angka Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak Tahun 2019 Menurun

JAMBISERU.COM, Muarabulian – Angka tindakan kekesaran terhadap perempuan dan anak yang terjadi di Bumi Serentak Bak Regam selama tahun 2019 mengalami penurunan dari tahun 2018 lalu.

Bacaan Lainnya

BACA JUGAPelaku Begal Sadis Dibekuk Reskrim Polresta Jambi

Berdasarkan data yang didapat di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Batanghari Laporan tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak pada tahun 2018 sebanyak 48 LP dan tahun 2019 sebanyak 30 LP.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kasat Reskrim Polres Batanghari IPTU Orivan Irnanda melalui Kanit PPA Aipda Mustapa Kamal.

“Iya, untuk laporan kekerasan terhadap perempuan dan anak (KDRT dan Pencabulan) angkanya berkurang pada tahun 2019 dibandingkan dengan tahun 2018 lalu sekitar 20 persen,” kata Kanit PPA Polres Batanghari Aipda Mustapa Kamal, Senin (6/1/2020).

Dikatakan Kamal, masih seringnya terjadi tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti faktor ekonomi dan ketidak harmonisan dalam rumah tangga.

“Selain itu faktor KDRT juga disebabkan oleh rasa cemburu terhadap pasangan masing-masing,” ujarnya.

Dilanjutkan Kamal, para pelaku tindakan kekerasan tersebut sudah ada yang dijadikan tersangka oleh pihak Unit PPA Sat Reskrim Polres Batanghari.

“Dari LP yang masuk pada tahun 2018 lalu yang masuk tahap P21 atau berkas dinyatakan lengkap sebanyak 12 LP, penyelesaian secara kekeluargaan sebanyak 30 LP henti lidik karena tidak terbukti sebanyak Empat LP dan lidik sebanyak Dua LP,” terangnya.

Sementara untuk tahun 2019, dilanjutkan Kamal, dari LP yang masuk menjadi tahap P21 atau berkas dinyatakan lengkap sebanyak Tujuh LP, penyelesaian secara kekeluargaan sebanyak 16 LP, proses sidik Satu LP dan Lidik sebanyak Enam LP.

“Selama kita menangani kasus tersebut, tidak ada korban KDRT yang mengalami luka serius, seperti patah dan luka parah lainnya,” sebutnya.

Disebutkan Kamal, untuk penangan trauma yang dialami oleh korban kekerasan pihaknya langsung memanggil ahli fsikologis untuk menangani korban kekersan tersebut.

BACA JUGA : LIPSUS: Harga Rokok Naik, “Ahli Hisap” Sesak Nafas

“Kita bekerja sama dengan pihak Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2KBPPA) Batanghari agar traumanya terhadap perbuatan tersebut berkurang,” pungkasnya.(riz)

Pos terkait