Tak Mau Diminta Berbagi, Kades Sarang Burung Coret BST Warganya

  • Whatsapp
sarang burung
Salah satu warga penerima BST yang dicoret. Foto : Doni/Jambiseru.com

Tak Mau Diminta Berbagi, Kades Sarang Burung Coret BST Warganya

JAMBISERU.COM – Sebanyak 4 warga Desa Sarang Burung, Kecamatan Jaluko, Muaro Jambi kecewa dengan ulah kadesnya sendiri. Mereka kecewa lantaran nama mereka dicoret sebagai penerima Bantuan Sosial Tunai (BST) program JPS.

Bacaan Lainnya

BST program JPS yang diterima saat ini telah cair sejak Senin (24/8/2020) lalu. Bantuan itu merupakan bantuan tahap 4 dan 5. Pada bulan ini, di Desa Sarang Burung 80 orang yang mendapatkan bantuan tersebut. Termasuklah nama empat warga itu, yakni, Azhari, Andre, Supriadi dan Sawaludin.

Baca JugaMundur dari PDIP, Abdullah Sani Disambut Pekikan Takbir Pendukungnya

Pada tahap 1 sampai 3, empat warga itu menerima dengan baik. Namun, pada tahap 4 dan 5 mereka justru tidak mendapatkan bantuan itu lagi. Setelah ditelusuri, ternyata nama mereka telah dicoret dari daftar penerima.

Menurut salah satu penerima yang namanya dicoret, aksi pencoretan nama ini terjadi, setelah mereka menyatakan tidak mau mengikuti permintaan sang kades. Sebab Kades meminta dana bantuan mereka, agar dibagi dua dengan pemerintah desa setempat.

“Dana bantuan yang mau kita terima ini sebesar Rp 600 ribu rupiah. Jadi kades itu buat surat pernyataan kalau setelah dana itu cair, kita harus bagi dua dengan pemerintah desa. Katanya, dana itu untuk warga yang tidak dapat. Nah, saya dan tiga warga lainnya tidak mau kalau dibagi dua. Karena itu nama kami dibatalkan. Sampai sekarang tidak bisa kami ambil di Pos,” kata Azhari (42), penerima bantuan yang namanya dicoret kades, Jumat (28/8/2020).

Ditambahkan Azhari, tak hanya masalah dana bantuan itu saja yang diminta untuk dibagi dua. Tetapi kades juga menyampaikan kalau ia telah double mendapatkan bantuan.

“Sebelumnya BLT Dana Desa saya juga dapat. Tapi cuma sebanyak dua kali. Terus sudah lama ini nama saya dicoret. Karena saya juga dapat bantuan dari pusat ini. Nah, sekarang, yang pusat dicoret, yang BLT Dana Desa juga dicoret. Jadi habislah bantuan kami. Padahal, kami sangat membutuhkan dana itu untuk kebutuhan sehari-hari,” ucap bapak dua anak itu.

Hal senada juga disampaikan Dahlia (40), yang merupakan isteri Andre. Ia mengatakan, pembatalan bantuan yang diterimanya itu lantaran tidak mau mengikuti kemauan dari kades itu.

“Saya tidak maulah uang bantuan itu dibagi dua. Sedangkan bantuan yang saya dapat hanya tinggal BST dari pusat itulah. Sedangkan yang BLT DD sudah dicoret sama kades. Saya sangat butuh uang itu, karena saya sekarang sendiri untuk menghidupi kehidupan di rumah,” sebut Dahlian, ibu dua anak itu kepada Biru (Jambiseru.com).

Kemudian, Supriadi (43) seorang tani yang juga korban pembatalan bantuan dari kades itu menyebutkan bahwa, pemberitahuan dana itu cair saja, diberi tahu secara mendadak. Kata dia, mengetahui itu lantaran Azhari pergi ke kantor desa untuk membuat surat keterangan untuk berobat.

“Padahal hari Senin tanggal 24 Agustus 2020 sudah bisa dicairkan. Tapi kami empat orang ini tahunya di hari Selasa 25 Agustus 2020 pagi. Dari situ sudah terlihat kami diasingkan. Padahalkan itu hak kami. Karena tidak mau uang itu dibagi dua, ya nama kami dibatalkan sama kades,” tuturnya.

Menanggapi hal itu, Kepala Desa Sarang Burung, Badrun membenarkan bahwa ia telah membuat surat pengajuan pembatalan untuk 5 warganya yang menerima bantuan BST itu. Di dalam surat itu, terdapat 5 warga yang namanya akan dibatalkan untuk mendapatkan bantuan tersebut.

“Iya, jadi satu warga itu yang bernama Sabani tidak sesuai NIK KTPnya dengan nama Sabani di desa ini. Jadi itu salah. Kalau empat orang itu, mereka sebelumnya mereka sudah pernah dapat BLT Dana Desa sebanyak dua tahap, lalu bantuan BST tahap 1 sampai 3. Jadi itu yang bantuan BST tahap 4 dan 5 ini kita usulkan untuk dibagi dua. Cairnya kan Rp 600 ribu, nah Rp 300 ribu mereka, Rp 300 ribu lagi untuk warga yang sama sekali belum mendapatkan,” kata Badrun ditemui Biru (Jambiseru.com), Jumat (28/8/2020).

Badrun menjelaskan, pembatalan untuk empat orang itu bisa saja tidak dilakukan olehnya. Namun, mereka bersedia tidak untuk membagi dua atau mengembalikan bantuan BLT Dana Desa yang dua tahap mereka dapatkan itu.

“Kalau kita minta yang bantuan BLT Dana Desa itu kan tidak mungkin. Kita tahu kondisi mereka. Jadi kita sarankan lah untuk dibagi dua saja pencairan BST tahap 4 dan 5 ini. Uang itulah untuk warga yang belum dapat,” sebutnya.

Baca JugaKebakaran Gedung Kejagung, Ini Hasil Pemeriksaan CCTV

Badrun mengakui, dari 80 penerima ini sebenarnya tidak sesuai dengan data awal. Pada tahap 1 dan 3, di Desa Sarang Burung ada sebanyak 90 orang yang menerima bantuan BST.

“Ini pencairan tahap 4 dan 5 saja kurang 10 orang. Dari 80 orang ini, hanya 74 yang sudah cair. Sisanya 5 orang dibatalkan. Dan 1 orang lagi uang itu telah dialihkan ke orang lain. Karena 1 orang itu merupakan keluarga PKH. Tapi dia pada tahap 1 dan 3 menerima,” pungkasnya.(uda)

Pos terkait